Ketika masih bayi, kita adalah sosok yang visioner, lucu, lugu, dan dapat
merasakan bahwa life is a game. Saat itu kita adalah The Only You.
Ketika mulai berinteraksi dengan orang lain yang bisa menimbulkan pola
polarisasi, konfrontasi, paradoksal, interaksi partnership, dan
sebagainya, dimulailah proses konflik dengan orang lain, lingkungan, dan
dunia.
Pada saat seperti itu kita bukan lagi The Only You, melainkan The
Conflicted You. Atas konflik itulah akhirnya tercipta apa yang
disebut kemenangan dan kekalahan yang berujung menjadi The Real You. Jika kita memilih mengambil kendali kemenangan dengan cara menyelesaikan
setiap konflik sedini mungkin, sehingga tidak memengaruhi energi positif yang
ada dalam diri, dapat dipastikan kita akan keluar menjadi pemenang. Sebaliknya
jika konflik terus dibiarkan, bahkan kita izinkan untuk memimpin atau
mengendalikan hidup kita, maka kita akan menjadi sosok yang diinginkan oleh
konflik tersebut yang cepat atau lambat akan membawa kita menuju kekalahan.
Ibarat bermain catur, ketika mengalami langkah blunder, posisi sang raja bakal terjepit dan akhirnya tumbang.
Saat konflik menghampiri, lawanlah. Hadapi dengan membuang negative
side-effect yang ditimbulkan. Jangan berdiam diri atau membiarkan konflik
berkembang, entah itu terjadi dalam hubungan keluarga, tetangga, persahabatan,
bisnis, kerja, dan sebagainya. Berdiam diri dalam sebuah konflik berarti siap
mengalami kekalahan, sifatnya bukan ngalah.
Kekalahan semacam ini dapat menimbulkan luka batin yang dalam dan sulit
dilupakan. Luka batin semacam ini akan membuat kita mengalami kekalahan demi
kekalahan.
Ketika menghadapi konflik, tinggalkanlah pepatah yang mengatakan, orang
yang tidak pernah salah adalah orang yang tidak pernah melakukan apa-apa.
0 komentar:
Posting Komentar