Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Minggu, 11 September 2011

KAMBING HITAM

(I)
Tuhan selalu bikin saya marah. Tadi pagi, si sulung mandi air comberan. Ia didorong anak tetangga masuk selokan. Saya kesal kepada-NYA. Mengapa si Yudi dibiarkan memukul anakku?

(II)
Kali lain Tuhan bikin dua kesalahan. Selagi saya mandi, Ibu RT mengetuk pintu menagih uang arisan, sementara ibunya anak-anak entah bertandang ke mana. Mengapa Tuhan tidak mempertemukan mereka di ujung jalan?

(III)
Bukan sekali dua kali saya dibikin marah. Tanggal 20 Juni 1996, saya dibuat ketakutan di Stasiun Gambir. Kepalaku nyaris pecah disambar batu kali, yang dilempar orang-orang berbaju merah secara membabi buta.
Sialnya, sampai di rumah, ibunya anak-anak tidak tertarik mendengar Insiden Gambir itu. Ia justru menyuruhku segera mencari atau membeli air. "Buruan. Sejak pagi air PAM tidak ngucur!" katanya enteng.

(IV)
Tuhan selalu bikin saya marah. Dalam banyak kesempatan, Ia bakar kemarahan saya dengan modus operandi berbeda. Sore ini paling menjengkelkan. Sudah tahu istriku besok mau pulang kampung, rumah kontrakan belum bayar, asma si mBok kambuh, tapi masih tega mempermainkan nasib orang. Ia tidak membuka hati bosku membayar THR. Bahkan menunda hari gajian.
Aku marah sekali. Apalagi, hari ini, surat kabar memberitakan: si bos mendirikan 108 masjid, membiayai perjalanan umroh 100 orang, dan membeli bank seharga 350 milyar rupiah.

(V)
Tuhan selalu bikin saya marah. "Kemanakah doa-doaku berlari?"


Yulius La Dossa
--07/02/1997--

0 komentar: