BERI DAKU
SUMBA
.......di
Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
...........aneh, aku jadi teringat Umbu
...........aneh, aku jadi teringat Umbu
Rinduku
pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah
rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Beri daku
sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba
Rinduku
pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki-kaki bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membennam di ufuk teduh
Yang turun menggemuruh di kaki-kaki bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membennam di ufuk teduh
Rinduku
pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki-kaki bukit yang jauh
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki-kaki bukit yang jauh
1970
Sumber:
SBSB 2005, Horison, Ditjen Dikdasmen 2005
SBSB 2005, Horison, Ditjen Dikdasmen 2005
DEPAN
SEKRETARIAT NEGARA
Setelah
korban diusung
Tergesa-gesa
Ke luar jalanan
Tergesa-gesa
Ke luar jalanan
Kami semua
menyanyi
“Gugur Bunga”
Perlahan-lahan
“Gugur Bunga”
Perlahan-lahan
Perajurit
ini
Membuka baretnya
Airmata tak tertahan
Membuka baretnya
Airmata tak tertahan
Di puncak
Gayatri
Menunduklah bendera
Di belakangnya segumpal awan.
Menunduklah bendera
Di belakangnya segumpal awan.
1966
Sumber:
Jakarta dalam Puisi Indonesia, Ed. Ayip Rosidi, Dewan Kesenian Jakarta, cetakan pertama, 1972.
Jakarta dalam Puisi Indonesia, Ed. Ayip Rosidi, Dewan Kesenian Jakarta, cetakan pertama, 1972.
0 komentar:
Posting Komentar