(I)
Tuhan selalu bikin saya
marah. Tadi pagi, si sulung mandi air comberan. Ia didorong anak tetangga masuk
selokan. Saya kesal kepada-NYA. Mengapa si Yudi dibiarkan memukul anakku?
(II)
Kali lain Tuhan bikin
dua kesalahan. Selagi saya mandi, Ibu RT mengetuk pintu menagih uang arisan,
sementara ibunya anak-anak entah bertandang ke mana. Mengapa Tuhan tidak
mempertemukan mereka di ujung jalan?
(III)
Bukan sekali dua kali
saya dibikin marah. Tanggal 20 Juni 1996, saya dibuat ketakutan di Stasiun
Gambir. Kepalaku nyaris pecah disambar batu kali, yang dilempar orang-orang
berbaju merah secara membabi buta.
Sialnya, sampai di
rumah, ibunya anak-anak tidak tertarik mendengar Insiden Gambir itu. Ia justru
menyuruhku segera mencari atau membeli air. "Buruan. Sejak pagi air PAM
tidak ngucur!" katanya enteng.
(IV)
Tuhan selalu bikin saya
marah. Dalam banyak kesempatan, Ia bakar kemarahan saya dengan modus operandi
berbeda. Sore ini paling menjengkelkan. Sudah tahu istriku besok mau pulang
kampung, rumah kontrakan belum bayar, asma si mBok kambuh, tapi masih tega
mempermainkan nasib orang. Ia tidak membuka hati bosku membayar THR. Bahkan
menunda hari gajian.
Aku marah sekali.
Apalagi, hari ini, surat kabar memberitakan: si bos mendirikan 108 masjid,
membiayai perjalanan umroh 100 orang, dan membeli bank seharga 350 milyar
rupiah.
(V)
Tuhan selalu bikin saya
marah. "Kemanakah doa-doaku berlari?"
Yulius La Dossa
--07/02/1997--
0 komentar:
Posting Komentar