Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Minggu, 11 September 2011

Perpisahan Elang dan Laut

(1)
Jutaan detik yang berlari ribuan mil ke belakang sesudah amarah melulu misteri. Kembali belajar mengeja alif kehidupan: laut akan pasang dan suntuk dalam penantian. Elang akan terbang dan hampa kehilangan ego. [Tuhan hanya melempar ayat kekuatan cinta kasih sebagai penawar duka].

(2)
O, elang. O, laut. Pelangi pertemuan dan perpisahan adalah genangan kebahagiaan, penderitaan, dan air mata. Hitunglah hikmah dan hakikatnya. Aku sudah menikmati sekian ayat kehidupan dan ateisme mati suri di peraduan.

(3)
O, laut. O, elang. Air mata adalah puncak misteri kehidupan. Bila engkau laut, sekalipun gemercik gelombangmu adalah milikmu, menderulah dalam alunan cinta. Bila engkau elang, sekalipun kepak sayapmu adalah kepunyaanmu, terbanglah mengusung berita kasih. [Tak seorang pun ingin laut kehilangan garam dan elang ditelan kegelapan]
4)
Kebersamaan laut dan elang melelahkan. Tawa dan kesedihan menikah di dalamnya. Elang dan laut mewarisi derita panjang. Kosa kata ‘ikhlas’ jadi peluru, teror, dan prahara. Pada jutaan detik yang berdetak, laut menderu-deru tanpa toleransi, elang melayang-layang tanpa jeda. Lagi, pada jutaan ilham yang tercetak, laut tumbang di titian kebencian dan elang menjadi sublimat kepedihan. Laut dan elang mengusung titik neraka. Tiap anak tangga impian dibangun, digergaji habis. [Mohon maaf atas nama Tuhan sebagai mata uang paling murah diucapkan kehilangan makna. Laut-elang tak lagi menyimpan rohnya. Laut justru beranjak pasang dan siap menantang karang penderitaan. Elang pun rela mereguk air mata]

(5)
Wahai,
Detik perpisahan: Suara gemercik laut, kepak sayap elang, menghilang di persimpangan jalan. Laut menderu-deru mengikuti angin musim timur. Elang melayang-layang memburu ufuk barat. Sekalipun laut dan elang pernah bercumbu, laut tetap laut, elang tetap elang. [Biarlah, kenangan indah tak selamanya abadi].

(6)
O, putra-putri elang dan laut. Egoisme laut-elang menelan keceriaanmu. Silakan mengikuti angin musim timur atau memburu ufuk barat. Gamang memang. Usia sepagi milik kalian jelas belum sanggup memilih misteri hidup. Mengikuti musim timur, engkau terkenang-kenang kepak sayap elang. Memburu ufuk barat, engkau kehilangan deru laut.
[Tabik, anak-anak laut-elang. Sang Waktu harus berputar. Sekalipun engkau belum mengerti, perpisahan laut-elang adalah salibmu. Tapi percayalah, kasih suci tak pernah mati. Kasih itu abadi].

Yulius La Dossa
--09/11/2009--

0 komentar: