Musisi Leo Kristi bukan hantu. Tapi, ia suka muncul mendadak di
suatu tempat. Padahal, sebelumnya ia bilang berada di kota lain. Ia memang bohemian
tulen.
SUATU hari Leo Kristi
tiba-tiba muncul di Jakarta. Ia datang entah dari mana sambil memanggul gitar.
Pemusik yang dikenal lebih mencintai jalanan ini memang begitu. Bisa saja hari
ini ia bilang berada di Wonosari (Jawa Tengah) mengumpulkan anak-anak petani
untuk bermusik. Di lain waktu di Gorontalo (Sulawesi) untuk tujuan sama. Tapi
tiba-tiba, tempo hari, ia memuaskan dahaga penggemarnya melalui konser rakyat
bertajuk “Gema Nyanyian Pahlawan” di Appartement Lavande Residence, Jl Dr
Sahardjo, Jakarta Selatan.
Orang tahunya Leo
tinggal di Surabaya. Tapi jangan pernah berharap memaksanya harus ada di suatu
tempat. Untuk menulis lirik lagu saja ia tak suka mengurung diri di dalam
kamar. Jiwa pelantun syair ini bukan hanya terhadap kemanusiaan dan keadilan,
tapi juga liar. Ayah dari Panji dan Rayu ini termasuk seniman rakyat yang
langka. Ia tak suka didikte, bahkan oleh industri rekaman sekalipun.
Tahun 70-an nama Leo
Kristi sangat populer setelah abumnya bertajuk “Nyanyian Fajar” dirilis Majalah
Aktuil. Ia lahir dari keluarga berada. Ayahnya cukup terhormat dan kaya. Tapi
Leo lebih suka bergaul dengan rakyat jelata, sampai meninggalkan bangku
kuliahnya di Arsitektur ITS.
Barangkali lantaran
dekat dengan rakyat kecil, Leo dijuluki trubadur yang kerap menceritakan duka
rakyat kecil. Ada nelayan, petani, sopir, atau hati yang terluka. Ia
melantunkannya dengan bergaya bertutur dan bersahaja. Tentang petani, lewat
“Lagu Salam Dari Desa”, Leo Kristi bernyanyi begini:
Kalau ke kota esok pagi
Sampaikan salam rinduku
Katakan padanya
padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang,
roda lori berputar-putar siang malam
Tapi bukan kami punya
Lewat lagu-lagunya,
pria kelahiran Surabaya, 8 Agustus 1949, ini juga diakui sanggup memompa
semangat optimisme. Membuat orang bisa lebih mencintai Tanah Air.
Orang selalu rindu pada
petikan gitar, tiupan harmonika, tepukan, siulan, dan hentak kaki bertenaga
khas Leo. Digambarkan, lengkingan vibrasi vokalnya yang semi seriosa, alun
suaranya yang penuh tikungan falseto, telah jauh melampaui urusan teknik. Syair-syairnya
penuh dengan metafora orisinil, menggetarkan, dan jujur. "Mendengar Leo
seperti larut dalam sembayang panjang,” kata Ramdan Malik, penggemar Leo.
Penggemar berat yang
rajin mencatat perjalanan Leo Kristi adalah Kurnia Effendi. Cerpenis ini sangat
menghayati setiap kata dari seluruh lagu Leo. Ketika menyampaikan Orasi Senja
Raya Indonesia Merdeka yang berlangsung tahun 2008 di MP Book Point, ia
mereferensentasikan lirik-lirik lagu sang idola dan membuka orasinya dengan
mengutip “Tanah Merdeka”Leo Kristi.
Pagi itu di empat lima
Kami semua menyanyikan
lagu bersatu negeri
Pagi itu di kaki lima
Kami semua menyanyikan
lagu bebasnya negeri
Di tanah merdeka ini,
hitam tetap hitam
Di tanah merdeka ini,
putih tetap putih
Janganlah kau cemas,
ayo menyanyi
Pagi ini di sudut
jalanan
Seorang gelandangan
menyanyikan lagu bagimu negeri
Kita masih bisa melihat
seorang lelaki trubador lebih separuh baya, 58 tahun, dengan setelan hitam
menyandang gitar ke mana ia melangkah. Seorang ibu yang mencintainya memberi
nama gitarnya ”Keris Sakti” yang kemudian diringkas menjadi Kristi. Ia jejaki
jalan setapak Nusantara, beribu kilometer, bertahun-tahun lamanya, namun baru
menginjak ranah Aceh tahun 2006 dengan perasaan yang gemetar. Di sana ia
menyanyi tujuh lagu untuk penggemarnya yang tak terpetakan lagi, termasuk di
antaranya tembang menyayat: ”Laut Lepas Kita Pergi”.
Layar-layar di dermaga,
telah tunggu, telah tunggu
Teguklah cangkir kopi
terakhir, ucapkanlah selamat tinggal
Laut lepas kita
pergi....
Ia, Leo Kristi, sangat
mencintai laut. Mungkin karena pernah menyusuri pantai-pantai panjang Indonesia
dengan rasa kasih tersendiri. Ia tak hanya menyapa sang nelayan namun lebur
dalam kehidupan angin garam mereka. Ia menghayati makna yang tersurat maupun
yang tersirat kehidupan keluarga para pelaut. Berangkat ke tengah samudera
didorong angin darat. Terayun-ayun sepanjang malam dalam gelombang yang tak
terduga. Pulang ke pantai saat fajar merekah memecah langit. Tapi suatu hari,
nelayan muda tak pulang ke rumah.
Berbondong-bondong
nelayan ke laut
Apakah yang terjadi aku
tak tahu
Apakah yang terjadi
hei, di situ
Kiranya nelayan muda
kembali hanya perahu
Meninggalkan istri lama
bersedih menunggu
Leo Kristi juga
mencintai tanah kelahirannya: Surabaya. Hampir seluruh kejadian sehari-hari
muncul dari suasana kota yang ribut dan panas di pantai utara Jawa Timur. Leo
bisa menggambarkannya melalui banyak hal untuk kota yang sudah menjadi darah
dan keringatnya itu. Lewat perjalanan kereta api (”Di Deretan Rel-rel”, ”O,
Danae”, ”Sudut Jalan Surabaya 1979”), melalui riuh kota (”O, Surabaya”, ”Rumput
Raya Kemesraan”), melalui aliran sungai Kalimas (”Tepi Surabaya”), dan banyak
lagi.
Menceritakan kesaksian
Leo Kristi dalam rentang panjang usianya, kata Kurnia Effendi, tak cukup
semalam. Barangkali perlu bermalam-malam di bawah bintang salib. Ada yang harus
dicermati secara mendalam ketika menunggu bibirnya bergerak mengucapkan
sesuatu. Ia tak pandai menyampaikan isyarat batinnya yang kaya secara spontan,
apalagi di atas panggung. Tetapi lihatlah, bagaimana satu kakinya terpacak di
atas separuh tong, mengentak seirama kibasan tangannya menyapu enam atau dua
belas senar gitarnya. Mukanya tengadah dan suaranya membahana melantangkan
semangat memuja pahlawan.
Semangat memuja
pahlawan, siang itu keluar dari bibir Leo Kristi sebagai nyanyian rakyat kecil.
Penggemar Leo lain,
Amir H Daulay, menyebutkan, nama aslinya Leo Iman Sukarno. Di masa kecilnya,
hampir tiap pagi menjelang subuh Leo terbiasa dibuai irama musik. Ayahnya,
Raden Ngabei Iman Soebiantoro, pensiunan pegawai negeri, kebetulan pemain
musik. Di pagi yang dingin itu, dari kamar ayah dan ibunya, selalu terdengar
musik lembut. ''Rasanya, indah sekali dan menimbulkan goresan mendalam di
sanubari saya,'' Leo mengenang.
Anak kedua dari empat
bersaudara ini sejak di SD aktif dalam kegiatan menyanyi di gereja, bagian dari
kegiatan sekolahnya yang Kristen --padahal ia sendiri Islam. Ia pernah
mengatakan, ''Saya menerima musik sebagai sahabat, menyambut nyanyian sebagai
kecintaan.''
Di SMP pula ia mendapat
sebuah gitar dari ayahnya. Lalu, ia masuk kursus Tony Kerdijk, Direktur Sekolah
Musik Rakyat di Surabaya. Untuk menyanyi ia belajar pada Nuri Hidayat dan John
Topan. ''Itulah sekolah formal saya di bidang musik,'' tuturnya.
Di SMA I Surabaya, ia
tidak lepas dari kewajiban berbaris dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di
bawah Tugu Pahlawan --atas ketentuan kepala sekolah yang patriotismenya
menggebu-gebu. ''Tiap minggu bisa tiga sampai empat kali,'' tutur Leo.
Musik Leo, yang lahir
atas nama grup Konser Rakyat Leo Kristi –semula bersama Naniel, Mung, dan
penyanyi Tatiek dan Yayuk, lantas mengubah barisan dengan anggota Ote, Komang,
Cok Bagus, dan penyanyi kakak beradik Yana dan Nana van Derkley, selain Mung
yang masih tetap --menyenandungkan balada, semangat cinta bangsa, dan kisah-
kisah rakyat. Lebih banyak dalam irama folk, country, dan didukung dengan
lirik-lirik yang puitis.
''Ibulah sumber magnet,
yang menggebrak saya dalam kesungguhan. Suatu hari beliau berkata, jadilah
musikus yang patriotik,'' kata Leo. (Yulius P Silalahi)
Album Leo Kristi
Nyanyian Fajar (1975)
Nyanyian Malam (1975)
Nyanyian Tanah Merdeka
(1977)
Nyanyian Cinta (1978)
Lintasan Hijau Hitam
(1983)
Lintasan Biru Emas
(1984)
Potret Kecil Citra
Negeriku (1984)
Biru Emas Bintang Tani
(1985)
Diapenta Anak Merdeka
(1993)
Nyanyian Tambur Jalan
(1993)
Catur Paramita (1993)
***Dimuat di Harian
MERDEKA edisi Sabtu, 15 November 2008
0 komentar:
Posting Komentar