Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Kamis, 15 September 2011

Teknik Menulis Artikel

ADA banyak jenis tulisan. Artikel berbeda dengan puisi dan prosa.

Menulis jenis tulisan yang satu dan yang lain memerlukan teknik tertentu. Artikel ditulis berdasarkan informasi-informasi, fakta-fakta, data-data. Tema di dalam sebuah artikel dikupas secara singkat, padat, tidak bertele-tele, aktual, dan memiliki unsur daya tarik.

Ciri-ciri artikel
Lugas: tulisan langsung masuk ke pokok persoalan.
Logis: segala keterangan yang dipaparkan masuk akal, dapat diuji kebenarannya.
Tuntas: tema atau masalah disajikan secara mendalam.
Obyektif: keterangan dipaparkan sesuai fakta dan data, tidak melibatkan emosi berlebihan.
Cermat: menghindari kekeliruan sekecil apa pun.
Jelas: keterangan mudah dipahami.

Secara umum, tulisan yang baik adalah: bermakna dan memotivasi, enak dibaca, mudah dimengerti, kalimatnya nyambung, dan bebas salah ketik. Sebelum menulis artikel, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:
1.      Jenis Tulisan. Tentukan jenis tulisan Anda. Menentukan jenis tulisan perlu dilakukan karena memiliki pengaruh terhadap teknik menulis. Sebagai contoh, menulis cerita anak tentu berbeda dengan teknik menulis puisi.
2.      Sasaran Pembaca. Periksa, siapa pembaca Anda? Bila sasaran pembaca yang hendak dibidik sudah jelas, cari tahu tema tulisan macam apa yang mereka butuhkan? Sebagai referensi, sesuai fungsi tulisan, isinya dapat berupa: pengetahuan (mendidik), memberi informasi, menghibur, mengandung kontrol sosial, atau gabungan dari keempat unsur fungsi tulisan ini.
3.      Media Publikasi. Setelah menentukan sasaran pembaca, pertimbangkan melalui media publikasi macam apa tulisan Anda akan disebarluaskan? Jika sudah tahu, pelajari tulisan seperti apa yang diinginkan media tersebut.
4.      Tema dan Ide. Tentukan tema tulisan Anda, lalu munculkan ide-ide baru dan menarik. Gali bahan-bahan yang diperlukan untuk menunjang ide Anda. Bila perlu lakukan riset agar tulisan Anda akurat.
5.      Mengembangkan Ide. Tuliskan ide Anda. Sebagus apa pun ide Anda, gagasan Anda tidak akan pernah menjadi sebuah tulisan bila tidak pernah ditulis. Uraikan dan kembangkan ide Anda ke dalam kalimat-kalimat yang mudah dipahami oleh sasaran pembaca.
6.      Unsur Tulisan. Ketika mengembangkan ide, perhatikan unsur-unsur tulisan. Pilih kata dan kalimat yang efektif. Bila Anda menulis puisi, tentu Anda tidak perlu bingung apakah kata dan kalimat yang Anda pilih efektif atau tidak.
7.      Gaya Tulisan. Buat dan kembangkan gaya tulisan Anda. Jangan terpengaruh atau meniru gaya tulisan orang lain. Bagi seorang pemula memang tidak gampang. Namun, bila Anda latihan terus-menerus, Anda akan menemukan gaya sendiri.
8.      Ejaan yang Disempurnakan. Jangan mengabaikan Ejaan yang Disempurnakan (EyD). Perhatikan bagaimana menggunakan tanda baca, kalimat baku, awalan, akhiran, kata depan, dan seterusnya.
9.      Swasunting. Penulis yang baik selalu ingat menjalankan tugas editing, mengoreksi tulisannya sendiri. Bila sudah selesai menulis, Anda wajib melakukan swasunting untuk memperbaiki tanda baca, tata bahasa, kalimat, dan sebagainya.
10.  Latihan Menulis. Bila Anda seorang penulis pemula, jangan pernah berhenti berlatih. Lakukan setiap hari: menulis, menulis, dan menulis!


Contoh artikel

Presiden BBM***

Yulius P Silalahi
Wartawan Merdeka


ORANG boleh bernyanyi. Berpuisi juga dipersilakan. Tetapi negeri sungsang dan tambal sulam ini tidak butuh presiden yang dapat melantunkan lagu, yang bisa bersajak ria, melainkan pemimpin yang mandiri dan berpihak kepada kejujuran.

Menonton perhelatan pesta demokrasi 2009 memang mengerikan. Ketika kampanye capres-cawapres baru dimulai, capres incumbent sudah bermain-main dengan kejujuran. Lewat lembaga survey yang membabi buta menempatkannya sebagai capres paling populer, ternyata raportnya merupakan hasil rekayasa. Klaim mengenai keberhasilan dan prestasi sepanjang sungai mengalir pun dianulir Jusuf Kalla. Untung ketahuan sejak dini. Bila tidak, berapa juta rakyat Indonesia yang menelan kebohongan?
Sejak pertama memimpin negeri ini, Presiden SBY memang dinilai meragukan, bahkan diberi stigma peragu. Dan track recordnya sepanjang periode 2004-2009 menghasilkan julukan Presiden BBM –bisanya bikin mimpi.
Anekdot Presiden BBM sudah dimulai ketika janji pemerintah membawa angin Agenda Perubahan tak banyak mengubah apa-apa. Pasalnya, kemiskinan dipertahankan dengan memberikan dana BLT, korban lumpur Lapindo dibiarkan bergerak ke sana-sini laksana main pingpong atau dipingpong, menjanjikan pendidikan gratis tetapi harga buku mahal, berobat gratis bagi yang kurang mampu tetapi prosedurnya sulit.
SBY memang memiliki sense of urgency, namun lebih kepada rasa keterdesakan untuk membangun kekuatan demi mempertahankan kekuasaan. Contoh sederhana, ketika ada yang mengkritisi hasil kerjanya, ia langsung merespons secara halus dan santun, namun mengandung ancaman. Katanya, “Jangan galak-galak dong.”
Sense of urgency Presiden BBM untuk mempertahankan kekuasaan makin kental dalam Pilpres 2009. Tim suksesnya memakai istilah-istilah militer, misalnya Tim Bayonet. Keren memang. Tetapi ketika Malaysia mengundang amuk dan duel di Ambalat, reaksi pemerintah hanya bermain diplomasi. Padahal terbukti, bukan sekali dua kali Malaysia mencuri milik negeri ini.
Demi merebut kursi kekuasaan yang kerap diwarnai black campaign, ada berita lucu terkait Ujian Akhir Semester (UAS) mata pelajaran Sejarah untuk kelas Bahasa yang diujikan pada Senin (4/5) di Madrasah Aliah Negeri (MAN) Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pertanyaannya memojokkan Capres Megawati sekaligus menaikkan pamor SBY.
Soal nomor 30, tertulis pertanyaan, pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri terjadi disintegrasi bangsa, yaitu (A) Aceh dan Maluku, (B) Aceh dan Madura, (C) Ambon dan Medan, (D) Kalimantan dan Bali, (E) Sulawesi dan Medan. Berikutnya, soal nomor 31 tertulis, Presiden SBY adalah Presiden RI ke: (A) 3, (B) 4, (C) 5, (D) 6, dan (E) 7.
Pertanyaan tendensius itu jelas mengundang senyum kecut lantaran pascareformasi dari zaman Gus Dur, Megawati sampai pemerintahan SBY, tak pernah terjadi  disintegrasi bangsa. Apalagi materi pertanyaan mengenai SBY diletakkan di nomor 31 sesuai nomor urut Partai Demokrat.
Itu sekelumit ambisi rezim penguasa. Mesin politiknya bukan hanya menghalalkan segala cara untuk ‘memukul’ Megawati melalui rantai birokrasi pendidikan, melainkan juga bikin perut mual lantaran menyesatkan anak didik. Politisasi semacam ini jelas amoral dan tidak mendidik.
Kini, dalam kampanye Pilpres 2009, Presiden BBM mengambil sikap menghemat janji-janji surga. Kecuali menggandeng cawapres wajah baru, presiden yang mencitrakan diri sebagai agen perubahan ini lebih banyak mengambil posisi depensif. Dia lebih banyak mengajak kebersamaan. Jadi, bila kita masih sepakat memilih presiden yang sama, ayo dukung slogan: Terus berjuang untuk rakyat. Lanjutkan penderitaan rakyat. [o]

***Dimuat di harian MERDEKA edisi 10 Juni 2009.

0 komentar: