Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Jumat, 09 September 2011

Televisi = Pendangkalan Agama dan Pendidikan*


---------------------------------------------------
Judul:
Menghibur Diri Sampai Mati
Mewaspadai Media Televisi
Oleh:
Neil Postman
Alihbahasa:
Inggita Notosusanto
Penerbit:
PT Pustaka Sinar Harapan, 1995, Jakarta
Tebal:
187 halaman
Harga buku:
Rp 10.900
--------------------------------------------------

Anak-anak menjadi omnivisi (penonton segala acara teve) bukan lagi masalah jumlah, tapi soal gejala. Dan membaca Amusing Ourselves to Death, karya Neil Postman, kita menyadari betapa menakutkan dan menyenangkannya bergaul dengan makhluk bernama teve. Sekali waktu pembaca diajak melamun ke masa silam, di lain babak dipersilakan berpikir ke masa depan.
Sejarah penyebaran berita disimpulkan dengan lugas. Di zaman komunikasi purba, berita bergerak secepat orang berlari atau berteriak. Arkian, ketika ketel uap ditemukan, berita bergerak secepat kereta api. Lalu, setelah penemuan listrik dikembangkan, berita sampai ke pemirsa detik itu juga.
Buku yang dibahasaindonesiakan oleh Inggita Notosusanto itu dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama merilis medium sebagai metafora, media sebagai epistemologi, Amerika yang tipografis, pikiran yang tipografis, dan dunia cilukba. Bagian dua membahas bagaimana media memperlakukan agama, pendidikan, iklan, dan politik di zaman showbiz, yang semua harus menghibur.
Postman menulis bukan untuk menghujat teve. Tapi memberi warning. Jadi jangan salahkan teve lantaran pengelolaan teve harus menghamba pada konsep menghibur, sehingga syiar agama pun tidak lagi menyimpan roh sakralnya.
“Agama dalam televisi, seperti topik lain, ditampilkan sebagai hiburan. Agama sebagai kegiatan umat manusia yang historis, mendalam, dan penuh kesucian ditelanjangi. Tak ada ritual, tak ada dogma, tak ada tradisi, tak ada teologi, dan tragisnya, tak ada rasa spiritual sama sekali. Di layar teve, yang menjadi pusat perhatian adalah pengkhotbah. Tuhan menduduki tempat kedua,” tulis Postman.
Fenomena di negara Paman Sam itu bukan tak mungkin bakal ditiru pengelola stasiun teve di Indonesia, yang ‘terpaksa’ harus tunduk pada konsep dasar teve: menghibur!

Anak dan Sesame Street
Di lain halaman Postman menjelaskan, saat Sesame Street diluncurkan tahun 1960, diramalkan bakal disukai anak-anak, orangtua, dan pendidik. Tak meleset memang. Orangtua gembira, menganggap acara itu mampu mewakili mereka mengajari anak-anak tentang sesuatu selain bubur sereal mana yang paling garing. Membebaskan mereka dari tanggung jawab dan gangguan mengajari anak pra-sekolah untuk membaca.
Penggunaan boneka lucu, tokoh masyarakat, musik menarik dan mudah diingat, serta editing yang lincah memberi kesenangan. Pendidik bersorak karena Sesame Street mengusung metoda baru dalam proses belajar mengajar.
Itu impian tahun 60-an. Sekarang, kita baru disadarkan bahwa anak-anak menyukai sekolah jika sekolah mirip Sesame Street. Dengan kata lain, Sesame Street menggerogoti konsep pendidikan konvensional yang diwakili lembaga persekolahan.
Jika ruang kelas merupakan tempat interaksi sosial, ruang di muka layar teve adalah daerah pribadi. Jika di ruang kelas murid dapat bertanya, teve tak akan memberi umpan balik langsung.
Jika sekolah berpusat pada pengembangan bahasa, teve menuntut perhatian pada gambar dan citra. Jika sekolah merupakan kewajiban, menonton teve merupakan pilihan pribadi. Jika di sekolah murid dapat dihukum bila tak menyimak pelajaran, menonton teve tak ada hukuman apa pun. Jika di sekolah murid diharuskan bertingkahlaku baik, menaati dan mengenal tatakrama, di depan teve tidak.
Jika di ruang kelas, kesenangan berarti cara untuk sampai pada tujuan, pada teve kesenangan merupakan tujuan itu sendiri. “Sebagai program teve yang baik, Sesame Street tidak mendorong anak-anak menyukai sekolah atau apa pun yang menyangkut sekolah. Program itu hanya mendorong anak untuk menyukai teve,” ulas Postman.
Pada alinea lain, teve dilukiskan menawarkan alternatif kenikmatan orisinil. Itu sebabnya pemirsa tak pernah menonton acara yang dimulai dengan peringatan, bila pemirsa belum melihat program terdahulu, maka acara yang sedang ditayangkan tak dapat dipahami.
“Teve merupakan kurikulum tanpa peringkat dan langsung merengkuh tiap alasan apa saja, kapan saja. Teve meruntuhkan konsep urutan dan kontinuitas seperti dalam pendidikan sekolah.”
Dalam pengajaran ala teve, kebingungan merupakan jalan tol menuju peringkat yang rendah. Pelajar yang kebingungan dapat beralih ke saluran teve lain. Itu berarti, tak ada yang harus diingat, dipelajari, dipraktekkan, atau harus disimak dengan susah payah. Informasi apa saja, baik cerita maupun gagasan, dapat dengan segera dituturkan, karena yang penting adalah kesenangan, bukan perkembangan si pelajar.
Mengikuti cara teve mengemas dakwah agama, pendidikan, dan tayangan lain, keluarga dan orangtua tetap bertanggung jawab atas perkembangan anak-anak. Terlalu riskan menyerahkan sepenuhnya kepada stasiun teve.

Melelahkan
Kelemahan Menghibur Diri Sampai Mati hanya soal kebahasaan. Buku ini kurang cermat dalam penggunaan tata bahasa. Kata di mana, misalnya, kadang benar. Tapi di tempat lain ditulis keliru sebagaimana terbaca di halaman 56, 58, 61, 62, dan 87.
Begitu juga penulisan kata dirubah, merubah, antar pembicara, antar pihak, dan antar manusia, misalnya. Maaf, mestinya ditulis: diubah, mengubah, antarpihak dan antarmanusia. Kesalahan dimaksud ditemui di halaman 24, 59, 61, 63, 77, 79, 86, dan 165.
Satu lagi: membaca buku --yang relatif tipis-- ini cukup melelahkan. Pembaca bakal sering menjumpai sejumlah paragraf panjang dengan kalimat yang juga panjang.
Alhamdulillah, kelemahan dan kesalahan-kesalahan kecil tersebut tidak menganggu isi dan makna yang disampaikan. [o]
Yulius P. Silalahi,
anggota Lembaga Kekerabatan Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Prof. Dr. Moestopo


Note: *Dimuat di Harian Umum REPUBLIKA edisi 07 Mei 1995

0 komentar: