Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Minggu, 11 September 2011

Provokasi Ala Penyair Tik Tak Tik***


Tangerang, Berita Indonesia - Penyair Yulius La Dossa menghipnotis tamu undangan “Pesta Doa Awal Tahun 2008” yang diselenggarakan oleh Serikat Tolong Menolong (STM) Bona Pasogit Pondok Maharta & Sekitarnya di Gedung PERURI, Jl. H. Mencong, Tangerang, Minggu (27/4). Yulius La Dossa berkolaborasi dengan Naposo Bulung (Muda-Mudi) Pondok Maharta mengusung sosiodrama bernuansa budaya Batak.
          STM Bona Pasogit Pondok Maharta & Sekitarnya, perkumpulan orang Batak di kawasan Tangerang yang berdiri sejak tahun 1990 tanpa membedakan agama dan asal-usul anggotanya, menggelar “Pesta Doa Awal Tahun 2008” sebagai ucapan syukur. Dalam rangkaian acara setelah dibuka dengan ibadah dan kata sambutan, Ketua STM Bona Pasogit A. Marbun memperkenalkan anggota baru, melantik pengurus muda-mudi yang dipimpin Daniel Hutapea, dan menyampaikan piagam penghargaan kepada mantan pengurus STM Bona Pasogit Ir. A. Simanungkalit (Periode 1990–1991, Periode 1992–1993, Periode 1994-1995, dan Periode 2006–2008), H.N. Panggabean (Periode 1995–1997), Drs. M. Sitorus (Periode 1998–2000), B. Situmorang, SE (Periode 2000–2002 dan Periode 2002–2004), dan M. Sitorus, SH (Periode 2004–2006).
          Sementara Panitia Pelaksana yang diketuai J.A. Manurung mengisi acara hiburan dengan menyuguhkan tarian tor tor anak-anak, door prize, dan pentas seni oleh Yulius La Dossa bersama Naposo Bulung yang terdiri dari muda-mudi orang Batak di sekitar Pondok Kacang Timur, Pondok Aren, Tangerang.

Sepotong Roti
          Yulius La Dossa yang dikenal sebagai Penyair Tik Tak Tik lantaran selalu membuka puisinya dengan bunyi “tik tak tik” menghipnotis sekitar 200 tamu undangan yang memadati Gedung PERURI. Ia mengemas paket seni berjudul “Holong Mangalap Holong” (saling mengasihi, Red) yang di dalamnya mengandung unsur teaterikal, tari-tarian, musik, lagu, dan deklamasi.
          Yulius La Dossa yang dijuluki penyair punk oleh penyair Ahmadun Yosi Herfanda (Harian Republika) merepresentasikan pengamatannya terhadap karakteristik orang Batak di tanah rantau. Dalam potongan orasinya, tanpa tedeng aling-aling ia memprovokasi penonton dengan nada dingin. Laksana harimau ia mengaum: Tik Tak Tik/ “Holong mangalap holong,” katamu/ “Holong mangalap holong,” kataku/ “Holong mangalap holong,” kata dia/ Tapi kenapa kita selalu berkelahi di ujung jalan hanya gara-gara secangkir teh?/ “Holong mangalap holong,” kata mereka/ “Holong mangalap holong,” kata kalian/ “Holong mangalap holong,” kata kami/ Tapi kenapa kita tidak bisa duduk semeja hanya gara-gara sepotong roti?
          Hadirin sejenak terdiam, merenung, lalu memberi aplaus. Deklamasi Yulius La Dossa ditutup lagu “Holong Mangalap Holong” oleh Rikha Carollien Pasaribu. Pentas seni sekitar 10 menit ini berhasil mengumpulkan dana saweran sebesar Rp 857 ribu yang disumbangkan untuk pengabdian dan pengembangan muda-mudi. [Des Aroni]


***Dimuat di harian BERITA INDONESIA edisi 29 April 2008

0 komentar: