---------------------------------------------------
Judul:
Menghibur
Diri Sampai Mati
Mewaspadai
Media Televisi
Oleh:
Neil
Postman
Alihbahasa:
Inggita
Notosusanto
Penerbit:
PT
Pustaka Sinar Harapan, 1995, Jakarta
Tebal:
187
halaman
Harga buku:
Rp
10.900
--------------------------------------------------
Anak-anak
menjadi omnivisi (penonton segala acara teve) bukan lagi masalah jumlah, tapi
soal gejala. Dan membaca Amusing Ourselves to Death, karya Neil Postman, kita
menyadari betapa menakutkan dan menyenangkannya bergaul dengan makhluk bernama
teve. Sekali waktu pembaca diajak melamun ke masa silam, di lain babak
dipersilakan berpikir ke masa depan.
Sejarah
penyebaran berita disimpulkan dengan lugas. Di zaman komunikasi purba, berita
bergerak secepat orang berlari atau berteriak. Arkian, ketika ketel uap
ditemukan, berita bergerak secepat kereta api. Lalu, setelah penemuan listrik
dikembangkan, berita sampai ke pemirsa detik itu juga.
Buku
yang dibahasaindonesiakan oleh Inggita Notosusanto itu dibagi dalam dua bagian.
Bagian pertama merilis medium sebagai metafora, media sebagai epistemologi,
Amerika yang tipografis, pikiran yang tipografis, dan dunia cilukba. Bagian dua
membahas bagaimana media memperlakukan agama, pendidikan, iklan, dan politik di
zaman showbiz, yang semua harus menghibur.
Postman
menulis bukan untuk menghujat teve. Tapi memberi warning. Jadi jangan salahkan
teve lantaran pengelolaan teve harus menghamba pada konsep menghibur, sehingga
syiar agama pun tidak lagi menyimpan roh sakralnya.
“Agama
dalam televisi, seperti topik lain, ditampilkan sebagai hiburan. Agama sebagai
kegiatan umat manusia yang historis, mendalam, dan penuh kesucian ditelanjangi.
Tak ada ritual, tak ada dogma, tak ada tradisi, tak ada teologi, dan tragisnya,
tak ada rasa spiritual sama sekali. Di layar teve, yang menjadi pusat perhatian
adalah pengkhotbah. Tuhan menduduki tempat kedua,” tulis Postman.
Fenomena
di negara Paman Sam itu bukan tak mungkin bakal ditiru pengelola stasiun teve
di Indonesia, yang ‘terpaksa’ harus tunduk pada konsep dasar teve: menghibur!
Anak dan Sesame Street
Di
lain halaman Postman menjelaskan, saat Sesame Street diluncurkan tahun 1960,
diramalkan bakal disukai anak-anak, orangtua, dan pendidik. Tak meleset memang.
Orangtua gembira, menganggap acara itu mampu mewakili mereka mengajari
anak-anak tentang sesuatu selain bubur sereal mana yang paling garing.
Membebaskan mereka dari tanggung jawab dan gangguan mengajari anak pra-sekolah
untuk membaca.
Penggunaan
boneka lucu, tokoh masyarakat, musik menarik dan mudah diingat, serta editing
yang lincah memberi kesenangan. Pendidik bersorak karena Sesame Street
mengusung metoda baru dalam proses belajar mengajar.
Itu
impian tahun 60-an. Sekarang, kita baru disadarkan bahwa anak-anak menyukai
sekolah jika sekolah mirip Sesame Street. Dengan kata lain, Sesame Street
menggerogoti konsep pendidikan konvensional yang diwakili lembaga persekolahan.
Jika
ruang kelas merupakan tempat interaksi sosial, ruang di muka layar teve adalah
daerah pribadi. Jika di ruang kelas murid dapat bertanya, teve tak akan memberi
umpan balik langsung.
Jika
sekolah berpusat pada pengembangan bahasa, teve menuntut perhatian pada gambar
dan citra. Jika sekolah merupakan kewajiban, menonton teve merupakan pilihan
pribadi. Jika di sekolah murid dapat dihukum bila tak menyimak pelajaran,
menonton teve tak ada hukuman apa pun. Jika di sekolah murid diharuskan
bertingkahlaku baik, menaati dan mengenal tatakrama, di depan teve tidak.
Jika
di ruang kelas, kesenangan berarti cara untuk sampai pada tujuan, pada teve
kesenangan merupakan tujuan itu sendiri. “Sebagai program teve yang baik,
Sesame Street tidak mendorong anak-anak menyukai sekolah atau apa pun yang menyangkut
sekolah. Program itu hanya mendorong anak untuk menyukai teve,” ulas Postman.
Pada
alinea lain, teve dilukiskan menawarkan alternatif kenikmatan orisinil. Itu
sebabnya pemirsa tak pernah menonton acara yang dimulai dengan peringatan, bila
pemirsa belum melihat program terdahulu, maka acara yang sedang ditayangkan tak
dapat dipahami.
“Teve
merupakan kurikulum tanpa peringkat dan langsung merengkuh tiap alasan apa
saja, kapan saja. Teve meruntuhkan konsep urutan dan kontinuitas seperti dalam
pendidikan sekolah.”
Dalam
pengajaran ala teve, kebingungan merupakan jalan tol menuju peringkat yang
rendah. Pelajar yang kebingungan dapat beralih ke saluran teve lain. Itu
berarti, tak ada yang harus diingat, dipelajari, dipraktekkan, atau harus
disimak dengan susah payah. Informasi apa saja, baik cerita maupun gagasan,
dapat dengan segera dituturkan, karena yang penting adalah kesenangan, bukan
perkembangan si pelajar.
Mengikuti
cara teve mengemas dakwah agama, pendidikan, dan tayangan lain, keluarga dan orangtua
tetap bertanggung jawab atas perkembangan anak-anak. Terlalu riskan menyerahkan
sepenuhnya kepada stasiun teve.
Melelahkan
Kelemahan
Menghibur Diri Sampai Mati hanya soal kebahasaan. Buku ini kurang cermat dalam
penggunaan tata bahasa. Kata di mana, misalnya, kadang benar. Tapi di tempat
lain ditulis keliru sebagaimana terbaca di halaman 56, 58, 61, 62, dan 87.
Begitu
juga penulisan kata dirubah, merubah, antar pembicara, antar pihak, dan antar
manusia, misalnya. Maaf, mestinya ditulis: diubah, mengubah, antarpihak dan
antarmanusia. Kesalahan dimaksud ditemui di halaman 24, 59, 61, 63, 77, 79, 86,
dan 165.
Satu
lagi: membaca buku --yang relatif tipis-- ini cukup melelahkan. Pembaca bakal
sering menjumpai sejumlah paragraf panjang dengan kalimat yang juga panjang.
Alhamdulillah,
kelemahan dan kesalahan-kesalahan kecil tersebut tidak menganggu isi dan makna
yang disampaikan. [o]
Yulius P. Silalahi,
anggota
Lembaga Kekerabatan Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas
Prof. Dr. Moestopo
Note:
*Dimuat di Harian Umum REPUBLIKA edisi 07 Mei 1995
0 komentar:
Posting Komentar