(1)
Kekasih hati, memasuki jutaan detik ke depan,
semoga kebersamaan kita melulu cair; tak pernah beku dan kering. Sebab, dalam
bangunan kasih, kebekuan adalah lubang hitam kecemasan, oase kekuatiran, dan
kubang kehampaan. Aku tak mau berdiri sunyi menatapnya. Apalagi menikmati dan
menyaksikan ledakannya.
Penggerak Turbin Kehidupan
I-ya,
kekasih hati. Aku ingin segala sesuatunya menjadi cair. Sebab, gemercik air tak
pernah menenteng tubir kematian jiwa dan kelemahan hati, melainkan penggerak
turbin kehidupan. Jadi, mari duduk bersama mereguknya, dalam suka maupun duka.
(2)
I-ya, iya, kekasih hati. Engkau dan aku adalah
buku terbuka yang telah usai kita baca. Berlapis-lapis pintu hatiku telah kau
masuki, dan berlaci-laci hatimu telah kubuka. Esok dan lusa adalah pekerjaan
kita bersama. Kita tinggal merapatkan barisan, bersatu menyongsong badai dan
menaklukkan gemuruh ombak kehidupan. Bukankah hidup bukan melulu petikan gitar
keriangan?
Bahtera Impian Abadi
I-ya,
kekasih hati. Selagi sebiduk, nikmatilah kesiur angin senja dan kecipak hatiku
yang membara. Bila hatimu juga membara, mari terbakar bersama. Tapi, sebelum
jadi arang dan abu, jangan lupa meloncat keluar dari perut perahu, biar kita
sama-sama basah dan terbahak dipermainkan air. Bukankah air adalah sahabat
abadi kehidupan?
(3)
A-ha (!), memang. Bahtera kasih kita kian melaju.
Tengadahlah sejenak ke atas. Kerlip cahaya di langit bukanlah fatamorgana.
Bukan bulan bukan pula matahari. Itu adalah bintang.
Iya, kekasih. Impianku tidak kugantungkan pada
matahari. Itu terlalu akbar. Juga tidak kusembunyikan di bulan. Itu terlalu
sentimental. Impianku justru kuapungkan di permukaan bintang Mira Ceti. Kecil
memang, tapi berkilau indah.
Bintang Mira Ceti
O-iya,
gantungkan pula obsesimu di antara bintang gemintang. Jangan pertaruhkan pada
bintang Nova dan Supernova. Dua gugusan bintang ini laksana barang pecah belah.
Mudah retak dan berdentum. Pilihlah bintang yang pijarnya tak pernah padam.
Manakala bahtera bergerak, engkau tak akan kehilangan arah dan jejak.
(4)
Ah, kekasih. Ayo, maju selangkah lebih ke depan.
Petik dan kunyahlah buah “Monte Cristo”-nya Alaxandre Dumas. Engkau akan fasih
memaknai arti kejujuran dan kelembutan, kesetiaan dan ketulusan, kecemburuan
dan kedengkian, kemunafikan dan keserakahan, cinta abadi dan balas dendam. Sari
buah “Monte Cristo” akan membawamu ke alam dunia lain. Engkau tidak akan takut
menelan kegetiran hidup dan duri durian.
Sang Dadu
(5)
Wahai, kekasih hati. Seperti engkau, aku pun
pernah menghitung nestapa demi nestapa. Ujung pembagian, pengurangan, dan
perkaliannya adalah: kembali ke titik nadir. Laksana main monopoli, kadang
membayar, dibayar, atau kehabisan nafas. Tapi harapan selalu melintas di kepala
tatkala Sang Dadu mengajak kembali ke titik start. Tidak seperti main ular
tangga. Harapan memang ada, tapi acap tersungkur ditelan ular beludak.
(6)
Iya, kekasih hati. Kini kita tengah main catur.
Engkau pegang buah putih, aku memainkan buah hitam. Putih dan hitam memang
berbeda. Itu hukum alam! Kita tidak dapat sama-sama memilih buah putih atau
sama-sama hitam. Itu namanya bukan main catur. Boleh jadi main kelereng (?).
Skak Mat
Oke, mari kita main. Terserah, engkau boleh pegang
putih atau pilih hitam. Bagiku, putih atau hitam bukan soal. Siapa kalah siapa
menang juga bukan problem. Siapa tahu berakhir remis (?). Justru,
kenikmatannya, bagaimana engkau dan aku bermain cantik. Bukankah hidup sebuah
permainan indah?
Memang, pada detik
kesekian, bisa saja aku berada pada posisi skak mat atau sebaliknya. Tapi itu
‘kan biasa. Kita ‘kan masih punya tabung energi dan atmosfer untuk memainkan
partai berikut.
(7)
I-ya, kekasih hati,… Kita tak lagi bersiap-siap
main catur. Kita justru tengah memeras keringat dan otak di atas papan catur
kehidupan.
Lonceng Waktu Surga
A-ha
(!): engkau melontarkan langkah. Aku juga. Jangan lengah, tengoklah jarum jam,
siapa tahu engkau dan aku tumbang disapu lonceng waktu. Bukankah waktu adalah
puncak misteri asa?
Yulius La Dossa
Jakarta, 17 September 2002