ADA
banyak jenis tulisan. Artikel berbeda dengan puisi dan prosa.
Menulis
jenis tulisan yang satu dan yang lain memerlukan teknik tertentu. Artikel
ditulis berdasarkan informasi-informasi, fakta-fakta, data-data. Tema di dalam sebuah
artikel dikupas secara singkat, padat, tidak bertele-tele, aktual, dan memiliki
unsur daya tarik.
Ciri-ciri
artikel
Lugas: tulisan langsung
masuk ke pokok persoalan.
Logis: segala
keterangan yang dipaparkan masuk akal, dapat diuji kebenarannya.
Tuntas: tema atau
masalah disajikan secara mendalam.
Obyektif: keterangan dipaparkan
sesuai fakta dan data, tidak melibatkan emosi berlebihan.
Cermat: menghindari
kekeliruan sekecil apa pun.
Jelas: keterangan mudah
dipahami.
Secara
umum, tulisan yang baik adalah: bermakna dan memotivasi, enak dibaca, mudah
dimengerti, kalimatnya nyambung, dan
bebas salah ketik. Sebelum menulis artikel, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yakni:
1.
Jenis
Tulisan. Tentukan jenis tulisan Anda. Menentukan jenis
tulisan perlu dilakukan karena memiliki pengaruh terhadap teknik menulis. Sebagai
contoh, menulis cerita anak tentu berbeda dengan teknik menulis puisi.
2.
Sasaran
Pembaca. Periksa, siapa pembaca Anda? Bila sasaran pembaca
yang hendak dibidik sudah jelas, cari tahu tema tulisan macam apa yang mereka
butuhkan? Sebagai referensi, sesuai fungsi tulisan, isinya dapat berupa: pengetahuan
(mendidik), memberi informasi, menghibur, mengandung kontrol sosial, atau
gabungan dari keempat unsur fungsi tulisan ini.
3.
Media
Publikasi. Setelah menentukan sasaran pembaca, pertimbangkan melalui
media publikasi macam apa tulisan Anda akan disebarluaskan? Jika sudah tahu,
pelajari tulisan seperti apa yang diinginkan media tersebut.
4.
Tema
dan Ide. Tentukan tema tulisan Anda, lalu munculkan ide-ide
baru dan menarik. Gali bahan-bahan yang diperlukan untuk menunjang ide Anda. Bila
perlu lakukan riset agar tulisan Anda akurat.
5.
Mengembangkan
Ide.
Tuliskan ide Anda. Sebagus apa pun ide Anda, gagasan Anda tidak akan pernah
menjadi sebuah tulisan bila tidak pernah ditulis. Uraikan dan kembangkan ide Anda
ke dalam kalimat-kalimat yang mudah dipahami oleh sasaran pembaca.
6.
Unsur
Tulisan. Ketika mengembangkan ide, perhatikan unsur-unsur
tulisan. Pilih kata dan kalimat yang efektif. Bila Anda menulis puisi, tentu Anda
tidak perlu bingung apakah kata dan kalimat yang Anda pilih efektif atau tidak.
7.
Gaya
Tulisan. Buat dan kembangkan gaya tulisan Anda. Jangan
terpengaruh atau meniru gaya tulisan orang lain. Bagi seorang pemula memang
tidak gampang. Namun, bila Anda latihan terus-menerus, Anda akan menemukan gaya
sendiri.
8.
Ejaan
yang Disempurnakan. Jangan mengabaikan Ejaan yang
Disempurnakan (EyD). Perhatikan bagaimana menggunakan tanda baca, kalimat baku,
awalan, akhiran, kata depan, dan seterusnya.
9.
Swasunting.
Penulis yang baik selalu ingat menjalankan tugas editing, mengoreksi tulisannya
sendiri. Bila sudah selesai menulis, Anda wajib melakukan swasunting untuk
memperbaiki tanda baca, tata bahasa, kalimat, dan sebagainya.
10.
Latihan
Menulis. Bila Anda seorang penulis pemula, jangan pernah
berhenti berlatih. Lakukan setiap hari: menulis, menulis, dan menulis!
Contoh artikel
Presiden BBM***
Yulius P Silalahi
Wartawan Merdeka
ORANG boleh bernyanyi. Berpuisi
juga dipersilakan. Tetapi negeri sungsang dan tambal sulam ini tidak butuh
presiden yang dapat melantunkan lagu, yang bisa bersajak ria, melainkan
pemimpin yang mandiri dan berpihak kepada kejujuran.
Menonton perhelatan pesta demokrasi 2009 memang mengerikan. Ketika kampanye
capres-cawapres baru dimulai, capres incumbent
sudah bermain-main dengan kejujuran. Lewat lembaga survey yang membabi buta
menempatkannya sebagai capres paling populer, ternyata raportnya merupakan
hasil rekayasa. Klaim mengenai keberhasilan dan prestasi sepanjang sungai
mengalir pun dianulir Jusuf Kalla. Untung ketahuan sejak dini. Bila tidak,
berapa juta rakyat Indonesia yang menelan kebohongan?
Sejak pertama memimpin negeri ini, Presiden SBY memang dinilai meragukan,
bahkan diberi stigma peragu. Dan track
recordnya sepanjang periode 2004-2009 menghasilkan julukan Presiden BBM
–bisanya bikin mimpi.
Anekdot Presiden BBM sudah dimulai ketika janji pemerintah membawa angin
Agenda Perubahan tak banyak mengubah apa-apa. Pasalnya, kemiskinan
dipertahankan dengan memberikan dana BLT, korban lumpur Lapindo dibiarkan
bergerak ke sana-sini laksana main pingpong atau dipingpong, menjanjikan
pendidikan gratis tetapi harga buku mahal, berobat gratis bagi yang kurang
mampu tetapi prosedurnya sulit.
SBY memang memiliki sense of urgency,
namun lebih kepada rasa keterdesakan untuk membangun kekuatan demi
mempertahankan kekuasaan. Contoh sederhana, ketika ada yang mengkritisi hasil
kerjanya, ia langsung merespons secara halus dan santun, namun mengandung ancaman.
Katanya, “Jangan galak-galak dong.”
Sense of urgency Presiden BBM untuk mempertahankan kekuasaan makin kental
dalam Pilpres 2009. Tim suksesnya memakai istilah-istilah militer, misalnya Tim
Bayonet. Keren memang. Tetapi ketika Malaysia mengundang amuk dan duel di
Ambalat, reaksi pemerintah hanya bermain diplomasi. Padahal terbukti, bukan
sekali dua kali Malaysia mencuri milik negeri ini.
Demi merebut kursi kekuasaan yang kerap diwarnai black campaign, ada berita lucu terkait Ujian Akhir Semester (UAS)
mata pelajaran Sejarah untuk kelas Bahasa yang diujikan pada Senin (4/5) di
Madrasah Aliah Negeri (MAN) Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pertanyaannya memojokkan
Capres Megawati sekaligus menaikkan pamor SBY.
Soal nomor 30, tertulis pertanyaan, pada masa pemerintahan Megawati
Soekarnoputri terjadi disintegrasi bangsa, yaitu (A) Aceh dan Maluku, (B) Aceh
dan Madura, (C) Ambon dan Medan, (D) Kalimantan dan Bali, (E) Sulawesi dan
Medan. Berikutnya, soal nomor 31 tertulis, Presiden SBY adalah
Presiden RI ke: (A) 3, (B) 4, (C) 5, (D) 6, dan (E) 7.
Pertanyaan tendensius
itu jelas mengundang senyum kecut lantaran pascareformasi dari zaman Gus Dur,
Megawati sampai pemerintahan SBY, tak pernah terjadi disintegrasi bangsa.
Apalagi materi pertanyaan mengenai SBY diletakkan di nomor 31 sesuai nomor urut
Partai Demokrat.
Itu sekelumit ambisi rezim penguasa. Mesin politiknya bukan hanya
menghalalkan segala cara untuk ‘memukul’ Megawati melalui rantai birokrasi
pendidikan, melainkan juga bikin perut mual lantaran menyesatkan anak didik.
Politisasi semacam ini jelas amoral dan tidak mendidik.
Kini, dalam kampanye Pilpres 2009, Presiden BBM mengambil sikap menghemat
janji-janji surga. Kecuali menggandeng cawapres wajah baru, presiden yang
mencitrakan diri sebagai agen perubahan ini lebih banyak mengambil posisi
depensif. Dia lebih banyak mengajak kebersamaan. Jadi, bila kita masih sepakat
memilih presiden yang sama, ayo dukung slogan: Terus berjuang untuk rakyat. Lanjutkan penderitaan rakyat. [o]
***Dimuat di harian
MERDEKA edisi 10 Juni 2009.
0 komentar:
Posting Komentar