ALONE
Sunyi
Hampa
Putus asa dan air mata
Kembara berseru: Inikah yang engkau
cari?
Yulius
La Dossa
--19/07/2011--
JANGAN BUNUH IMPIANMU SEBELUM MENATAP MATAKU
Ketika aku berlalu
Aku melihat luka di matamu
Makin jauh aku berjalan
Dukamu kian berlompatan
Jangan sedih matahari bumi
Besok kita tertawa lagi
Hujan bakal turun
Jangan bunuh impianmu
Tatap mataku
Ah, sebelum engkau memandangku
irama hujan mengalun
Yulius La Dossa
--28/06/2011--
HITAM
PUTIH
Aku adalah penulis kehidupanku
Hari ini kuberi tinta putih
Kemarin abu-abu
Kemarin lalu hitam
Besok?
Maunya kuberi warna pelangi
“Jangan lupa kembalikan, pulpennya
punya Tuhan,” katamu
“Tidak! Tidak akan kukembalikan,”
kataku
Biar Dia sendiri yang mengambilnya
Aku selalu siap kapan pun hendak Dia
ambil
Ketika cahaya esok tiba
Aku berbincang-bincang bersama hati
dan pikiranku
Mereka kompak berkata: "Jangan
pergi!"
Aku mengangguk sepakat
Urung melakukan sebuah pengembaraan
jauh ke negeri asing
Melupakan perjalanan hitam putih
Aku adalah penulis kehidupanku
Dan aku adalah pembaca setianya
Yulius La Dossa
--13/06/2011--
WAKTU
Ada saatnya jalan bersama-sama
sendiri-sendiri
dan sendirian
Ada kalanya menangis bersama-sama
sendiri-sendiri
dan sendirian
Ada waktunya tertawa bersama-sama
sendiri-sendiri
dan sendirian
Yulius La Dossa
--11/06/2011--
TELEDOR
Tele
Dor
Teledor
Jangan teledor
Dor
“Pelurunya menembus jantung hati,”
katamu
Yulius La Dossa
--07/06/2011--
LETUSAN
HATI
tujuh mil sebelum mendekat
balon itu meledak di tempat
suaranya nyaring bikin tuli telinga
orang-orang melempar tanya
siapa yang terhempas
apa yang terkelupas
apakah aku harus berkata jujur,
kataku
ongkos berbohong itu mahal, tukasmu
o, biarkan aku melangkah
sayapku sudah sembuh
Yulius La Dossa
--06/06/2011--
MAUT
aku diterjang takut
tinggal satu kata di mulut
harap demi harap merapat
sebentar lagi terlipat
aku terjepit
tak ada limit
mauku mengucap pamit
satu tarikan nafas pun tak sempat
keburu dicuri sang malaikat
jiwaku berdebar-debar mencari pintu
selamat
Yulius La Dossa
--12/04/2011--
DAMAI
kepada: ABB dan SBY
bagaimana kita dapat bicara
perdamaian
bila engkau pegang pedang
aku tangan kosong
dan ilalang tanpa lengan
engkau tersenyum. "Dapat!"
katamu
aku menghujam. "Tidak!"
kataku
ilalang terpejam. "Mataku
buta," ucapnya geram
engkau menekan: Bom!
aku pegang pedang
tanganmu kosong
dia tanpa lengan
“Damai dan perang, itu pilihan kalian.”
Yulius La Dossa
--28/04/2011--
PERTAPA
sejauh mata menembus jendela
dia lalu lalang di tengah kota
aku kenal jejak mereka
biarawati merayu lewat doa
mucikari memikul derita
bidadari berhati iblis membawa dupa
orang menyebutku pelaut
di pagi berkabut
tergolek gadis molek tanpa selimut
di siang penat
duit janda menggoda perut
di malam pekat
anak muda tiba menenteng madat
aku tetap ingat langit
aku masih berdiri di balik kaca
memandang jalan raya penuh duka
sebuah peluru menembus kepala
ceceran darah merembes di mata
di ujung maut
terdengar pintu berderit
bunda menjerit
melepas kepergianku yang mati sekarat
Tuhan pencipta alam semesta
pemilik muka bumi dan sorga
cukup satu pertanyaan saja
kenapa juga aku masuk neraka
Yulius La Dossa
--10/04/2011--
DEBT
COLLECTOR
aku bidadari terakhirmu
di pangkuanmu
mati ragu-ragu
lalu berlalu di musim kemarau
Tuhanku
Inilah aku
Masih terbalut jaket kelabu
"Di blok mana surgaku?"
Yulius La Dossa
--09/04/2011--
PESTA
DUKA
api mencubit kamar
bunda berpulang
kasur terbakar
ayah menghilang
hatiku dilumat bimbang
kuserahkan cemasku di dada bidang
ai, ai, ai,... bahtera kehilangan
tempat bersandar
lelakiku berteriak dungu: enyahlah
perempuan lacur
aku tersenyum liar
bermain lotere di pundak selingkuhan
handuk putih kulempar
madu dan mata indah kupertaruhkan
jiwaku bersenandung
dua malam bibirku ditelan
mulutku tertawa sinting
subuh ketiga hatiku dicampakkan
Oh, Tuhan...
Inilah hamba-Mu yang tidak berguna
Yulius La Dossa
--07/04/2011--
KATA
kau bawa serenceng kata
kata manis kata pahit
kau ambil kata manis
aku telan kata pahit
"Puas!" kataku
"Tidak!" katamu
kau sambar garpu
kau sorong kata basi ke mulutku
"Puas!" katamu
Aku terhempas
kata-katamu membunuhku
Yulius
La Dossa
--26/03/2011--
ALHAMDULILLAH
kepada: Fanny Putri & Shendy
Adam
Waktu engkau bilang suka
Tanganku tak kau lepas
Hatiku malah kau ikat
Kau bawa aku naik bahtera
Wahai,
Nakhodaku
Imamku
Kita duduk di alip pernikahan
Mataku basah
Menangis haru mengucap syukur
Yulius La Dossa
--10/11/2010--
MERAH PUTIH
Engkau
merah
Dia
merah
Bagaimana
aku bilang kita merdeka?
Engkau
putih
Aku
putih
Bagaimana
dia bilang kita merdeka?
Engkau
merah putih
Dia
merah putih
Aku
merah putih
Bagaimana
mereka bilang kita merdeka?
Bila
engkau melangkah tanpa tujuan
Aku
kelaparan tanpa cinta
Dia
terjebak di jalan buntu!
Yulius
La Dossa
--Tangerang,
24/08/2009--
SITU
GINTUNG
Aku penganut hukum alam
menguap bila matahari bolong
meluap bila hujan runtuh
Yulius La Dossa
--Jakarta, 30/04/2009--
Hari
H Jam D
Evolusi setangkai bunga lily
Yulius La Dossa
--Jakarta, 23/03/2009--
KAMPANYE
KALAMENDU
Daulat rakyat, katamu
Bulan itu pun bulanmu
Matahariku mataharimu
Catatlah keluarga dan puisiku
Aku bukan batu, kataku
Aku melihat mata hantu di matamu
Yulius La Dossa
--Jakarta, 22/03/2009--
REPUBLIK
KALATIDA
Notono sudah
Goro-goro belum
Ke mana para penjaga daulat rakyat
pergi?
Ramai-ramai belanja mandat
Engkau di mana?
Berlomba memanjat daulat tuanku
Ulama butuh kursi
Umaroh apalagi
Ibu,
Inilah anakmu
Aparat sekarat
Ada ode merah-putih terjepit
Yulius La Dossa
--Jakarta, 13/03/2009--
HUJAN
Aku paling suka nonton hujan
Lewat hujan, Tuhan menyediakan
informasi terkini
Bila hujan lebat dan rumahku
kebanjiran,
itu artinya Tuhan sedang memberiku
petunjuk langsung:
“Di situ ada yang salah, ada yang
menghambat air mengalir.
Jangan salahkan siapa-siapa bila
kampungmu tenggelam.”
Setiap hujan mataku berbinar
Lewat hujan, Tuhan banyak berbicara
kepadaku
Bila hujan runtuh disertai petir
hingga pohon bertumbangan,
itu artinya Tuhan sedang menyampaikan
kabar indah:
"Kamu jangan sombong.
Pohon sebesar dan akar sekuat itu dapat
tumbang. Apalagi kamu?”
Aku suka hujan
Bila dia turun
Itu artinya Tuhan sedang melawatku
Yulius
La Dossa
--Tangerang,
09/03/2009--
SANG
BUDHA
Ketika cinta berselimut dusta,
ketika kasih berlumur duka,
ke manakah hati ini harus berpaling?
“Pergilah ke seluruh dunia,
kabarkanlah ke segala makhluk bahwa
engkau tidak menjual sepotong
hatimu.”
Ketika kejujuran dituding khianat,
ketika loyalitas dibilang penjilat,
apakah aku harus diam?
“Pergilan mencari dermaga lain,
tempatmu berpijak telah kehabisan
cinta kasih.”
Aku selalu berharap
lelaki di seberang sana mengatakan
bahwa aku adalah bunga tercantik di
planet bumi ini.
Akankah impianku menjadi kenyataan?
“Impian purbamu telah mati sejak
dini,
tersalib sia-sia lantaran engkau
benci melihat matahari
dan selalu bersembunyi di balik
bayang-bayang malam.”
Bila kekasih menebar kedengkian
dan membiarkan fitnah berserakan,
mengapa kekejian semacam ini
dikumandangkan?
“Kebencian pasti tumbuh ketika hati
terjilat api cemburu.”
Bila badai nestapa berhembus,
dengan apakah ia dihadang?
“Kunci mulutmu, hentikan langkahmu.
Bila engkau tetap melenggang dengan
pikiran kotor,
nestapa akan menghantui
bagaikan roda pedati mengikuti
langkah lembu yang menariknya.”
Bila lonceng kebencian berdentang,
dengan apakah ia ditentang?
“Jangan membalas kebencian dengan
kebencian.
Kebencian pasti tamat di lengan cinta
kasih.”
Bila jalan kebenaran bengkok,
dengan apakah ia diluruskan?
“Ucapkan kebenaran sebagai kebenaran,
kepalsuan sebagai kepalsuan.
Jangan membolak-baliknya.
Engkau pasti mati dalam jepitannya.”
Bila kejujuran berselimut dusta,
dengan apakah ia disingkapkan?
“.......”
Bila hati dan pikiran lengah,
dengan apakah ia diingatkan?
“.......”
Bila hawa ketakutan menyergap,
dengan apakah ia dihalau?
“.......”
Bila kemenangan menjadi kesombongan,
dengan apakah ia direndahkan?
“.......”
Bila api kemarahan menyala,
dengan apakah ia dipadamkan?
“.......”
Bila buah kejahatan terasa manis,
dengan apakah ia digetirkan?
“.......”
Bila bunga nafsu mekar, dengan apakah
ia dipatahkan?
“Selama nafsu keinginan laki-laki
terhadap perempuan belum dihancurkan,
betapapun kecilnya,
selama itu pula seseorang masih
terikat pada kehidupan,
bagaikan seekor anak sapi yang masih
menyusu pada ibunya.”
Bila nafsu mendidih,
dengan apakah ia dibekukan?
“.......”
Bila garam menjadi hambar,
dengan apakah ia diasinkan?
“.......”
Yulius La Dossa
(Jakarta, 26 Februari 2009)
DIPENGGAL
Dipenggal waktu, ruang, dan jarak
Aku harus mencintai sedikit demi
sedikit
biar cintaku tidak lekas habis
Dipenggal ruang,
aku mencumbu bayang
Dipenggal waktu,
aku ketiduran
Dipenggal jarak,
tatkala impianku dimutilasi
aku mencari Engkau
Yulius La Dossa
--Jakarta, 17/09/2008--
SELAMATKAN
INDONESIAKU
Tik tak tik
Tik tak tik
Tik tak tik
“Selamatkan Indonesiaku,” katamu.
“Selamatkan Indonesiaku,” kata dia.
“Selamatkan Indonesiaku,” kataku.
Tapi kenapa kita selalu berkelahi di
ujung jalan
hanya gara-gara berbeda warna baju?
Lihat.
Lihatlah pelangi.
Bukankah Tuhan sang pemilik segala
warna?
Dengar.
Dengarlah.
Hitam-putih pecah di hulu pancuran
cahaya matahari
“Selamatkan Indonesiaku,” kata
mereka.
“Selamatkan Indonesiaku,” kata
kalian.
“Selamatkan Indonesiaku,” kata kami.
Tapi kenapa kita tidak bisa duduk
semeja
hanya gara-gara sebuah kursi?
Lihat.
Lihatlah hatimu.
Bukankah tidak ada yang baru di bawah
matahari?
Dengar.
Dengarlah.
Tidak ada yang berkurang dan
bertambah di bawah matahari
O, Tuhan...
Tuhan yang maha penyayang
Ampunilah segala kekhilafan dan
kesalahan kami
O, Tuhan,...
Tuhan yang maha baik
Tik tak tik
Yulius La Dossa
--Tangerang, 11/05/2008--
SOLILOKUI
Wahai,
kekasih hati
Belajarlah mengeja alif kehidupan
pada jutaan ilham yang telah berdetak
dan yang bakal berderak.
Jangan menanam dusta demi dusta.
Bila penderitaan datang,
nikmatilah tanpa amuk.
Akarnya memang pahit,
tapi buahnya sungguh manis.
Jika air mata berleleran,
bersimpuhlah.
Percayalah,
hutangmu telah dibayar lunas.
Yulius La Dossa
(Jakarta,
Maret 2006)
SEPOTONG
WAJAH DI SUATU SENJA
Hujan runtuh menyapu sore
Aku mulai menghitung waktu,
mengukur kesetiaan dan harga diri,
menimbang kejujuran dan kebohongan,
mengingat duri, air mata, dan bahtera
yang pecah
Aku menghitung terus laksana zikir
"Bersukacitalah dalam
pengharapan,
bersabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa!"
katamu
Hatiku berdarah
Kudengar gemercik air di mataku
O, Tuhan,
bila aku tak lagi berguna,
bila aku tak lagi seperti pohon
yang tak akan pernah berbuah,
tebanglah aku
Sebelum aku mengucap amin,
sebelum aku menutup doa,
Ia berkata:
"Tinggallah di dalam Aku dan Aku
di dalam kamu.
Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan
Aku di dalam dia,
ia berbuah banyak."
Aku tersedak,
tersenyum,
lalu mengangguk takzim
"Sore yang indah," batinku
melupakan sepi dan duka.
Yulius
La Dossa
(Tangerang,
23 Maret 2003)
PROYEK
PERCONTOHAN
Pada mulanya,
Adam seperti buah persik yang ranum
Lalu busuk
Jatuh ke bumi,
Dan lahirlah sang pembunuh: Kain
Yulius La Dossa
(Tangerang, 21 Maret 2003)
INTERLUDE
Kelak, bila kita kembali bertemu
dan engkau bertanya:
“Apakah engkau masih menjadi
milikku?”
Aku akan membeku
Isi kepalaku bakal meledakkan ayat:
“Bila garam menjadi hambar, dengan
apakah ia diasinkan?”
Dan dalam hening aku membatin
Wahai kekasih hati,
Aku tumbang dalam permainan caturmu
Simpul syarafku pecah tiap menunggu
babak berikut
Yulius
La Dossa
(Jakarta,
17 September 2002)
RINDU
TUHAN
Aku tersalib dalam jutaan detik
kehampaan
Terbelenggu dalam bahasa mesin dan
irama ketukan martil
Dan tersesat jauh dalam perjalanan
menempuh jejak-Mu
O, apa gerangan yang terjadi?
Di persimpangan jalan,
aku menemukan jalan lurus menuju
rumah-Mu
O, aku berlari kencang
terburu-buru dan bergegas
Aku ingin segera jatuh bersujud di
pangkuan-Mu
O, Tuhan
Aku rindu kasih-Mu
Aku kangen pelukan-Mu
Aku haus pertolongan-Mu
Yulius La Dossa
(Jakarta, 26 Agustus 2001)
TIK
TAK TIK
Aku adalah bom waktu
dan sumbunya sudah menyala
Yulius La Dossa
(Jakarta, 19 Mei 2000)
KAMPUNG
MELAYU – KAMPUNG RAMBUTAN
Naik lima nol dua
anak menggamit ibu
ibu mendekap harapan
"Empat-empat rapat!" teriak
kenek
mata melempar pandang ke belakang
Kopaja B 7544 AG memburu bagai hantu
502 benci 502 melesat
"Libas!" kata orang berbaju
hijau
knalpot meledak-ledak
gadis berambut cepak tarik napas
ibu-ibu ngomel-ngomel
Pukul dua, 502 mencium bau tanah
Di jalan otista
ibu berbadan dua rubuh
"Mampus!" gerutu bapa-bapa
Yulius La Dossa
(Desember, 1996)
REKONSIALISASI
Aku kehabisan nafsu
Kubiarkan cinta lahir prematur
Kubiarkan egoku mati sebab ayah benci
partai bulan
Yulius La Dossa
(Jakarta, Agustus 1995)