Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Jumat, 09 September 2011

Menginstal Karakter Bisnis Sang Naga

= = = = = = = = = =
Judul:
Awakening The Dragon Within
Penulis:
Johanes Ariffin Wijaya
Penyunting:
Deesis Edith M
Penerbit:
PT Bhuana Ilmu Populer
Tahun:
Jakarta, Januari 2008
Tebal:
170 hal
= = = = = = = = =

Orang Tionghoa dikenal pintar berdagang, pandai membangun jaringan bisnis. Kelebihan ini diyakini berhubungan erat dengan karakter naga, dan ternyata siapa pun dapat menginstal karakter bisnis naga, termasuk networker.

Marketer ala China bukan lagi sebuah rahasia. Johanes Ariffin Wijaya mengupasnya lewat buku “Awakening The Dragon Within”. Caranya, cukup mengadopsi karakter bisnis naga, setiap orang memiliki bekal menjadi seorang marketer atau networker sepintar orang Tionghoa.
Jo –panggilan akrab Johanes Ariffin Wijaya— mengungkapkan, sejak ribuan tahun silam masyarakat Tiongkok percaya bahwa naga merupakan simbol keberuntungan, kebijaksanaan, pembaruan, kekuatan, dan lambang produktivitas. Naga diyakini sebagai sumber kekuatan magis yang mampu mengontrol angin, hujan, gerak alam raya, dan penghubung antara manusia dan dunia gaib.
Orang Tionghoa adalah keturunan naga. Pasalnya, orang Tionghoa selalu menyebut diri sebagai generasi naga. Sebutan keturunan naga dimulai pada zaman Kaisar Huang Di. Konon, sebelum Huang Di menyatukan bagian tengah Tiongkok, totem mereka adalah beruang. Setelah Chiyou takluk dan Tiongkok disatukan, Huang Di melepaskan totem lama dan mulai menyembah totem baru, yaitu naga yang bagian kepalanya terdiri dari totem beruang dan badannya serupa ular.
Setelah naga menjadi totem nenek moyang orang Tionghoa, bangsa ini pun berhubungan erat dengan naga. “Jika nenek moyang bangsa Tionghoa menurut dongeng adalah generasi naga, maka anak-cucu bangsa Tionghoa tentu saja adalah generasi naga,” tulis Jo.

Sukses Ala Sang Naga
Setiap orang memiliki parameter memaknai kesuksesan. Sang naga juga mempunyai ukuran mengenai kesuksesan. Bagi naga, sukses adalah suatu konsep dan kondisi. Kekayaan adalah suatu kewajiban. Dan kebahagiaan adalah hak. Lantaran sukses, kekayaan, dan kebahagiaan melahirkan senyum paling indah, sang naga menginginkan keseimbangan antara sukses, kekayaan, dan kebahagiaan.
Di antara kesuksesan, kekayaan, dan kebahagiaan, bagi sang naga posisi kesehatan menempati tangga paling penting. Menurut naga, kesehatan yang baik sama pentingnya dengan kesuksesan. Naga percaya bahwa ketenaran, kekayaan, dan kekuasaan tidak berarti apa-apa jika seseorang sakit. Bagi naga, kesehatan sangat penting, dari dulu hingga sekarang.
Sang naga mengingatkan, seseorang dikatakan berhasil atau sukses ketika mereka dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu, kekayaan merupakan komponen kesuksesan, meskipun hal itu tidak melulu merujuk pada kekayaan materi berlimpah, tetapi bisa saja berupa kekayaan ilmu, kekayaan teman baik (ho peng), atau memiliki keluarga yang baik dan bahagia.
Dalam dunia kerja, karakter naga adalah bekerja tanpa kenal lelah. Bekerja adalah kenikmatan. Lebih banyak bekerja, lebih banyak kenikmatan yang diperoleh. Sang naga juga tidak asal kerja. Baginya seseorang dikatakan sukses jika dia berhasil menyeimbangkan antara kerja keras (work hard), kerja cerdas (work smart), dan bekerja dengan ikhlas (work heart).
Karakter lain dari naga yang sukses adalah selalu berkata dan bersikap jujur. Naga meyakini, jika ingin masa depan cerah, jagalah kejujuran dan kepercayaan, karena kepercayaan melahirkan kekuatan. Saling menjaga kepercayaan di dalam hubungan kerja sama membuat kita berpikiran positif. Prasangka baik dan kekuatan ini akan berlanjut sampai beberapa generasi mendatang. Maksudnya, jika bisa menjaga kepercayaan dengan rekan bisnis, generasi kedua dari rekan bisnis juga akan dapat bekerja sama dengan kita.
Satu pelajaran dari sang naga, jangan menganggap remeh persoalan menjaga kepercayaan. Sebab sekali seseorang berkata, bersikap, atau berbuat tidak jujur, sulit sekali untuk mendapatkan kepercayaan kembali.
Predikat orang yang “bisa dipercaya” sangat tinggi nilainya dalam lingkungan masyarakat Tionghoa. Dalam lingkungan bisnis, para naga menempatkan syarat “bisa dipercaya” pada urutan pertama dalam kerangka penilaian manusia berkualitas. Tanpa adanya unsur rasa kepercayaan, tak akan ada transaksi bisnis. Bagi sang naga, kepercayaan merupakan motor penggerak bisnis.
Masih ada sejumlah karakter naga yang lain yang dipaparkan penulis pada sejumlah halaman “Awakening The Dragon Within“. Setiap marketer atau networker dapat menginstal karakter-karakter naga ini ke dalam dirinya. Caranya diperlihatkan Johanes Ariffin Wijaya di bab terakhir. (yps)*

0 komentar: