Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Kamis, 15 September 2011

Teknik Membaca Puisi

Pelukis dan budayawan Popo Iskandar mengatakan, puisi adalah seni dari segala seni. “Puisi adalah bentuk sastra yang kental dengan musik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana,” papar Muhammad Hj Salleh.

            Puisi setelah dibaca menjadikan kita lebih bijaksana? Waw!
            Dulu, seorang filsuf besar Perancis sakit lumpuh. Di hadapannya, Moh Iqbal, keturunan Brahmana asal Kashmir, membacakan puisi berjudul “La Tasubu Dzahra” (Jangan Melalaikan Waktu). Sehabis mendengar Moh Iqbal --pria kelahiran 22 Februari 1873 di Sialkot-Punjab-- membacakan karyanya, sang filsuf terlonjak berdiri dari kursinya. Ia mampu bangun lantaran hatinya tergugah oleh isi puisi sang penyair.
            Unik memang. Terlepas dari pengalaman sang filsuf, muncul pertanyaan, apa yang harus diperhatikan bila hendak membacakan puisi? Jawabannya: interpretasi, vokal, dan penampilan.
       Interpretasi adalah kemampuan menafsirkan makna puisi. Di dalam proses memahami isi puisi, diperlukan ketajaman visi dan emosi. Membedah isi puisi merupakan upaya awal yang harus dilakukan seorang pembaca puisi, sehingga mampu mengungkap makna yang tersirat dari untaian kata yang tersurat.
            Itu interpetasi. Vokal sendiri mengandung sejumlah unsur yang mesti diketahui pembaca puisi, yaitu:
Artikulasi, yaitu pengucapan kata yang utuh dan jelas pada setiap huruf.
Diksi, yaitu pengucapan kata demi kata dengan tekanan yang bervariasi dan rasa.
Tempo, yaitu cepat lambatnya pengucapan. Pembaca puisi harus cerdik mengatur kekuatan nafas, mengerti kapan ada jeda, menyambung, dan mencuri nafas.
Dinamika, yaitu lemah kerasnya suara. Suara pembaca puisi harus sampai ke telinga penonton dengan kemampuan mengatur rima dan irama, naik turun volume, keras lembut diksi, dan menjaga harmoni naik turunnya nada suara.
Modulasi, yaitu kemampuan mengubah suara saat membaca puisi.
Intonasi, yaitu tekanan dan laju kalimat yang dibacakan.
Jeda, yaitu pemenggalan sebuah kalimat puisi.
Pernafasan, yaitu menggunakan –biasanya—pernafasan perut saat membaca puisi.
Terakhir mengenai penampilan. Penampilan adalah kepribadian atau performance di atas pentas. Penampilan termasuk salah satu faktor penentu keberhasilan seorang pembaca puisi. Dia dapat tampil di atas panggung dengan memberikan kesan tenang, berwibawa, dan meyakinkan. 
Penampilan yang perlu diperhatikan pembaca puisi meliputi: 
Gerak. Gerakan ketika membaca puisi harus mendukung isi puisi yang dibaca. Gerak anggota tubuh, misalnya tangan, jangan sampai sekadar klise.
Komunikasi. Saat membaca puisi, dapat memberikan sentuhan; menggetarkan jiwa dan perasaan penonton.
Ekspresi. Perlihatkan hasil pemahaman dan penghayatan dengan ekspresi yang pas dan wajar
Konsentrasi. Mampu memusatkan pikiran terhadap isi puisi yang dibacakan.

Akhir kata, intinya, dalam teknik membaca puisi, seorang pembaca puisi harus mampu menghadirkan jiwa sang penyair.

0 komentar: