Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Rabu, 31 Agustus 2011

PERANG SASTRA DALAM DUNIA KONTEMPORER


Posted by PuJa on January 1, 2009
Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Sebuah Amunisi
Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Dewasa ini peranserta komunitas dalam kesusastraan sangat mendominasi. Dapat dikatakan komunitas merupakan sentral dari sastra. Komunitas adalah nyawanya. Konotasi nyawa berorientasi pada penyambung hidup. Jadi kehidupan kesusastraan di negeri ini akibat adanya peranserta komunitas-komunitas yang ada.

Mereka yang tergabung dalam komunitas sastra adalah orang-orang yang memiliki rasa senasib dan seperjuangan dalam membumisasikan serta menumbuhkembangkan kesusastraan yang ada. Ini adalah tujuan mereka. Tentunya dalam mencapai tujuan itu, mereka memiliki upaya-upaya tersendiri. Sehingga, komunitas sastra bukan sekadar label semata, namun yang menjadi prioritas utamanya adalah eksistensi dalam berkarya. Komunitas sastra tidak hanya tempat pecandu kopi ngumpul tanpa makna, tapi juga wahana pengkajian karya.

Proses pembumisasian sastra dapat dilakukan dengan jalan memasyarakatkan sastra pada masyarakat. Inilah yang seharusnya digarap oleh sebuah komunitas sastra. Perioritas utamanya adalah masyarakat mampu menghargai keberadaan karya sastra dalam lingkungannya. Bentuk penghargaan tersebut dapat berupa ketertarikan diri dalam membaca karya sastra. Masyarakat menjadi gandrung dan mengakrabi karya sastra. Istilahnya budaya membaca sastra dalam masyarakat.

Jika karya sastra telah memasyarakat, maka regenerasipun sangat mudah dilakukan. Sebab lahirnya seorang sastrawan kebanyakan bermula dari kegandrungannya dalam membaca karya sastra. Setelah itu baru tertarik untuk berproses kreatif sendiri. Dan dengan lahirnya sastrawan baru, maka khasanah kesusastraan semakin meningkat. Hal itu disebabkan oleh privasi individu yang berbeda-beda. Perbedaan itu akan menghasilkan satu bentuk karya sastra yang berbeda pula. Baik secara konsep, style, dan karakter yang dihasilkannya.

KIPRAH KSI DALAM RELASI KEKELUARGAAN

Iwan Gunadi*
*Pemerhati Komunitas Sastra di Indonesia
Mulanya adalah rencana penerbitan buku puisi para penyair yang tinggal di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek)—buku ini kemudian diterbitkan Roda-Roda Budaya, Tangerang, Jawa Barat[1], dengan tajuk Kumpulan Puisi Trotoar. Di sela-sela persiapan penerbitan buku tersebut dan peluncurannya pada 26 Oktober 1996 di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, yang kemudian menjadi ajang pertemuan puluhan penyair Jabotabek, muncul keinginan membentuk organisasi sastrawan yang tinggal di wilayah tersebut. Dengan difasilitasi Roda-Roda Budaya dan Ina Mentari Anugrah Promindo, dirancanglah sebuah pertemuan di rumah Azwina Aziz Miraza, pemilik dan pemimpin Ina Mentari Anugrah Promindo, di Ciputat, Tangerang, Jawa Barat, untuk mewujudkan keinginan itu.
Minggu siang hingga sore, sekitar awal Agustus 1996, puluhan orang, mulai dari sastrawan, pemerhati dan peminat sastra, guru, wartawan, pengamen, hingga buruh pabrik, berkumpul di sana. Ada Agusta Karyanto, Asa Jatmiko, Asmian, Ayid Suyitno PS, Azwina Aziz Miraza, Diah  Hadaning, Dingu Rilesta, Endang Supriadi, Entis Sutisna, Hasan Bisri BFC, Hendry Ch. Bangun, Iwan Gunadi, Kardi Syaid, Kennedi Nurhan, Medy Loekito, Nanang R. Supriyatin, Nurjana Sutarji, Shobir Poerwanto, Slamet Rahardjo Rais, Sumar, Toto D. Asmoyo, Widodo Arumdono, Wig SM, Wowok Hesti Prabowo, dan lain-lain[2]. Walau tidak bulat, pertemuan tersebut menyepakati rencana pembentukan organisasi yang menghimpun sastrawan di Jabotabek.

Selasa, 30 Agustus 2011

Mencari Ilahi Lewat Puisi


Judul Buku: Tuhan Adalah Perkara (Antologi Puisi)
Penulis      : Yulius La Dossa
Penerbit    : CV. Bina Niaga Jaya-ALINEA (Bengkel Penulis Fiksi & Nonfiksi), Tangerang
Cetakan    : Cetakan Pertama, Maret 2006

 
Tuhan,
Tuhan memang keterlaluan. Terlalu misterius.
Tuhan adalah persoalan yang dipersoalkan sebagai soal yang mempersoalkan (?)
Tuhanmu.
Tuhanku.
Tuhanku juga.


Semuanya bebas datang dan pergi dalam sastra. Semuanya bebas bercerita mengungkapkan segala rasa, apa pun media dan sarananya. Begitu pula dalam sastra.

Sepenggal puisi di atas juga salah satu ungkapan rasa dan ekspresi jiwa atas pencarian sang penyair akan sosok Tuhan yang dirindukan. Dan ekspresi itu terungkap dalam kumpulan puisi (antologi) “Tuhan Adalah Perkara” oleh Yulius La Dossa, penyair kelahiran Sumatera Utara yang juga seorang wartawan. Sebuah antologi karya sastra puisi ini mengalir mengikuti perjalanan hidup dan pengalaman spiritual penulis dalam mencari jalan illahi seperti yang diungkapkan dalam pengantarnya. Hasrat membukukannya timbul tatkala penulis mengalami pergumulan, rindu menggapai belas kasih Sang Khalik.
Berbicara puisi, penikmat puisi asal Madura, D.Zamawi Imron, mengungkapkan bahwa puisi adalah bentuk pengalaman atau sejarah yang dibahasakan. Setiap orang akan mengalami hal itu.
Memang benar. Apa pun bentuk pergolakan-pergolakan dalam jiwa, ada hal yang sangat perlu dihargai dengan penuh apresiasi. Karena itu merupakan bagian dari pengalaman dan perjalanan hidup. Dan semua orang memiliki bagian-bagian tersebut, termasuk Yulius La Dossa.
Tapi terlepas dari apa makna di balik pengalaman hidupnya, partisipasi karyanya dalam dunia sastra tak diragukan. Penulis yang berlatar belakang seorang wartawan ini setidaknya sudah melengkapi warna-warna sastra puisi yang telah dahulu lahir. Sekalipun tidak baru. Ratusan bahkan ribuan karya-karya puisi yang telah dipublikasikan. Entah dalam berbagai media ataupun dalam bentuk buku. Karya Yulius La Dossa ini bisa dibilang generasi-generasi Chairil Anwar yang lahir kembali. Semuanya tampak alami tanpa meninggalkan jejak kepuitisan yang multi tafsir bagi semua penikmat atau pembaca.

MEMPELAI PRIA


Kekasihku, cintaku, jantung hatiku
Aku kangen menatap pipi molekmu
Engkau cantik jelita
Lehermu indah berkalung permata
Rambutmu bak kawanan domba menuruni lembah
Bibirmu menyala bagaikan seutas pita merah
Pipimu serupa belahan buah delima
Buah dadamu laksana dua anak rusa

O dindaku
Gerik mata merpatimu yang tersembunyi di balik cadar menawan hatiku
Sungguh elok mulutmu
Kata-katamu serasa susu semanis madu

O merpatiku, menari di celah-celah batu
Datanglah manisku, marilah jelitaku!
Lihatlah, aku diterjang badai rindu
Biarlah aku melihat wajahmu, mendengar suaramu

Laksana bunga bakung di tengah semak berduri
Demikian kekasihku di antara para putri
Ia adalah kebun bertembok, mata air terkunci rapat
Di sana tumbuh pohon-pohon delima, buah-buah paling lezat
bunga pacar dan narwatsu
mur dan gaharu

Aku datang ke kebunku
Kukumpulkan mur dan rempah-rempah
Kumakan sarang lebah
Kuminum susu, madu, dan air anggurku

O dinda yang anggun
Bukalah pintu
Kepalaku basah bertabur embun
Aku merindukan cintamu
Lengkung pahamu laksana perhiasan berwarna pualam
Pusarmu bagaikan timbunan gandum
Lehermu seperti menara gading
Buah dadamu bak kijang kembar dua merumput di antara bunga bakung
Engkau sungguh cantik jelita, yang tercinta di antara yang kusuka
Tubuhmu seanggun pohon kurma dan buah dadamu gugusan buahnya
Ingin aku memanjat pohon kurma itu dan memperoleh buah-buahnya

O dinda, nafasmu harum
Mulutmu semanis air anggur!
Ingin aku pergi ke gunung mur,
hingga angin pagi berhembus melenyapkan malam

O kekasihku yang menawan
Engkau adalah buah hatiku
Aku tidak membeli cintamu
Aku setia menanti di peraduan

Gubahan: Yulius La Dossa
24 Juli 2011

MEMPELAI PEREMPUAN



Lihatlah, ia datang
berdiri di balik dinding
Kutinggalkan kebun anggurku
Ia bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku
Sakit asmara aku
Lengan kirinya di bawah kepalaku
Tangan kanannya memeluk aku

Kekasihku kepunyaanku
Aku kepunyaan dia

Musim dingin telah lewat, hujan sudah usai
Malam hari di atas ranjangku
Kucari jantung hatiku
Ah, tak kutemui
Aku bangun berkeliling kota
Kutanyai peronda-peronda: “Apakah kamu melihat jantung hatiku?”
Sebelum meninggalkan mereka, kutemukan dia
Kupegang dan tak kulepaskan lagi
Kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkanku

Aku tidur tetapi hatiku bangun
Kekasihku mengetuk
“Bukalah pintu, dindaku, kepalaku penuh embum malam!”
Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi?
Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannya pula?
Terlihat tangannya masuk melalui lobang pintu
Aku bangkit
Kakiku gemetar
Hatiku berdebar-debar
Jemariku berkeringat, menetes di kancing pintu
Kubuka pintu
Oh,… dia telah pergi
Serasa pingsan aku ketika ia menghilang
Kucari, tak kutemui
Kupanggil, tak ada sahutan
Kutemui peronda-peronda: bila menemukan kekasihku, katakanlah, sakit asmara aku! 

Gubahan: Yulius La Dossa
19 Juli 2011

Senin, 29 Agustus 2011

GADIS SULAM



Kulitku hitam terbakar terik matahari
pekat serupa kemah-kemah Kedar
Aku tertindas sebagai penjaga kebun-kebun anggur
hingga tak ada waktu mengurus diri sendiri

Sekalipun hitam, hatiku tak kalah indah dibanding tira-tirai istana
Aku kebun tertutup, sebuah tembok, dan buah dadaku menaranya
Kekasihku, aku bukan cemburu
Aku jantung hatimu, jangan peluk siapa pun selain aku

Kekasihku tahu bahwa cinta sekuat maut
Hawa nafsu berkuasa laksana kematian
Nyala apinya berkobar dahsyat
Membeli cinta pasti menuai penghinaan

Air bah tak mampu memadamkan cinta
Banjir tak dapat menghanyutkan asmara
Kekasihku tahu bersama dia aku bahagia
Dia tahu mata indahku bukan mata penggoda

Gubahan: Yulius La Dossa
23 Juli 2011

Jumat, 26 Agustus 2011

KASIH DAN ASA

(1)
Kekasih hati, memasuki jutaan detik ke depan, semoga kebersamaan kita melulu cair; tak pernah beku dan kering. Sebab, dalam bangunan kasih, kebekuan adalah lubang hitam kecemasan, oase kekuatiran, dan kubang kehampaan. Aku tak mau berdiri sunyi menatapnya. Apalagi menikmati dan menyaksikan ledakannya. 


Penggerak Turbin Kehidupan 

I-ya, kekasih hati. Aku ingin segala sesuatunya menjadi cair. Sebab, gemercik air tak pernah menenteng tubir kematian jiwa dan kelemahan hati, melainkan penggerak turbin kehidupan. Jadi, mari duduk bersama mereguknya, dalam suka maupun duka.

(2)
I-ya, iya, kekasih hati. Engkau dan aku adalah buku terbuka yang telah usai kita baca. Berlapis-lapis pintu hatiku telah kau masuki, dan berlaci-laci hatimu telah kubuka. Esok dan lusa adalah pekerjaan kita bersama. Kita tinggal merapatkan barisan, bersatu menyongsong badai dan menaklukkan gemuruh ombak kehidupan. Bukankah hidup bukan melulu petikan gitar keriangan?


Bahtera Impian Abadi
I-ya, kekasih hati. Selagi sebiduk, nikmatilah kesiur angin senja dan kecipak hatiku yang membara. Bila hatimu juga membara, mari terbakar bersama. Tapi, sebelum jadi arang dan abu, jangan lupa meloncat keluar dari perut perahu, biar kita sama-sama basah dan terbahak dipermainkan air. Bukankah air adalah sahabat abadi kehidupan?

(3)
A-ha (!), memang. Bahtera kasih kita kian melaju. Tengadahlah sejenak ke atas. Kerlip cahaya di langit bukanlah fatamorgana. Bukan bulan bukan pula matahari. Itu adalah bintang.
Iya, kekasih. Impianku tidak kugantungkan pada matahari. Itu terlalu akbar. Juga tidak kusembunyikan di bulan. Itu terlalu sentimental. Impianku justru kuapungkan di permukaan bintang Mira Ceti. Kecil memang, tapi berkilau indah.


Bintang Mira Ceti

O-iya, gantungkan pula obsesimu di antara bintang gemintang. Jangan pertaruhkan pada bintang Nova dan Supernova. Dua gugusan bintang ini laksana barang pecah belah. Mudah retak dan berdentum. Pilihlah bintang yang pijarnya tak pernah padam. Manakala bahtera bergerak, engkau tak akan kehilangan arah dan jejak.

(4)
Ah, kekasih. Ayo, maju selangkah lebih ke depan. Petik dan kunyahlah buah “Monte Cristo”-nya Alaxandre Dumas. Engkau akan fasih memaknai arti kejujuran dan kelembutan, kesetiaan dan ketulusan, kecemburuan dan kedengkian, kemunafikan dan keserakahan, cinta abadi dan balas dendam. Sari buah “Monte Cristo” akan membawamu ke alam dunia lain. Engkau tidak akan takut menelan kegetiran hidup dan duri durian.

Sang Dadu
(5)
Wahai, kekasih hati. Seperti engkau, aku pun pernah menghitung nestapa demi nestapa. Ujung pembagian, pengurangan, dan perkaliannya adalah: kembali ke titik nadir. Laksana main monopoli, kadang membayar, dibayar, atau kehabisan nafas. Tapi harapan selalu melintas di kepala tatkala Sang Dadu mengajak kembali ke titik start. Tidak seperti main ular tangga. Harapan memang ada, tapi acap tersungkur ditelan ular beludak.

(6)
Iya, kekasih hati. Kini kita tengah main catur. Engkau pegang buah putih, aku memainkan buah hitam. Putih dan hitam memang berbeda. Itu hukum alam! Kita tidak dapat sama-sama memilih buah putih atau sama-sama hitam. Itu namanya bukan main catur. Boleh jadi main kelereng (?).

Skak Mat

Oke, mari kita main. Terserah, engkau boleh pegang putih atau pilih hitam. Bagiku, putih atau hitam bukan soal. Siapa kalah siapa menang juga bukan problem. Siapa tahu berakhir remis (?). Justru, kenikmatannya, bagaimana engkau dan aku bermain cantik. Bukankah hidup sebuah permainan indah?
Memang, pada detik kesekian, bisa saja aku berada pada posisi skak mat atau sebaliknya. Tapi itu ‘kan biasa. Kita ‘kan masih punya tabung energi dan atmosfer untuk memainkan partai berikut.

(7)
I-ya, kekasih hati,… Kita tak lagi bersiap-siap main catur. Kita justru tengah memeras keringat dan otak di atas papan catur kehidupan.


Lonceng Waktu Surga
A-ha (!): engkau melontarkan langkah. Aku juga. Jangan lengah, tengoklah jarum jam, siapa tahu engkau dan aku tumbang disapu lonceng waktu. Bukankah waktu adalah puncak misteri asa?


Yulius La Dossa
Jakarta, 17 September 2002