Tangerang, Berita Indonesia - Penyair Yulius La Dossa menghipnotis
tamu undangan “Pesta Doa Awal Tahun 2008” yang diselenggarakan oleh Serikat
Tolong Menolong (STM) Bona Pasogit Pondok Maharta & Sekitarnya di Gedung PERURI,
Jl. H. Mencong, Tangerang, Minggu (27/4). Yulius La Dossa berkolaborasi dengan Naposo
Bulung (Muda-Mudi) Pondok Maharta mengusung sosiodrama bernuansa budaya Batak.
STM Bona Pasogit Pondok Maharta & Sekitarnya,
perkumpulan orang Batak di kawasan Tangerang yang berdiri sejak tahun 1990
tanpa membedakan agama dan asal-usul anggotanya, menggelar “Pesta Doa Awal
Tahun 2008” sebagai ucapan syukur. Dalam rangkaian acara setelah dibuka dengan
ibadah dan kata sambutan, Ketua STM Bona Pasogit A. Marbun memperkenalkan
anggota baru, melantik pengurus muda-mudi yang dipimpin Daniel Hutapea, dan menyampaikan
piagam penghargaan kepada mantan pengurus STM Bona Pasogit Ir. A. Simanungkalit
(Periode 1990–1991, Periode 1992–1993, Periode 1994-1995, dan Periode 2006–2008),
H.N. Panggabean (Periode 1995–1997), Drs. M. Sitorus (Periode 1998–2000), B.
Situmorang, SE (Periode 2000–2002 dan Periode 2002–2004), dan M. Sitorus, SH (Periode
2004–2006).
Sementara Panitia Pelaksana yang diketuai J.A. Manurung mengisi
acara hiburan dengan menyuguhkan tarian tor tor anak-anak, door prize, dan pentas
seni oleh Yulius La Dossa bersama Naposo Bulung yang terdiri dari muda-mudi
orang Batak di sekitar Pondok Kacang Timur, Pondok Aren, Tangerang.
Sepotong Roti
Yulius La Dossa yang dikenal sebagai Penyair Tik Tak Tik
lantaran selalu membuka puisinya dengan bunyi “tik tak tik” menghipnotis
sekitar 200 tamu undangan yang memadati Gedung PERURI. Ia mengemas paket seni berjudul
“Holong Mangalap Holong” (saling mengasihi, Red) yang di dalamnya mengandung unsur teaterikal, tari-tarian,
musik, lagu, dan deklamasi.
Yulius La Dossa yang dijuluki penyair punk oleh penyair
Ahmadun Yosi Herfanda (Harian Republika)
merepresentasikan pengamatannya terhadap karakteristik orang Batak di tanah rantau.
Dalam potongan orasinya, tanpa tedeng aling-aling ia memprovokasi penonton
dengan nada dingin. Laksana harimau ia mengaum: Tik Tak Tik/ “Holong mangalap
holong,” katamu/ “Holong mangalap
holong,” kataku/ “Holong mangalap
holong,” kata dia/ Tapi kenapa kita
selalu berkelahi di ujung jalan hanya gara-gara secangkir teh?/ “Holong mangalap holong,” kata mereka/ “Holong mangalap holong,” kata kalian/ “Holong mangalap holong,” kata kami/ Tapi kenapa kita tidak bisa duduk semeja
hanya gara-gara sepotong roti?
Hadirin sejenak terdiam, merenung, lalu memberi aplaus. Deklamasi
Yulius La Dossa ditutup lagu “Holong Mangalap Holong” oleh Rikha Carollien
Pasaribu. Pentas seni sekitar 10 menit ini berhasil mengumpulkan dana saweran sebesar
Rp 857 ribu yang disumbangkan untuk pengabdian dan pengembangan muda-mudi. [Des
Aroni]
***Dimuat di harian BERITA INDONESIA edisi 29 April
2008
0 komentar:
Posting Komentar