Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Minggu, 11 September 2011

Nyanyian Rakyat Ala Sang Trubadur***

Musisi Leo Kristi bukan hantu. Tapi, ia suka muncul mendadak di suatu tempat. Padahal, sebelumnya ia bilang berada di kota lain. Ia memang bohemian tulen.

SUATU hari Leo Kristi tiba-tiba muncul di Jakarta. Ia datang entah dari mana sambil memanggul gitar. Pemusik yang dikenal lebih mencintai jalanan ini memang begitu. Bisa saja hari ini ia bilang berada di Wonosari (Jawa Tengah) mengumpulkan anak-anak petani untuk bermusik. Di lain waktu di Gorontalo (Sulawesi) untuk tujuan sama. Tapi tiba-tiba, tempo hari, ia memuaskan dahaga penggemarnya melalui konser rakyat bertajuk “Gema Nyanyian Pahlawan” di Appartement Lavande Residence, Jl Dr Sahardjo, Jakarta Selatan.

Orang tahunya Leo tinggal di Surabaya. Tapi jangan pernah berharap memaksanya harus ada di suatu tempat. Untuk menulis lirik lagu saja ia tak suka mengurung diri di dalam kamar. Jiwa pelantun syair ini bukan hanya terhadap kemanusiaan dan keadilan, tapi juga liar. Ayah dari Panji dan Rayu ini termasuk seniman rakyat yang langka. Ia tak suka didikte, bahkan oleh industri rekaman sekalipun.

Tahun 70-an nama Leo Kristi sangat populer setelah abumnya bertajuk “Nyanyian Fajar” dirilis Majalah Aktuil. Ia lahir dari keluarga berada. Ayahnya cukup terhormat dan kaya. Tapi Leo lebih suka bergaul dengan rakyat jelata, sampai meninggalkan bangku kuliahnya di Arsitektur ITS.

Barangkali lantaran dekat dengan rakyat kecil, Leo dijuluki trubadur yang kerap menceritakan duka rakyat kecil. Ada nelayan, petani, sopir, atau hati yang terluka. Ia melantunkannya dengan bergaya bertutur dan bersahaja. Tentang petani, lewat “Lagu Salam Dari Desa”, Leo Kristi bernyanyi begini:
Kalau ke kota esok pagi
Sampaikan salam rinduku
Katakan padanya padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang, roda lori berputar-putar siang malam
Tapi bukan kami punya

Lewat lagu-lagunya, pria kelahiran Surabaya, 8 Agustus 1949, ini juga diakui sanggup memompa semangat optimisme. Membuat orang bisa lebih mencintai Tanah Air.

Orang selalu rindu pada petikan gitar, tiupan harmonika, tepukan, siulan, dan hentak kaki bertenaga khas Leo. Digambarkan, lengkingan vibrasi vokalnya yang semi seriosa, alun suaranya yang penuh tikungan falseto, telah jauh melampaui urusan teknik. Syair-syairnya penuh dengan metafora orisinil, menggetarkan, dan jujur. "Mendengar Leo seperti larut dalam sembayang panjang,” kata Ramdan Malik, penggemar Leo.

Penggemar berat yang rajin mencatat perjalanan Leo Kristi adalah Kurnia Effendi. Cerpenis ini sangat menghayati setiap kata dari seluruh lagu Leo. Ketika menyampaikan Orasi Senja Raya Indonesia Merdeka yang berlangsung tahun 2008 di MP Book Point, ia mereferensentasikan lirik-lirik lagu sang idola dan membuka orasinya dengan mengutip “Tanah Merdeka”Leo Kristi.
Pagi itu di empat lima
Kami semua menyanyikan lagu bersatu negeri
Pagi itu di kaki lima
Kami semua menyanyikan lagu bebasnya negeri
Di tanah merdeka ini, hitam tetap hitam
Di tanah merdeka ini, putih tetap putih
Janganlah kau cemas, ayo menyanyi
Pagi ini di sudut jalanan
Seorang gelandangan menyanyikan lagu bagimu negeri

Kita masih bisa melihat seorang lelaki trubador lebih separuh baya, 58 tahun, dengan setelan hitam menyandang gitar ke mana ia melangkah. Seorang ibu yang mencintainya memberi nama gitarnya ”Keris Sakti” yang kemudian diringkas menjadi Kristi. Ia jejaki jalan setapak Nusantara, beribu kilometer, bertahun-tahun lamanya, namun baru menginjak ranah Aceh tahun 2006 dengan perasaan yang gemetar. Di sana ia menyanyi tujuh lagu untuk penggemarnya yang tak terpetakan lagi, termasuk di antaranya tembang menyayat: ”Laut Lepas Kita Pergi”.
Layar-layar di dermaga, telah tunggu, telah tunggu
Teguklah cangkir kopi terakhir, ucapkanlah selamat tinggal
Laut lepas kita pergi....

Ia, Leo Kristi, sangat mencintai laut. Mungkin karena pernah menyusuri pantai-pantai panjang Indonesia dengan rasa kasih tersendiri. Ia tak hanya menyapa sang nelayan namun lebur dalam kehidupan angin garam mereka. Ia menghayati makna yang tersurat maupun yang tersirat kehidupan keluarga para pelaut. Berangkat ke tengah samudera didorong angin darat. Terayun-ayun sepanjang malam dalam gelombang yang tak terduga. Pulang ke pantai saat fajar merekah memecah langit. Tapi suatu hari, nelayan muda tak pulang ke rumah.
Berbondong-bondong nelayan ke laut
Apakah yang terjadi aku tak tahu
Apakah yang terjadi hei, di situ
Kiranya nelayan muda kembali hanya perahu
Meninggalkan istri lama bersedih menunggu

Leo Kristi juga mencintai tanah kelahirannya: Surabaya. Hampir seluruh kejadian sehari-hari muncul dari suasana kota yang ribut dan panas di pantai utara Jawa Timur. Leo bisa menggambarkannya melalui banyak hal untuk kota yang sudah menjadi darah dan keringatnya itu. Lewat perjalanan kereta api (”Di Deretan Rel-rel”, ”O, Danae”, ”Sudut Jalan Surabaya 1979”), melalui riuh kota (”O, Surabaya”, ”Rumput Raya Kemesraan”), melalui aliran sungai Kalimas (”Tepi Surabaya”), dan banyak lagi.

Menceritakan kesaksian Leo Kristi dalam rentang panjang usianya, kata Kurnia Effendi, tak cukup semalam. Barangkali perlu bermalam-malam di bawah bintang salib. Ada yang harus dicermati secara mendalam ketika menunggu bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu. Ia tak pandai menyampaikan isyarat batinnya yang kaya secara spontan, apalagi di atas panggung. Tetapi lihatlah, bagaimana satu kakinya terpacak di atas separuh tong, mengentak seirama kibasan tangannya menyapu enam atau dua belas senar gitarnya. Mukanya tengadah dan suaranya membahana melantangkan semangat memuja pahlawan.

Semangat memuja pahlawan, siang itu keluar dari bibir Leo Kristi sebagai nyanyian rakyat kecil.

Penggemar Leo lain, Amir H Daulay, menyebutkan, nama aslinya Leo Iman Sukarno. Di masa kecilnya, hampir tiap pagi menjelang subuh Leo terbiasa dibuai irama musik. Ayahnya, Raden Ngabei Iman Soebiantoro, pensiunan pegawai negeri, kebetulan pemain musik. Di pagi yang dingin itu, dari kamar ayah dan ibunya, selalu terdengar musik lembut. ''Rasanya, indah sekali dan menimbulkan goresan mendalam di sanubari saya,'' Leo mengenang.

Anak kedua dari empat bersaudara ini sejak di SD aktif dalam kegiatan menyanyi di gereja, bagian dari kegiatan sekolahnya yang Kristen --padahal ia sendiri Islam. Ia pernah mengatakan, ''Saya menerima musik sebagai sahabat, menyambut nyanyian sebagai kecintaan.''

Di SMP pula ia mendapat sebuah gitar dari ayahnya. Lalu, ia masuk kursus Tony Kerdijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Untuk menyanyi ia belajar pada Nuri Hidayat dan John Topan. ''Itulah sekolah formal saya di bidang musik,'' tuturnya.

Di SMA I Surabaya, ia tidak lepas dari kewajiban berbaris dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di bawah Tugu Pahlawan --atas ketentuan kepala sekolah yang patriotismenya menggebu-gebu. ''Tiap minggu bisa tiga sampai empat kali,'' tutur Leo.

Musik Leo, yang lahir atas nama grup Konser Rakyat Leo Kristi –semula bersama Naniel, Mung, dan penyanyi Tatiek dan Yayuk, lantas mengubah barisan dengan anggota Ote, Komang, Cok Bagus, dan penyanyi kakak beradik Yana dan Nana van Derkley, selain Mung yang masih tetap --menyenandungkan balada, semangat cinta bangsa, dan kisah- kisah rakyat. Lebih banyak dalam irama folk, country, dan didukung dengan lirik-lirik yang puitis.

''Ibulah sumber magnet, yang menggebrak saya dalam kesungguhan. Suatu hari beliau berkata, jadilah musikus yang patriotik,'' kata Leo. (Yulius P Silalahi)


Album Leo Kristi

Nyanyian Fajar (1975)
Nyanyian Malam (1975)
Nyanyian Tanah Merdeka (1977)
Nyanyian Cinta (1978)
Lintasan Hijau Hitam (1983)
Lintasan Biru Emas (1984)
Potret Kecil Citra Negeriku (1984)
Biru Emas Bintang Tani (1985)
Diapenta Anak Merdeka (1993)
Nyanyian Tambur Jalan (1993)
Catur Paramita (1993)

***Dimuat di Harian MERDEKA edisi Sabtu, 15 November 2008

0 komentar: