Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Jumat, 23 September 2011

TIPS SEPORSI ES KRIM


Seorang anak kecil masuk ke sebuah restoran terkenal. Sedikit berlari dengan langkah riang, ia menuju sebuah kosong lalu duduk. “Sangat ramai,” gumamnya. Lantas ia mengangkat tangannya, memanggil salah satu pelayan restoran. Seorang pelayan perempuan segera datang menghampiri sambil membawa buku menu makanan. “Mau pesan apa, dik?” tanyanya.
“Berapa harga satu porsi es krim bertabur strawbery dan cokelat itu?” Si anak balik bertanya sambil menunjuk salah satu gambar yang terpampang di tembok restoran. Si pelayan menjawab dua dolar. Anak itu memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan beberapa keping uang receh dan menghitungnya. “Kalau es krimnya tanpa strawberry dan cokelat berapa?”
“Satu dolar,” tukas pelayan itu. Anak itu kembali memasukkan tangannya ke saku yang lain, dia mengeluarkan recehan lagi, dan mulai menghitungnya. “Kalau es krimnya tanpa strawberry dan cokelat, serta cuma separuh porsi saja berapa?”
“Setengah dolar!” jawab pelayan agak ketus.
“Baik, saya pesan itu saja,” kata si anak lagi.
Pelayan itu segera kembali ke dapur. Beberapa saat kemudian pelayan menemui si anak sambil membawa pesanannya. Anak itu segera menikmati es krim dengan lahap. Setelah es krim selesai dimakan, pelayan membawa nota pembayaran. “Semua setengah dolar,” katanya sambil menyodorkan nota kepada si anak.
Seperti diceritakan Mary Jane dalam “Six Great Lesson”, si anak lalu mengeluarkan semua uang receh miliknya dan memberikannya kepada si pelayan. “Ini setengah dolar,” katanya. Kemudian, tangan anak itu merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan selembar uang 10 dolar. “Dan ini tips untuk kamu.”
Jangan pernah menilai penampilan. Penampilan hanya sebuah kesan dan... Kesan bukan kenyataan![o]

Sumber Foto/Ilustrasi: http://agenicecream.blogspot.com

H.B. Jassin Antara Teka-Teki Hidup dan Teka-Teki Silang***

Oleh: M. Amin, Yulius P. Silalahi

Menjaga kesehatan tidak gampang. Apalagi menjelang usia lanjut. Sekali waktu kurvanya memang berkembang. Tapi di lain hari bisa mendatar, menurun, atau gugur ditelan maut. Tidak terkecuali H.B. Jassin, “Paus Sastra Indonesia” yang 31 Juli lalu merayakan hari kelahirannya yang ke-77. “Saya suka mengisi teka-teki silang dan jalan kaki,” kiat Jassin dalam menjaga kebugaran tubuh dan melatih daya ingat di usia senja.

Menjalani masa kemunduran lantaran usia senja memang tidak gampang. Apalagi masa lanjut usia (lansia) kadang dipandang suram. Fisik loyo, tidak bertenaga, mudah sakit, pikun, produktivitas rendah, dan kurang dihargai.
Secara fisik semua organ tubuh pada masa lansia mengalami kemunduran. Perubahan biologis yang paling tragis akibat proses penuaan adalah menyangkut kemunduran fungsi otak, saraf, pembuluh darah saraf, jantung, tulang dan sendi, alat pernafasan, alat pencernaan, panca indra, kulit, dan sistem imunitas. Kemunduran di sebagian atau salah satu fungsi tubuh badan membuat penderitanya frustrasi.
Tapi sebetulnya, kata Dra. Yohana Masdani dalam seminar tentang peranan keluarga dalam pembinaan lansia, dalam masa lansia tidak otomatis semua hal menjadi suram.
“Dalam segi mental, sosial, dan religi, para lansia tetap mengalami kemajuan. Itu karena mereka merasa di bawah kekuatan Tuhan, sehingga tidak takut pada kekuatan manusia di dunia. Malah lansia kerap menjadi lambang kejujuran dan kekuatan moral masyarakat. Buktinya mereka sering dipandang sebagai sesepuh atau tetua yang dihormati. Bahkan umumnya pemimpin agama dan kepala negara adalah dari kaum lansia,” jelas Yohana.
Apa yang dikemukakan Yohana Masdani jelas benar. Cuma masalahnya, bagaimana kiat lansia menjaga kesehatan fisik dan mental agar umur tetap panjang?

Mengisi TTS
Bagi pemerhati kaum lansia, pertanyaan itu tidak sulit dijawab. Seperti kata Dr. R.E.M. Suling dan S.S. Palenkahu, penulis buku tentang lansia, dapat dilakukan dengan pencegahan dan pengobatan.
Tindakan pencegahan meliputi pola konsumsi makanan dan olahraga. Makanan yang dikonsumsi harus mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh untuk hidup sehat, yakni mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air secara seimbang. Sedang olahraga yang baik adalah lari, jalan kaki, joging, bersepeda, dan berenang. Tindakan pengobatan sendiri idealnya dikonsultasikan dengan dokter.
Yang menarik adalah pengalaman pribadi H.B. Jassin mengalami masa-masa proses penuaan hingga tidak kuat lagi secara fisik.
Dulu, kata Jassin, dari muda hingga masuk lanjut usia, ia suka hidup teratur dan berjalan kaki. Bahkan ketika kantor terakhirnya Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin menetap di Taman Ismail Marzuki tahun 1976, ia biasa pergi ke kantor berjalan kaki dari rumahnya di Jl. Arimbi. Itu dilakukannya sampai berumur 70 tahun.
Terbiasa jalan kaki membuat Jassin jarang terkena sakit. Ia selalu tampak segar bugar. Tapi sekarang, pada usia 77 tahun, ia tidak melakukannya lagi karena sudah tidak kuat berjalan jauh. Apalagi setelah tahun lalu ia kena stroke dan masuk rumah sakit selama dua minggu, di bawah pengawasan dokter saraf dan jantung.
Penyakit lansia itu berpengaruh pada kekuatan langkahnya. Kini, langkah kaki Jassin agak tertatih dan memaksanya lebih banyak bekerja di rumah. Anak buahnya yang membawakan pekerjaan ke Jl. Arimbi.
Jassin menyadari, sejumlah fungsi organ tubuhnya mulai menurun. Pendengarannya yang sebelah kanan telah memakai alat bantu. Bicaranya juga tidak sejelas dulu. Tapi walaupun begitu, penglihatan Jassin di balik kacamatanya yang tebal masih berfungsi baik.
Keluhan lain yang sering dirasakan Jassin adalah sakit pada tulang pinggang.
“Ada pengapuran di tulang punggung saya. Pengapuran memang bisa muncul akibat pertumbuhan tulang baru. Kalau sedang kambuh, wah sakitnya bukan main. Berdiri mesti pelan-pelan,” kata Jassin, ayah dari empat orang anak.
Dari sejumlah keluhan yang dialaminya, Jassin paling takut dengan daya ingatnya yang mulai menurun. Makanya Jassin selalu berusaha melatih daya ingatnya dengan cara mengisi teka-teki silang yang ada di semua media langganannya.
Sejak pagi sehabis sarapan, ia kumpulkan surat kabar yang ada teka-teki silangnya. Kemudian ia isi TTS-nya sampai habis.
“Itu saya lakukan untuk mengasah otak agar tidak cepat keropos,” ujar Jassin di kediamannya.
Jassin di tengah usia senjanya, memang merasa harus menjaga daya ingatnya tetap bagus. Kalau tidak demikian, kata Jassin, bagaimana dia bisa mengikuti perkembangan karya sastra yang tak pernah berhenti.
“Saya akan terlambat dan ketinggalan. Saya akan sulit mengenali karya-karya Darmanto Jatman, Danarto, Emha Ainun Nadjib, dan pengarang-pengarang muda lainnya.”
Memang, sebagai sastrawan dan kritikus sastra, sampai sekarang Jassin masih banyak diburu banyak penulis. Jassin diminta menimbang karya sastranya. Di lain sisi, meski usia membuatnya rapuh, Jassin tidak pernah menolak permintaan mereka.
“Saya akan terus membaca dan menulis sambil bersyukur kepada Tuhan bahwa saya diberi umur panjang. Saya menganggap ini sebagai karunia-Nya yang Dia percayakan kepada saya untuk menyelesaikan banyak tugas,” tambah Jassin yang waktu sehari-harinya memang dihabiskan untuk membaca dan menulis. Dalam menulis selalu ia lakukan secara teliti dan serius, meski tulisan itu sekadar disimpan, tidak untuk dimuat media massa.

Obsesi Hari Tua
Kini, di usianya yang makin renta, Jassin juga makin sadar, bahwa manusia akan kembali ke Khalik-Nya. Itu makanya Jassin banyak berzikir.
Jassin mengaku, sebagai manusia dia amat lemah. Kesalahan-kesalahan di masa lalu kerap membayang di ingatannya, dan itu membuatnya selalu meminta ampunan pada Tuhan.
Mungkin karena usia makin tua, kata Jassin, membuat tidurnya semakin berkurang. Oleh sebab itu, bila malam hari, sambil merebahkan badan, ia membaca Asmaul Khusna (99 nama Allah). Pengobatan rohani ini amat bermanfaat baginya untuk ketenteraman batin.
“Dengan membaca itu perasaan saya jadi tenang,” kata Jassin yang dari raut wajahnya masih menyimpan semangat bekerja. Tidak mengherankan bila ia masih menyimpan sebuah obsesi. Malah, ia baru saja menyelesaikan karya keduanya yang berhubungan dengan Al-Qur’an. Setelah berhasil melalui masa-masa sulit menerbitkan terjemahan Al-Qur’an Bacaan Mulia, kemudian lahir pula karyanya berjudul Al-Qur’an Berwajah Puisi.
Al-Qur’an Berwajah Puisi, yang diselesaikannya tahun lalu, berupa baris-baris kalimat Al-Qur’an yang disusun mensejajarkan setiap kalimat dalam tanda koma dan tanda titik dalam setiap bacaan. Sedangkan huruf-hurufnya tidak diubah sedikit pun.
Seperti Al-Qur’an Bacaan Mulia yang penerbitannya sempat mengundang polemik, kelihatannya Al-Qur’an Berwajah Puisi ini pun ditakutkan pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama, akan mengundang reaksi masyarakat. Oleh sebab itu, meski Al-Qur’an Berwajah Puisi ini sudah selesai dan sudah diteliti sejumlah ulama, namun Departemen Agama belum memberi lampu hijau untuk memberi kata pengantarnya.
“Saya berharap masyarakat luas bisa menerima penyusunan yang telah saya buat ini. Sebab tujuannya adalah untuk mengenakkan pembaca; mata tidak terlalu lelah karena kalimatnya disusun baris per baris, tidak monoton.”
“Saya tahu, sebenarnya banyak yang keberatan susunan kitab ini diterbitkan. Tapi, yah, mudah-mudahan bisa diterima masyarakat luas,” harap Jassin.
Itulah obsesi H.B. Jassin di antara teka-teki silang dan teka-teki hidupnya.

***Dimuat di majalah Keluarga edisi No. 04/Th. 11/4 September 1994. Naskah ini kemudian dimuat ulang di buku “Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi” oleh H.B. Jassin (Penyusun), terbitan PT Pustaka Utama Grafiti, Cetakan Pertama, 1995.

MATI DIJAJAH PIKIRAN

Suatu malam di Inggris, tahun 1950. Seperti biasa, semua truk sebuah perusahaan daging masuk pangkalan penyimpanan truk. Seorang sopir yang siangnya menyerempet pohon hingga daging  di pendingin truk berceceran, berinisiatif membersihkannya, agar esok pagi tidak terlambat mengantar daging-dagingnya.
Selagi sibuk membersihkan, pintu yang hanya dapat dibuka dari luar ditutup seseorang. Sang sopir diam saja. Dia berpikir penjaga malam sedang bergurau. Tak lama terdengar bunyi pintu-pintu ditutup. Dia mulai sadar, penjaga malam tidak sedang bergurau, tetapi juga tidak tahu bahwa ada seseorang di dalam pendingin truk yang dinginnya bisa mencapai -5 °C - 10°C.
Sang sopir mulai panik. Dia berteriak sekuat tenaga, memukul, dan menendang pintu berulang-ulang. Setelah satu jam berusaha,  dia kelelahan dan lama-lama hilang harapan. Semua usaha yang dia lakukan terasa sia-sia. Ia menggigil. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Dia mulai berpikir bahwa dia tak akan dapat bertahan sampai esok pagi. Hidupnya segera berakhir dalam beku.
Benar! Esoknya sang sopir ditemukan sudah meninggal dengan sepucuk surat di tangan. Polisi penyelidik menemukan, pendingan truk rusak, mungkin karena terbentur pohon. Suhu pendingin tak lebih dari +5 °C s/d +10°C, hanya lebih dingin sedikit daripada suhu normal di Inggris. Namun, hasil otopsi menyatakan, dia meninggal dengan tanda-tanda beku. Penelitian dilanjutkan dan disimpulkan bahwa kebekuan pada darah dan tubuh korban bukan karena mesin pendingin, namun dipicu oleh kekuatan pikiran sang sopir.
Dalam suratnya, karena pengaruh kekuatan pikiran, si sopir menulis kata-kata dingin hingga 45 kali dan kata-kata tanpa harapan 21 kali.
Pikiran positif bagian keberhasilan. Jika berpikir mustahil, --walau keadaan sebenarnya mudah-- kekuatan raksasa di dalam diri membuat semuanya menjadi sulit. [o]

Sabtu, 17 September 2011

NEGERI KURCACI

Tak ada tempat bagi sang egois di rumah kami. Kami adalah orang yang mensucikan kebersamaan. Saling berbagi rasa, rata, dan kata, diletakkan di pucuk kekuasaan berdasar konsensus. Tunas keakuan dilarang tumbuh, di atas ranjang sekalipun
Pernah terpikir, aku ingin sekali menyiram tempat tidur kami dengan sedrum bensin lalu memercikkan lelatu api. Aku ingin melihat bola api menjulang tinggi dan aku ada dalam gulungannya. Lalu aku mati, jadi hantu, dan engkau menjerit-jerit.
Kebersamaan dan kehendak mati konyol –memang-- tak pernah bersekutu di satu titik. Laksana rel: kebersamaan menuntut kehadiran makhluk asing, mati konyol tidak.
Egoisme dilarang di rumah kami. Aku menjadi munafik lantaran darahku mengandung mesiu pemberontakan.

Yulius La Dossa
(Jakarta, 1995)

PUISI-PUISI YULIUS LA DOSSA

ALONE

Sunyi
Hampa
Putus asa dan air mata
Kembara berseru: Inikah yang engkau cari?

Yulius La Dossa
--19/07/2011--


JANGAN BUNUH IMPIANMU SEBELUM MENATAP MATAKU

Ketika aku berlalu
Aku melihat luka di matamu
Makin jauh aku berjalan
Dukamu kian berlompatan

Jangan sedih matahari bumi
Besok kita tertawa lagi
Hujan bakal turun
Jangan bunuh impianmu
Tatap mataku

Ah, sebelum engkau memandangku
irama hujan mengalun

Yulius La Dossa
--28/06/2011--


HITAM PUTIH

Aku adalah penulis kehidupanku
Hari ini kuberi tinta putih
Kemarin abu-abu
Kemarin lalu hitam
Besok?
Maunya kuberi warna pelangi

“Jangan lupa kembalikan, pulpennya punya Tuhan,” katamu
“Tidak! Tidak akan kukembalikan,” kataku
Biar Dia sendiri yang mengambilnya
Aku selalu siap kapan pun hendak Dia ambil

Ketika cahaya esok tiba
Aku berbincang-bincang bersama hati dan pikiranku
Mereka kompak berkata: "Jangan pergi!"

Aku mengangguk sepakat
Urung melakukan sebuah pengembaraan jauh ke negeri asing
Melupakan perjalanan hitam putih

Aku adalah penulis kehidupanku
Dan aku adalah pembaca setianya

Yulius La Dossa
--13/06/2011--


WAKTU

Ada saatnya jalan bersama-sama
sendiri-sendiri
dan sendirian

Ada kalanya menangis bersama-sama
sendiri-sendiri
dan sendirian

Ada waktunya tertawa bersama-sama
sendiri-sendiri
dan sendirian

Yulius La Dossa
--11/06/2011--


TELEDOR

Tele
Dor
Teledor
Jangan teledor

Dor
“Pelurunya menembus jantung hati,” katamu

Yulius La Dossa
--07/06/2011--


LETUSAN HATI

tujuh mil sebelum mendekat
balon itu meledak di tempat
suaranya nyaring bikin tuli telinga
orang-orang melempar tanya
siapa yang terhempas
apa yang terkelupas

apakah aku harus berkata jujur, kataku
ongkos berbohong itu mahal, tukasmu

o, biarkan aku melangkah
sayapku sudah sembuh

Yulius La Dossa
--06/06/2011--


MAUT

aku diterjang takut
tinggal satu kata di mulut
harap demi harap merapat
sebentar lagi terlipat

aku terjepit
tak ada limit
mauku mengucap pamit
satu tarikan nafas pun tak sempat
keburu dicuri sang malaikat
jiwaku berdebar-debar mencari pintu selamat

Yulius La Dossa
--12/04/2011--


DAMAI
kepada: ABB dan SBY

bagaimana kita dapat bicara perdamaian
bila engkau pegang pedang
aku tangan kosong
dan ilalang tanpa lengan
engkau tersenyum. "Dapat!" katamu
aku menghujam. "Tidak!" kataku
ilalang terpejam. "Mataku buta," ucapnya geram

engkau menekan: Bom!
aku pegang pedang
tanganmu kosong
dia tanpa lengan
“Damai dan perang, itu pilihan kalian.”

Yulius La Dossa
--28/04/2011--


PERTAPA

sejauh mata menembus jendela
dia lalu lalang di tengah kota
aku kenal jejak mereka
biarawati merayu lewat doa
mucikari memikul derita
bidadari berhati iblis membawa dupa

orang menyebutku pelaut
di pagi berkabut
tergolek gadis molek tanpa selimut
di siang penat
duit janda menggoda perut
di malam pekat
anak muda tiba menenteng madat
aku tetap ingat langit

aku masih berdiri di balik kaca
memandang jalan raya penuh duka
sebuah peluru menembus kepala
ceceran darah merembes di mata

di ujung maut
terdengar pintu berderit
bunda menjerit
melepas kepergianku yang mati sekarat

Tuhan pencipta alam semesta
pemilik muka bumi dan sorga
cukup satu pertanyaan saja
kenapa juga aku masuk neraka

Yulius La Dossa
--10/04/2011--


DEBT COLLECTOR

aku bidadari terakhirmu
di pangkuanmu
mati ragu-ragu
lalu berlalu di musim kemarau

Tuhanku
Inilah aku
Masih terbalut jaket kelabu
"Di blok mana surgaku?"

Yulius La Dossa
--09/04/2011--


PESTA DUKA

api mencubit kamar
bunda berpulang
kasur terbakar
ayah menghilang

hatiku dilumat bimbang
kuserahkan cemasku di dada bidang
ai, ai, ai,... bahtera kehilangan tempat bersandar
lelakiku berteriak dungu: enyahlah perempuan lacur

aku tersenyum liar
bermain lotere di pundak selingkuhan
handuk putih kulempar
madu dan mata indah kupertaruhkan

jiwaku bersenandung
dua malam bibirku ditelan
mulutku tertawa sinting
subuh ketiga hatiku dicampakkan

Oh, Tuhan...
Inilah hamba-Mu yang tidak berguna

Yulius La Dossa
--07/04/2011--


KATA

kau bawa serenceng kata
kata manis kata pahit

kau ambil kata manis
aku telan kata pahit

"Puas!" kataku
"Tidak!" katamu

kau sambar garpu
kau sorong kata basi ke mulutku

"Puas!" katamu

Aku terhempas
kata-katamu membunuhku

Yulius La Dossa
--26/03/2011--


ALHAMDULILLAH
kepada: Fanny Putri & Shendy Adam

Waktu engkau bilang suka
Tanganku tak kau lepas
Hatiku malah kau ikat
Kau bawa aku naik bahtera

Wahai,
Nakhodaku
Imamku
Kita duduk di alip pernikahan
Mataku basah
Menangis haru mengucap syukur

Yulius La Dossa
--10/11/2010--


MERAH PUTIH

Engkau merah
Dia merah
Bagaimana aku bilang kita merdeka?

Engkau putih
Aku putih
Bagaimana dia bilang kita merdeka?

Engkau merah putih
Dia merah putih
Aku merah putih
Bagaimana mereka bilang kita merdeka?
Bila engkau melangkah tanpa tujuan
Aku kelaparan tanpa cinta
Dia terjebak di jalan buntu!

Yulius La Dossa
--Tangerang, 24/08/2009--


SITU GINTUNG

Aku penganut hukum alam
menguap bila matahari bolong
meluap bila hujan runtuh

Yulius La Dossa
--Jakarta, 30/04/2009--


Hari H Jam D

Evolusi setangkai bunga lily

Yulius La Dossa
--Jakarta, 23/03/2009--


KAMPANYE KALAMENDU

Daulat rakyat, katamu
Bulan itu pun bulanmu
Matahariku mataharimu
Catatlah keluarga dan puisiku

Aku bukan batu, kataku
Aku melihat mata hantu di matamu

Yulius La Dossa
--Jakarta, 22/03/2009--


REPUBLIK KALATIDA

Notono sudah
Goro-goro belum
Ke mana para penjaga daulat rakyat pergi?
Ramai-ramai belanja mandat

Engkau di mana?
Berlomba memanjat daulat tuanku
Ulama butuh kursi
Umaroh apalagi

Ibu,
Inilah anakmu
Aparat sekarat
Ada ode merah-putih terjepit

Yulius La Dossa
--Jakarta, 13/03/2009--


HUJAN

Aku paling suka nonton hujan
Lewat hujan, Tuhan menyediakan informasi terkini
Bila hujan lebat dan rumahku kebanjiran,
itu artinya Tuhan sedang memberiku petunjuk langsung:
“Di situ ada yang salah, ada yang menghambat air mengalir.
Jangan salahkan siapa-siapa bila kampungmu tenggelam.”

Setiap hujan mataku berbinar
Lewat hujan, Tuhan banyak berbicara kepadaku
Bila hujan runtuh disertai petir hingga pohon bertumbangan,
itu artinya Tuhan sedang menyampaikan kabar indah:
"Kamu jangan sombong.
Pohon sebesar dan akar sekuat itu dapat tumbang. Apalagi kamu?”

Aku suka hujan
Bila dia turun
Itu artinya Tuhan sedang melawatku

Yulius La Dossa
--Tangerang, 09/03/2009--


SANG BUDHA

Ketika cinta berselimut dusta,
ketika kasih berlumur duka,
ke manakah hati ini harus berpaling?
“Pergilah ke seluruh dunia,
kabarkanlah ke segala makhluk bahwa
engkau tidak menjual sepotong hatimu.”

Ketika kejujuran dituding khianat,
ketika loyalitas dibilang penjilat,
apakah aku harus diam?
“Pergilan mencari dermaga lain,
tempatmu berpijak telah kehabisan cinta kasih.”

Aku selalu berharap
lelaki di seberang sana mengatakan
bahwa aku adalah bunga tercantik di planet bumi ini.
Akankah impianku menjadi kenyataan?
“Impian purbamu telah mati sejak dini,
tersalib sia-sia lantaran engkau benci melihat matahari
dan selalu bersembunyi di balik bayang-bayang malam.”

Bila kekasih menebar kedengkian
dan membiarkan fitnah berserakan,
mengapa kekejian semacam ini dikumandangkan?
“Kebencian pasti tumbuh ketika hati terjilat api cemburu.”

Bila badai nestapa berhembus,
dengan apakah ia dihadang?
“Kunci mulutmu, hentikan langkahmu.
Bila engkau tetap melenggang dengan pikiran kotor,
nestapa akan menghantui
bagaikan roda pedati mengikuti langkah lembu yang menariknya.”

Bila lonceng kebencian berdentang,
dengan apakah ia ditentang?
“Jangan membalas kebencian dengan kebencian.
Kebencian pasti tamat di lengan cinta kasih.”

Bila jalan kebenaran bengkok,
dengan apakah ia diluruskan?
“Ucapkan kebenaran sebagai kebenaran,
kepalsuan sebagai kepalsuan.
Jangan membolak-baliknya.
Engkau pasti mati dalam jepitannya.”

Bila kejujuran berselimut dusta,
dengan apakah ia disingkapkan?
“.......”

Bila hati dan pikiran lengah,
dengan apakah ia diingatkan?
“.......”

Bila hawa ketakutan menyergap,
dengan apakah ia dihalau?
“.......”

Bila kemenangan menjadi kesombongan,
dengan apakah ia direndahkan?
“.......”

Bila api kemarahan menyala,
dengan apakah ia dipadamkan?
“.......”

Bila buah kejahatan terasa manis,
dengan apakah ia digetirkan?
“.......”

Bila bunga nafsu mekar, dengan apakah ia dipatahkan?
“Selama nafsu keinginan laki-laki terhadap perempuan belum dihancurkan,
betapapun kecilnya,
selama itu pula seseorang masih terikat pada kehidupan,
bagaikan seekor anak sapi yang masih menyusu pada ibunya.”

Bila nafsu mendidih,
dengan apakah ia dibekukan?
“.......”

Bila garam menjadi hambar,
dengan apakah ia diasinkan?
“.......”

Yulius La Dossa
(Jakarta, 26 Februari 2009)


DIPENGGAL

Dipenggal waktu, ruang, dan jarak
Aku harus mencintai sedikit demi sedikit
biar cintaku tidak lekas habis

Dipenggal ruang,
aku mencumbu bayang

Dipenggal waktu,
aku ketiduran

Dipenggal jarak,
tatkala impianku dimutilasi
aku mencari Engkau

Yulius La Dossa
--Jakarta, 17/09/2008--


SELAMATKAN INDONESIAKU

Tik tak tik
Tik tak tik
Tik tak tik
“Selamatkan Indonesiaku,” katamu.
“Selamatkan Indonesiaku,” kata dia.
“Selamatkan Indonesiaku,” kataku.
Tapi kenapa kita selalu berkelahi di ujung jalan
hanya gara-gara berbeda warna baju?
Lihat.
Lihatlah pelangi.
Bukankah Tuhan sang pemilik segala warna?
Dengar.
Dengarlah.
Hitam-putih pecah di hulu pancuran cahaya matahari

“Selamatkan Indonesiaku,” kata mereka.
“Selamatkan Indonesiaku,” kata kalian.
“Selamatkan Indonesiaku,” kata kami.
Tapi kenapa kita tidak bisa duduk semeja
hanya gara-gara sebuah kursi?
Lihat.
Lihatlah hatimu.
Bukankah tidak ada yang baru di bawah matahari?
Dengar.
Dengarlah.
Tidak ada yang berkurang dan bertambah di bawah matahari

O, Tuhan...
Tuhan yang maha penyayang
Ampunilah segala kekhilafan dan kesalahan kami

O, Tuhan,...
Tuhan yang maha baik
Tik tak tik

Yulius La Dossa
--Tangerang, 11/05/2008--


SOLILOKUI

Wahai,
kekasih hati
Belajarlah mengeja alif kehidupan
pada jutaan ilham yang telah berdetak
dan yang bakal berderak.
Jangan menanam dusta demi dusta.
Bila penderitaan datang,
nikmatilah tanpa amuk.
Akarnya memang pahit,
tapi buahnya sungguh manis.
Jika air mata berleleran,
bersimpuhlah.
Percayalah,
hutangmu telah dibayar lunas.

Yulius La Dossa
(Jakarta, Maret 2006)


SEPOTONG WAJAH DI SUATU SENJA

Hujan runtuh menyapu sore
Aku mulai menghitung waktu,
mengukur kesetiaan dan harga diri,
menimbang kejujuran dan kebohongan,
mengingat duri, air mata, dan bahtera yang pecah
Aku menghitung terus laksana zikir

"Bersukacitalah dalam pengharapan,
bersabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa!" katamu

Hatiku berdarah
Kudengar gemercik air di mataku
O, Tuhan,
bila aku tak lagi berguna,
bila aku tak lagi seperti pohon yang tak akan pernah berbuah,
tebanglah aku

Sebelum aku mengucap amin,
sebelum aku menutup doa,
Ia berkata:
"Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.
Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia,
ia berbuah banyak."
Aku tersedak,
tersenyum,
lalu mengangguk takzim
"Sore yang indah," batinku melupakan sepi dan duka.

Yulius La Dossa
(Tangerang, 23 Maret 2003)


PROYEK PERCONTOHAN

Pada mulanya,
Adam seperti buah persik yang ranum
Lalu busuk
Jatuh ke bumi,
Dan lahirlah sang pembunuh: Kain

Yulius La Dossa
(Tangerang, 21 Maret 2003)


INTERLUDE

Kelak, bila kita kembali bertemu
dan engkau bertanya:
“Apakah engkau masih menjadi milikku?”
Aku akan membeku
Isi kepalaku bakal meledakkan ayat:
“Bila garam menjadi hambar, dengan apakah ia diasinkan?”
Dan dalam hening aku membatin
Wahai kekasih hati,
Aku tumbang dalam permainan caturmu
Simpul syarafku pecah tiap menunggu babak berikut

Yulius La Dossa
(Jakarta, 17 September 2002)



RINDU TUHAN

Aku tersalib dalam jutaan detik kehampaan
Terbelenggu dalam bahasa mesin dan irama ketukan martil
Dan tersesat jauh dalam perjalanan menempuh jejak-Mu

O, apa gerangan yang terjadi?
Di persimpangan jalan,
aku menemukan jalan lurus menuju rumah-Mu

O, aku berlari kencang
terburu-buru dan bergegas
Aku ingin segera jatuh bersujud di pangkuan-Mu

O, Tuhan
Aku rindu kasih-Mu
Aku kangen pelukan-Mu
Aku haus pertolongan-Mu

Yulius La Dossa
(Jakarta, 26 Agustus 2001)


TIK TAK TIK

Aku adalah bom waktu
dan sumbunya sudah menyala

Yulius La Dossa
(Jakarta, 19 Mei 2000)


KAMPUNG MELAYU – KAMPUNG RAMBUTAN

Naik lima nol dua
anak menggamit ibu
ibu mendekap harapan

"Empat-empat rapat!" teriak kenek
mata melempar pandang ke belakang
Kopaja B 7544 AG memburu bagai hantu

502 benci 502 melesat
"Libas!" kata orang berbaju hijau
knalpot meledak-ledak
gadis berambut cepak tarik napas
ibu-ibu ngomel-ngomel

Pukul dua, 502 mencium bau tanah
Di jalan otista
ibu berbadan dua rubuh
"Mampus!" gerutu bapa-bapa

Yulius La Dossa
(Desember, 1996)


REKONSIALISASI

Aku kehabisan nafsu
Kubiarkan cinta lahir prematur
Kubiarkan egoku mati sebab ayah benci partai bulan

Yulius La Dossa
(Jakarta, Agustus 1995)