(1)
Jutaan detik yang
berlari ribuan mil ke belakang sesudah amarah melulu misteri. Kembali belajar
mengeja alif kehidupan: laut akan pasang dan suntuk dalam penantian. Elang akan
terbang dan hampa kehilangan ego. [Tuhan hanya melempar ayat kekuatan cinta kasih
sebagai penawar duka].
(2)
O, elang. O, laut.
Pelangi pertemuan dan perpisahan adalah genangan kebahagiaan, penderitaan, dan
air mata. Hitunglah hikmah dan hakikatnya. Aku sudah menikmati sekian ayat
kehidupan dan ateisme mati suri di peraduan.
(3)
O, laut. O, elang. Air
mata adalah puncak misteri kehidupan. Bila engkau laut, sekalipun gemercik
gelombangmu adalah milikmu, menderulah dalam alunan cinta. Bila engkau elang,
sekalipun kepak sayapmu adalah kepunyaanmu, terbanglah mengusung berita kasih.
[Tak seorang pun ingin laut kehilangan garam dan elang ditelan kegelapan]
4)
Kebersamaan laut dan
elang melelahkan. Tawa dan kesedihan menikah di dalamnya. Elang dan laut
mewarisi derita panjang. Kosa kata ‘ikhlas’ jadi peluru, teror, dan prahara.
Pada jutaan detik yang berdetak, laut menderu-deru tanpa toleransi, elang
melayang-layang tanpa jeda. Lagi, pada jutaan ilham yang tercetak, laut tumbang
di titian kebencian dan elang menjadi sublimat kepedihan. Laut dan elang
mengusung titik neraka. Tiap anak tangga impian dibangun, digergaji habis.
[Mohon maaf atas nama Tuhan sebagai mata uang paling murah diucapkan kehilangan
makna. Laut-elang tak lagi menyimpan rohnya. Laut justru beranjak pasang dan
siap menantang karang penderitaan. Elang pun rela mereguk air mata]
(5)
Wahai,
Detik perpisahan: Suara
gemercik laut, kepak sayap elang, menghilang di persimpangan jalan. Laut
menderu-deru mengikuti angin musim timur. Elang melayang-layang memburu ufuk
barat. Sekalipun laut dan elang pernah bercumbu, laut tetap laut, elang tetap
elang. [Biarlah, kenangan indah tak selamanya abadi].
(6)
O, putra-putri elang
dan laut. Egoisme laut-elang menelan keceriaanmu. Silakan mengikuti angin musim
timur atau memburu ufuk barat. Gamang memang. Usia sepagi milik kalian jelas
belum sanggup memilih misteri hidup. Mengikuti musim timur, engkau
terkenang-kenang kepak sayap elang. Memburu ufuk barat, engkau kehilangan deru
laut.
[Tabik, anak-anak
laut-elang. Sang Waktu harus berputar. Sekalipun engkau belum mengerti,
perpisahan laut-elang adalah salibmu. Tapi percayalah, kasih suci tak pernah
mati. Kasih itu abadi].
Yulius La Dossa
--09/11/2009--
0 komentar:
Posting Komentar