__________________________________
Judul:
Tianshi
Bukan Bisnis Omong Kosong
Penulis:
Yulius
P Silalahi
Penerbit:
Bengkel
Penulis Fiksi & Nonfiksi [ALINEA]
Cetakan I:
Tangerang,
Agustus 2009
Tebal:
128
halaman
Harga:
Rp
15.000,-
____________________________________
OMONG
kosong! Pandangan miring ini acap dialamatkan ke pundak pelaku bisnis network
marketing. Apalagi sepanjang tahun 2002-2005, dipicu oleh Robert L FitzPatric
lewat artikel bertajuk “10 Kebohongan MLM”, jagat raya Multi-Level Marketing di
Tanah Air mengalami tekanan psikologis.
Tanpa
tedeng aling-aling, PitzPatric menyeruduk semua bentuk bisnis network
marketing. Menurut Presiden Pyramid Scheme Alert ini, metode MLM yang
dipraktikkan banyak perusahaan adalah tipu-daya pemasaran.
“MLM
menipu lantaran memanipulasi kepercayaan umum, kebutuhan sosial, kebutuhan
pribadi, dan sejumlah kecenderungan ekonomi yang terlihat dalam pertumbuhan MLM
ketimbang kemampuannya memenuhi kebutuhan pelanggan. Pemasaran ini tertolong
oleh langkanya evaluasi profesional atau penyelidikan oleh media bisnis yang
punya reputasi. Konsekwensinya, muncul dilusi populer didukung kesan bahwa MLM
adalah pilihan investasi bisnis dan karier yang hidup terus, menjanjikan setiap
orang dengan kemungkinan sukses dan dapat disamakan atau lebih baik dari
perdagangan, profesi, lapangan kerja atau bisnis lainnya,” sebut PitzPatric.
Secara
umum, kata PitzPatric, metode pemasaran MLM mengklaim potensi penghasilan
menjanjikan. Namun, deskripsinya mengenai model bisnis jaringan dan ramalannya
mengenai tujuan untuk mengendalikan distribusi produk sama absahnya seperti
penampakan piring terbang dalam dunia sains. Secara finansial, kemungkinan
seseorang memperoleh sukses keuangan dalam kondisi demikian tidak kalah dengan
kemungkinan seseorang menang di meja judi di Las Vegas.
Tanpa
kecuali, dalam pandangan PitzPatric, semua metode atau sistem pemasaran MLM
adalah bisnis penuh kebohongan. Bisnis omong kosong.
Tahun
2006, Yulius P Silalahi menyanggah pendapat PitzPatric lewat buku “Tianshi
Mendobrak Kebohongan MLM”. Penulis mengambil Tianshi sebagai studi kasus untuk
meluruskan “10 Kebohongan MLM”. Tianshi secara komprehensif merupakan jawaban
paripurna terhadap tuduhan tidak beralasan PitzPatric.
Menyusul
jejak PitzPatric, sebuah kelompok yang tergabung dalam situs tianshi-watch,
bloggaul, dan bravo9682 juga mengambil sikap penolakan terhadap bisnis MLM.
Hanya saja, berbeda dengan PitzPatric yang memukul semua perusahaan MLM,
situs-situs ini sejak tahun 2006 hingga buku ini disusun hanya membidik
Tianshi; secara simultan melancarkan kampanye bahwa bisnis Tianshi penuh
kebohongan. Bloggaul menayangkan tajuk “Gaya Bohong MLM Tianshi” dan
tianshi-watch merilis “Mustahil Orang Tianshi Bisa Menjawab”.
Baik
situs tianshi-watch, bloggaul, dan bravo9682 memiliki hubungan spesifik. Sebuah
artikel dalam situs bloggaul dapat dijumpai di tianshi-watch, bravo9682, dan
sebaliknya.
***
Skema Ponzi
Bila
buku “Tianshi Mendobrak Kebohongan MLM” merupakan jawaban paripurna terhadap
tuduhan tidak beralasan PitzPatrick, maka buku “Tianshi Bukan Omong Kosong”
adalah jawaban komprehensif terhadap topik “Mustahil Orang Tianshi Bisa
Menjawab” yang dilancarkan Tianshi-Watch Team sejak 4 Juli 2008 melalui situs
tianshi-watch. Buku ini menjawab seluruh kategori pertanyaan sulit, pertanyaan
lumayan sulit, dan pertanyaan mudah.
Memang,
secara historis, sejak lama bisnis MLM dianggap bisnis omong kosong. Fenomena
ini muncul gara-gara ulah Charles K Ponzi.
Dulu
Ponzi berhasil mengelabui banyak orang yang ingin cepat kaya. Kisahnya dimulai
pada musim panas tahun 1920 di Boston. Masyarakat di Pantai Timur Amerika yang
tengah dibelit kesulitan hidup di suatu pagi dikejutkan oleh desas-desus
peluang bisnis menggiurkan yang ditawarkan Ponzi. Kabar angin menyebutkan,
Ponzi menjual kertas ajaib berupa “kupon pos”. Setiap sen pembelian kupon,
hanya dalam hitungan 45 hari, bunganya dibayar 55 sen.
“Saya
ahli berdagang uang asing,” kata Ponzi bak penjual kecap nomor satu ketika
mempromosikan investasi berupa transaksi perangko Amerika terhadap perangko
negara asing.
Sebelum
menarik perhatian warga Boston, Ponzi memasarkan skema investasi tersebut
kepada kelompok kecil di New York tahun 1919. Investor dijanjikan keuntungan 50
persen dalam tempo 90 hari, ditambah komisi 10 persen bila setiap investor
berhasil membawa investor baru. Bonus diberikan kepada investor yang mampu
merekrut investor ketiga, keempat, dan seterusnya. Iming-iming ini sungguh
menggiurkan karena bunga bank saat itu hanya sebesar 5 persen per tahun.
Mulanya
orang ragu kepada tawaran si perantau sengsara macam Ponzi. Tapi ketika
investor yang bergabung duluan menerima bunga seperti yang dijanjikan, orang
sontak berbondong-bondong mendatangi perusahaan Ponzi yang diberi nama “The
Securities and Exchange Company”. Ponzi mendirikan perusahaan bodong ini pada
26 Desember 1919. Tiap hari, tak kurang dari 250 ribu dolar dana publik mengalir
ke pundi-pundi Ponzi. Dalam waktu singkat, hanya menjual surat perjanjian
(promissory notes), Ponzi berhasil meraup dana segar sekitar 15 juta dolar dari
40 ribu investor baru.
Masyarakat
di Amerika tak sadar, imigran celaka itu sebenarnya tidak melakukan apa-apa.
Bunga yang dibayarkan kepada investor sesungguhnya berasal dari aliran dana
yang baru masuk. Return luar biasa besar diperoleh Ponzi dari uang investor
lain yang menginvestasikan uangnya, bukan dari hasil pengelolaan uang para
investor.
Dalam
logika manajemen keuangan, guna mengembalikan uang investor plus bunga dan
keuntungan yang dijanjikan, seharusnya perusahaan mempunyai program yang jelas.
Tapi dalam hal ini Ponzi cukup memutar uang investor yang menumpuk di
kantongnya. Uang investor baru dikeluarkan sebagian untuk membayar janji kepada
investor lama.
Demikian
Ponzi menjalankan praktek bisnisnya. Melihat sistemnya, jelas yang diuntungkan
hanya investor-investor awal. Bila tak ada lagi penambahan investor baru atau
hanya sedikit penambahan jumlah investor, dapat ditebak bahwa perusahaan
(program) bakal tutup, tidak akan mampu lagi membayar bunga atau komisi kepada
investor.
Terbukti,
tatkala investor baru sulit dicari, Ponzi tak mampu membayar profit kepada para
investor. Pertengahan Agustus 1920, pemerintah yang melakukan audit terhadap
usaha Ponzi menemukan bahwa bisnis Ponzi sudah bangkrut. Total aset yang
dimilikinya hanya sekitar 1,6 juta dolar, jumlahnya jauh berada di bawah nilai
utangnya kepada para investor. Pria kelahiran 1882 ini akhirnya disidangkan
dengan tuduhan melakukan penipuan finansial.
Ketika
sidang ditunda, Ponzi berusaha kabur ke Italia. Namun, Ponzi berhasil diciduk
kembali oleh Sherrif saat kapalnya bersandar di New Orleans. Ponzi dibawa ke
Texas dan kemudian dipindahkan ke Massachusset. Pengadilan Massachusset
menjatuhkan hukuman penjara selama 14 tahun.
Sebelum
menjalani hukuman, Ponzi melarikan diri. Dalam pelarian, Ponzi mengulangi aksi
penipuan. Ia menawarkan spekulasi tanah di Florida. Aparat keamanan
menangkapnya dan pengadilan Florida menjebloskannya ke penjara pada tahun 1926
– 1934.
Usai
menjadi pesakitan, Ponzi diekstradisi ke Italia. Dari Italia, Ponzi berimigrasi
ke Brasil. Ponzi meninggal di RS Rio de Janeiro tahun 1949. Ia mendapatkan
warisan berupa uang pensiun dari pemerintah Brasil sebesar 75 dolar. Seluruh
uang pensiunan ini habis untuk biaya pemakamannya.
Ponzi
termasuk manusia kapiran. Sebelum menjalankan aksi penipuan di Amerika, ia
menetap di Kanada tahun 1903. Di negara ini Ponzi dua kali masuk penjara karena
kasus pemalsuan dan penipuan. Sepuluh hari setelah bebas, ia kembali ditangkap
lantaran melakukan penyelundupan orang ke Amerika. Ponzi ditahan dan dipenjara
di Atlanta.
Ponzi,
warganegara Italia, adalah orang yang menemukan serta mengaplikasikan ide
tentang program investasi dengan cara membayar profit investasi lama dari uang
setoran investor baru. Investor lama menerima keuntungan karena langsung
mendapatkan pengembalian.
Sistem
penggandaan uang yang dipraktikkan Ponzi dipastikan berakhir collapse, karena
jumlah investor terbatas. Saat investor baru tidak ada lagi atau berkurang
secara signifikan, cash in tidak dapat menutupi janji kepada investor lama.
Skema ini mengalami financial distress dan tidak mampu lagi membiayainya.
Penggandaan
uang yang dipraktikkan Ponzi dikenang dengan sebutan Skema Ponzi. Sebutan ini
diberikan untuk mengingatkan orang kepada modus operandi kejahatan Ponzi.
Hingga
kini, praktik penipuan universal yang diadopsi dari penemuan Ponzi masih muncul
di tengah masyarakat. Bentuknya mulai dari permainan uang sederhana seperti
arisan berantai hingga berupa bank gelap, berkedok penggarapan lahan
agrobisnis, perdagangan valuta asing, dan money game berkedok MLM.
Skema
piramid merupakan sebuah hirarki bertingkat yang terbentuk oleh orang-orang
yang bergabung menjadi anggotanya. Iuran peserta baru menjadi pendapatan bagi
peserta awal (posisi atas piramid) dengan harapan akan ada orang baru yang
bergabung (posisi bawah piramid) dan bersedia membayar iuran. Dalam
perkembangannya, Skema Ponzi tidak harus berbentuk piramid. Misalnya, cukup ada
satu orang yang mengelola pengumpulan uang dari investor dan ada biaya balas
jasa investasi yang menggiurkan kepada investor yang bergabung duluan.
Tahun
1990-an pernah terjadi krisis skema piramid berskala nasional. Peristiwa
menghebohkan ini terjadi di Albania, melibatkan banyak pejabat Albania tahun
1991 dan mencapai puncaknya pada tahun 1996-1997. Nilai investasi skema piramid
ini diperkirakan mencapai 50 persen dari produk nasional bruto Albania.
Akibatnya, ketika skema piramid runtuh, perekonomian Albania ikut runtuh dan
menimbulkan kerusuhan dengan korban mencapai dua ribu orang.
Hantu
money game juga bergentayangan di Indonesia. Kasus terbesar yang sempat muncul
ke permukaan adalah sistem penggandaan uang oleh BMA, Kospin Pinrang, Promail,
Probest, dan QSAR. Bahkan, kegiatan bisnis ketiga lembaga yang disebut terakhir
sering dihadiri pejabat negeri ini.
Money
game adalah kejahatan berantai. Setiap saat, korban terjungkal dibuatnya.
Pelaku money game berkeliaran bak vampir, tak pernah berhenti mengintai
mangsanya.
Skema
Ponzi dan bisnis MLM murni amat berlainan. Perbedaan paling mendasar, Skema
Ponzi merupakan bisnis omong kosong dan Tianshi bukan omong kosong.
Buku
“Tianshi Bukan Bisnis Omong Kosong” selain menjawab pandangan-pandangan miring
terhadap MLM, juga memaparkan bahwa bisnis MLM atau network marketing adalah
ilmu pasti. Materi ini disajikan pada Bab IV. [o]

0 komentar:
Posting Komentar