Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Jumat, 09 September 2011

Metode MLM Bukan Omong Kosong



__________________________________
Judul:
Tianshi Bukan Bisnis Omong Kosong
Penulis:
Yulius P Silalahi
Penerbit:
Bengkel Penulis Fiksi & Nonfiksi [ALINEA]
Cetakan I:
Tangerang, Agustus 2009
Tebal:
128 halaman
Harga:
Rp 15.000,-
____________________________________

OMONG kosong! Pandangan miring ini acap dialamatkan ke pundak pelaku bisnis network marketing. Apalagi sepanjang tahun 2002-2005, dipicu oleh Robert L FitzPatric lewat artikel bertajuk “10 Kebohongan MLM”, jagat raya Multi-Level Marketing di Tanah Air mengalami tekanan psikologis.
Tanpa tedeng aling-aling, PitzPatric menyeruduk semua bentuk bisnis network marketing. Menurut Presiden Pyramid Scheme Alert ini, metode MLM yang dipraktikkan banyak perusahaan adalah tipu-daya pemasaran.
“MLM menipu lantaran memanipulasi kepercayaan umum, kebutuhan sosial, kebutuhan pribadi, dan sejumlah kecenderungan ekonomi yang terlihat dalam pertumbuhan MLM ketimbang kemampuannya memenuhi kebutuhan pelanggan. Pemasaran ini tertolong oleh langkanya evaluasi profesional atau penyelidikan oleh media bisnis yang punya reputasi. Konsekwensinya, muncul dilusi populer didukung kesan bahwa MLM adalah pilihan investasi bisnis dan karier yang hidup terus, menjanjikan setiap orang dengan kemungkinan sukses dan dapat disamakan atau lebih baik dari perdagangan, profesi, lapangan kerja atau bisnis lainnya,” sebut PitzPatric.
Secara umum, kata PitzPatric, metode pemasaran MLM mengklaim potensi penghasilan menjanjikan. Namun, deskripsinya mengenai model bisnis jaringan dan ramalannya mengenai tujuan untuk mengendalikan distribusi produk sama absahnya seperti penampakan piring terbang dalam dunia sains. Secara finansial, kemungkinan seseorang memperoleh sukses keuangan dalam kondisi demikian tidak kalah dengan kemungkinan seseorang menang di meja judi di Las Vegas.
Tanpa kecuali, dalam pandangan PitzPatric, semua metode atau sistem pemasaran MLM adalah bisnis penuh kebohongan. Bisnis omong kosong.
Tahun 2006, Yulius P Silalahi menyanggah pendapat PitzPatric lewat buku “Tianshi Mendobrak Kebohongan MLM”. Penulis mengambil Tianshi sebagai studi kasus untuk meluruskan “10 Kebohongan MLM”. Tianshi secara komprehensif merupakan jawaban paripurna terhadap tuduhan tidak beralasan PitzPatric.
Menyusul jejak PitzPatric, sebuah kelompok yang tergabung dalam situs tianshi-watch, bloggaul, dan bravo9682 juga mengambil sikap penolakan terhadap bisnis MLM. Hanya saja, berbeda dengan PitzPatric yang memukul semua perusahaan MLM, situs-situs ini sejak tahun 2006 hingga buku ini disusun hanya membidik Tianshi; secara simultan melancarkan kampanye bahwa bisnis Tianshi penuh kebohongan. Bloggaul menayangkan tajuk “Gaya Bohong MLM Tianshi” dan tianshi-watch merilis “Mustahil Orang Tianshi Bisa Menjawab”.
Baik situs tianshi-watch, bloggaul, dan bravo9682 memiliki hubungan spesifik. Sebuah artikel dalam situs bloggaul dapat dijumpai di tianshi-watch, bravo9682, dan sebaliknya.
***

Skema Ponzi
Bila buku “Tianshi Mendobrak Kebohongan MLM” merupakan jawaban paripurna terhadap tuduhan tidak beralasan PitzPatrick, maka buku “Tianshi Bukan Omong Kosong” adalah jawaban komprehensif terhadap topik “Mustahil Orang Tianshi Bisa Menjawab” yang dilancarkan Tianshi-Watch Team sejak 4 Juli 2008 melalui situs tianshi-watch. Buku ini menjawab seluruh kategori pertanyaan sulit, pertanyaan lumayan sulit, dan pertanyaan mudah.
Memang, secara historis, sejak lama bisnis MLM dianggap bisnis omong kosong. Fenomena ini muncul gara-gara ulah Charles K Ponzi.
Dulu Ponzi berhasil mengelabui banyak orang yang ingin cepat kaya. Kisahnya dimulai pada musim panas tahun 1920 di Boston. Masyarakat di Pantai Timur Amerika yang tengah dibelit kesulitan hidup di suatu pagi dikejutkan oleh desas-desus peluang bisnis menggiurkan yang ditawarkan Ponzi. Kabar angin menyebutkan, Ponzi menjual kertas ajaib berupa “kupon pos”. Setiap sen pembelian kupon, hanya dalam hitungan 45 hari, bunganya dibayar 55 sen.
“Saya ahli berdagang uang asing,” kata Ponzi bak penjual kecap nomor satu ketika mempromosikan investasi berupa transaksi perangko Amerika terhadap perangko negara asing.
Sebelum menarik perhatian warga Boston, Ponzi memasarkan skema investasi tersebut kepada kelompok kecil di New York tahun 1919. Investor dijanjikan keuntungan 50 persen dalam tempo 90 hari, ditambah komisi 10 persen bila setiap investor berhasil membawa investor baru. Bonus diberikan kepada investor yang mampu merekrut investor ketiga, keempat, dan seterusnya. Iming-iming ini sungguh menggiurkan karena bunga bank saat itu hanya sebesar 5 persen per tahun.
Mulanya orang ragu kepada tawaran si perantau sengsara macam Ponzi. Tapi ketika investor yang bergabung duluan menerima bunga seperti yang dijanjikan, orang sontak berbondong-bondong mendatangi perusahaan Ponzi yang diberi nama “The Securities and Exchange Company”. Ponzi mendirikan perusahaan bodong ini pada 26 Desember 1919. Tiap hari, tak kurang dari 250 ribu dolar dana publik mengalir ke pundi-pundi Ponzi. Dalam waktu singkat, hanya menjual surat perjanjian (promissory notes), Ponzi berhasil meraup dana segar sekitar 15 juta dolar dari 40 ribu investor baru.
Masyarakat di Amerika tak sadar, imigran celaka itu sebenarnya tidak melakukan apa-apa. Bunga yang dibayarkan kepada investor sesungguhnya berasal dari aliran dana yang baru masuk. Return luar biasa besar diperoleh Ponzi dari uang investor lain yang menginvestasikan uangnya, bukan dari hasil pengelolaan uang para investor.
Dalam logika manajemen keuangan, guna mengembalikan uang investor plus bunga dan keuntungan yang dijanjikan, seharusnya perusahaan mempunyai program yang jelas. Tapi dalam hal ini Ponzi cukup memutar uang investor yang menumpuk di kantongnya. Uang investor baru dikeluarkan sebagian untuk membayar janji kepada investor lama.
Demikian Ponzi menjalankan praktek bisnisnya. Melihat sistemnya, jelas yang diuntungkan hanya investor-investor awal. Bila tak ada lagi penambahan investor baru atau hanya sedikit penambahan jumlah investor, dapat ditebak bahwa perusahaan (program) bakal tutup, tidak akan mampu lagi membayar bunga atau komisi kepada investor.
Terbukti, tatkala investor baru sulit dicari, Ponzi tak mampu membayar profit kepada para investor. Pertengahan Agustus 1920, pemerintah yang melakukan audit terhadap usaha Ponzi menemukan bahwa bisnis Ponzi sudah bangkrut. Total aset yang dimilikinya hanya sekitar 1,6 juta dolar, jumlahnya jauh berada di bawah nilai utangnya kepada para investor. Pria kelahiran 1882 ini akhirnya disidangkan dengan tuduhan melakukan penipuan finansial.
Ketika sidang ditunda, Ponzi berusaha kabur ke Italia. Namun, Ponzi berhasil diciduk kembali oleh Sherrif saat kapalnya bersandar di New Orleans. Ponzi dibawa ke Texas dan kemudian dipindahkan ke Massachusset. Pengadilan Massachusset menjatuhkan hukuman penjara selama 14 tahun.
Sebelum menjalani hukuman, Ponzi melarikan diri. Dalam pelarian, Ponzi mengulangi aksi penipuan. Ia menawarkan spekulasi tanah di Florida. Aparat keamanan menangkapnya dan pengadilan Florida menjebloskannya ke penjara pada tahun 1926 – 1934.
Usai menjadi pesakitan, Ponzi diekstradisi ke Italia. Dari Italia, Ponzi berimigrasi ke Brasil. Ponzi meninggal di RS Rio de Janeiro tahun 1949. Ia mendapatkan warisan berupa uang pensiun dari pemerintah Brasil sebesar 75 dolar. Seluruh uang pensiunan ini habis untuk biaya pemakamannya.
Ponzi termasuk manusia kapiran. Sebelum menjalankan aksi penipuan di Amerika, ia menetap di Kanada tahun 1903. Di negara ini Ponzi dua kali masuk penjara karena kasus pemalsuan dan penipuan. Sepuluh hari setelah bebas, ia kembali ditangkap lantaran melakukan penyelundupan orang ke Amerika. Ponzi ditahan dan dipenjara di Atlanta.
Ponzi, warganegara Italia, adalah orang yang menemukan serta mengaplikasikan ide tentang program investasi dengan cara membayar profit investasi lama dari uang setoran investor baru. Investor lama menerima keuntungan karena langsung mendapatkan pengembalian.
Sistem penggandaan uang yang dipraktikkan Ponzi dipastikan berakhir collapse, karena jumlah investor terbatas. Saat investor baru tidak ada lagi atau berkurang secara signifikan, cash in tidak dapat menutupi janji kepada investor lama. Skema ini mengalami financial distress dan tidak mampu lagi membiayainya.
Penggandaan uang yang dipraktikkan Ponzi dikenang dengan sebutan Skema Ponzi. Sebutan ini diberikan untuk mengingatkan orang kepada modus operandi kejahatan Ponzi.
Hingga kini, praktik penipuan universal yang diadopsi dari penemuan Ponzi masih muncul di tengah masyarakat. Bentuknya mulai dari permainan uang sederhana seperti arisan berantai hingga berupa bank gelap, berkedok penggarapan lahan agrobisnis, perdagangan valuta asing, dan money game berkedok MLM.
Skema piramid merupakan sebuah hirarki bertingkat yang terbentuk oleh orang-orang yang bergabung menjadi anggotanya. Iuran peserta baru menjadi pendapatan bagi peserta awal (posisi atas piramid) dengan harapan akan ada orang baru yang bergabung (posisi bawah piramid) dan bersedia membayar iuran. Dalam perkembangannya, Skema Ponzi tidak harus berbentuk piramid. Misalnya, cukup ada satu orang yang mengelola pengumpulan uang dari investor dan ada biaya balas jasa investasi yang menggiurkan kepada investor yang bergabung duluan.
Tahun 1990-an pernah terjadi krisis skema piramid berskala nasional. Peristiwa menghebohkan ini terjadi di Albania, melibatkan banyak pejabat Albania tahun 1991 dan mencapai puncaknya pada tahun 1996-1997. Nilai investasi skema piramid ini diperkirakan mencapai 50 persen dari produk nasional bruto Albania. Akibatnya, ketika skema piramid runtuh, perekonomian Albania ikut runtuh dan menimbulkan kerusuhan dengan korban mencapai dua ribu orang.
Hantu money game juga bergentayangan di Indonesia. Kasus terbesar yang sempat muncul ke permukaan adalah sistem penggandaan uang oleh BMA, Kospin Pinrang, Promail, Probest, dan QSAR. Bahkan, kegiatan bisnis ketiga lembaga yang disebut terakhir sering dihadiri pejabat negeri ini.
Money game adalah kejahatan berantai. Setiap saat, korban terjungkal dibuatnya. Pelaku money game berkeliaran bak vampir, tak pernah berhenti mengintai mangsanya.
Skema Ponzi dan bisnis MLM murni amat berlainan. Perbedaan paling mendasar, Skema Ponzi merupakan bisnis omong kosong dan Tianshi bukan omong kosong.
Buku “Tianshi Bukan Bisnis Omong Kosong” selain menjawab pandangan-pandangan miring terhadap MLM, juga memaparkan bahwa bisnis MLM atau network marketing adalah ilmu pasti. Materi ini disajikan pada Bab IV. [o]

0 komentar: