Oleh: Yulius P. Silalahi
Bagiku
Syam seperti alam. Agung. Tidak pernah tergapai. Ia adalah bayangan hitam yang
selalu lepas jika hendak kugenggam. Aku tak pernah pasti memilikinya. Padahal
ia sosok laki-laki pertama yang dapat kucintai dengan sempurna.
Syam laksana bulan. Aku tak pernah tahu kapan bisa menyentuhnya. Ia terlalu
jauh. Jauh sejauh-jauhnya jauh. Aku... Oh, apakah kodrat perempuan memang
demikian? Apakah bulan itu memang bukan bulanku juga? Ah...!
“Roro! Hei...! Ah, kamu jangan kayak anak kecil begitu dong!” Protesnya kemarin
lalu ketika pulang kuliah. “Hei...!” Tegurnya keras seperti orang baru belajar
berteriak. Uh, edan.
“Roro!” Serunya panik. “Hei... Tunggu dulu!”
Bunyi derap sepatunya memburu di belakangku. Dan, dengan nafas masih
terengah-engah, ia sudah menghadang dan menjambret pergelangan tanganku.
“Roro...!”
“Apalagi!” Sentakku. Mataku melotot mencaplok mukanya.
“Roro, saya minta maaf. Saya bukannya tidak mau tahu kamu. Kamu ngerti sedikit
lah. Sore ini Senat memang lagi ada rapat pleno, teman-teman membutuhkan
kehadiranku.”
“Tapi aku juga butuh kamu, Syam,” sungutku jengkel.
“Iya... Iya saya tahu. Tapi sekarang tidak bisa. Bagaimana kalau kepulanganmu
diundur saja dua hari lagi? Lagian kan besok kita ada ulangan mid semester.”
Aku mendelik kecewa. “Mid semester bisa nyusul, Syam,” tukasku sewot. “Posisi
kamu juga kan boleh diwakili Rodini. Masak mesti kamu terus. Apakah Rodini
tidak becus jadi wakilmu,” gerutuku menolak anjurannya.
“Roro... Kamu jangan emosi begitu.”
“Huh,” dengusku kesal. “Kamu egois, tidak mau tahu perasaanku!” Rutukku menahan
tangis.
“Maafkan aku Roro. Lain kali aku akan...”
Lain kali? Bah! Keterlaluan. Mau rasanya kutinju mulutnya sampai berdarah.
***
Di pembaringan, aku tercenung kaku. Sejak tadi, secara runtun, peristiwa
kemarin lalu itu melingkar-lingkar dalam benakku. Ingin rasanya kubenamkan
diriku dalam perut bumi. Ah!
Kuhembuskan nafas panjang-panjang, kuhancurkan bayangan Syam dari benakku.
Pikiranku kupaksa menerawang sekeliling. Bayangan Syam mesti lenyap. Aku tidak
boleh berlama-lama menikmati kesedihan.
Kutelengkan kepalaku. Hmm, tidak banyak perubahan yang terjadi di kamar ini,
kamar yang pernah kutinggalkan tiga tahun lamanya. Aku hijrah ke Jakarta.
Cermin besar di sudut ruangan, ranjang yang berderit tiap kali kunaiki, dan
potret diriku menjelang remaja, semua masih ada seperti dulu, lengkap dengan
segala kenangannya.
Aku ingat betul, di kamar ini, dulu wajahku sering dibuat merah padam oleh mas
Satrio. Pernah satu kali, aku tertangkap basah ketika mencoba lipstik mbak
Intan. “E-alahhh, bibirnya mau diapakan,” katanya mengagetkan. Kala itu aku
sedang asyik memoles-moles bibirku.
Duh, malunya.
Kalau sudah begitu, biasanya aku langsung menerjang tempat tidur dan menutupi
wajahku dengan bantal. Dan aku juga hapal betul, begitu aku melompat, pasti
derit ranjang sontak menjerit-jerit meningkahi tawa mas Satrio, dan ibu akan
menghambur ke arah kami sambil melontarkan protes. “Ngguyu ngakak iku ora elok,” katanya memarahi
kami.
***
“Roro.” Sebuah sentuhan halus mendarat di pundakku. Kehadiran ibu mengusir
lamunanku. “Kamu belum tidur?” Katanya perlahan. Matanya tampak lelah karena
beban hidup yang harus dipikulnya.
Aku menggeleng. Ibu yang sarat derita berdiri di sampingku. Tangannya setengah
mengelus bahuku. Lembut.
Seminggu yang lalu telegram ibu sampai di tempat kostku. Aku diminta pulang
karena ayah sakit keras. Ah, aku sedih bukan main. Dan kesedihanku makin
lengkap ketika Syam tidak berbuat banyak untukku. Ah aku?
Aku terlalu sedih. Sepanjang jalan, Jakarta-Surabaya, tak hentinya aku berdoa
dan menangis. Tak kuhiraukan bagaimana orang-orang keheranan memandangiku.
Turun di Stasiun Gubeng, hatiku semakin terkulai. Gundah. Wajah ayah tercetak
jelas di pelupuk mataku. Oh, apakah gerangan yang terjadi? Baik-baik sajakah
ia? Apakah senyum tipisnya masih seperti dulu? Atau sudah berlumur duka?
Atau... Ah, aku berharap semoga ayah tetap seperti dulu. Simpatik, keras, dan
kritis dengan senyum tipisnya yang selalu menyimpan misteri.
Dan ibu, ah, betapa aku ingin berbagi kisah dengannya. Malah aku ingin
mendengar lagi ceritanya tentang perempuan sejati dan kesetiaan. Dan tentang
harapan-harapan seorang perempuan yang tidak pernah terucap lalu terluka
sendiri.
Sampai di rumah, kegundahanku jadi kenyataan. Ayah terbaring lemah di tempat
tidur. Tubuhnya kurus. Kelopaknya mata pucat. Ubannya makin banyak menghampar
di kepala.
“Ayah...!” Sendatku menahan tangis. Kurangkul tubuhnya. Kutumpahkan seluruh
kesedihan dan kerinduanku di pelukannya. Kiranya hanya itu yang dapat
kulakukan. Selebihnya, aku memandangi wajahnya dengan segenap kasihku.
“Jangan menangis Roro. Ayah senang melihatmu. Jangan sedih. Ayah tidak
apa-apa,” bujuknya sambil menghapus air mataku. Lalu senyum tipisnya
mengembang.
Ah, dahagaku yang kering terasa sejuk. Mataku mengerjap. “Ya ayah,” anggukku
kembali memeluknya.
***
“Bu...,” ujarku memecah kesunyian. “Benar kan... Roro sekarang bukan anak kecil
lagi kan,” kataku sambil memandangi wajahnya.
Ibu tersenyum mendelik. “Hmm, kenapa?” Katanya kemudian.
Aku diam sebentar. Lalu melanjutkan: “Semenjak Roro datang,” kataku, “terus
sampai ayah masuk ICU, kulihat ibu seperti menyimpan sesuatu. Apa yang ibu
sembunyikan?” Tanyaku. “Aku kira, aku perlu tahu juga. Sudah pantas kan?”
Ibu memalingkan wajah. Tarikan nafasnya terdengar berat. Ibu seperti bingung.
Kemudian pandangannya beralih lagi padaku. Matanya berkaca-kaca. “Ya kamu bukan
anak kecil lagi,” ujarnya sendu. “Kamu memang perlu mengetahuinya,” tambahnya
tersendat. Lantas matanya menerawang jauh seperti mencari kekuatan.
Aku diam menanti kisah berikutnya. Lama aku menunggu.
“Kita sedang menghadapi ujian Roro.” Akhirnya ibu memulai. “Kakakmu, Satrio,
menyusahkan ayah. Setahun yang lalu ia pulang dari Samarinda. Katanya dia kena
PHK dan merengek kepada ayah. Ia minta dibelikan taksi.”
“Yah, ayahmu memang terlalu baik. Ia dibelikan mobil cicilan. Tapi kemudian
Satrio malah menodai kebaikan ayahmu. Ia banyak menghambur-hamburkan uang.
Mobilnya tidak pernah bosan masuk bengkel. Padahal kreditannya belum lunas.
Sampai pada suatu hari, mobil itu hancur menabrak truk dan menelan korban jiwa.
Ia lari ke Samarinda. Tapi ia tetap dituntut Roro,” cerita ibu sambil menyusut
air matanya dengan ujung kain.
Aku terhenyak. Sosok kakakku muncul menghantam batok kepalaku. Sejak dulu ia
selalu mengusik ketentraman keluarga kami.
Aku benci. Dulu ia juga pernah menyakiti hati teman sebangkuku sewaktu SMA.
Duh, tak sanggup aku mengenang wajah Lintang yang aristokrat itu berubah jadi
sinis padaku. Ah, aku.
Aku tergugu. Tak tahu apa yang mesti kuucapkan. Terlalu pahit mendengar
kenyataan ini. “Jadi...jadi itu yang bikin ayah stress...?” terbata-bata
kupaksa mulutku bicara.
Ibu mengangguk suram. “Ayahmu berusaha supaya Satrio bebas. Ibu sendiri
bingung, dari mana kita punya uang banyak. Kreditan mobil itu saja masih
nunggak, rumah ini juga mau disita, belum lagi adikmu Anggi dan Alit. Mereka
masih perlu sekolah. Kamu sendiri juga. Ah, ibu bisa gila kalau begini...”
Aku diam membisu. Miris melihat ibu menitikkan air mata lagi. Kugenggam
tangannya erat. “Bagaimana kalau rumah ini kita jual saja, Bu?” usulku
sekenanya. “Aku kira, ini satu-satunya jalan yang terbaik. Biarlan kita tinggal
di rumah sempit dan murah, asal kita terhindar dari aib.”
Ibu tercenung seperti memikirkan pendapatku. Kemudian dengan nada agak tenang
mengatakan: “Nantilah ibu bicarakan dengan ayahmu. Sekarang tidurlah, sudah
malam. Badanmu tentu penat.”
***
Seperti hari-hari kemarin, aku duduk menemani ayah setelah lelah berjalan-jalan
mengitaripavilliun rumah sakit guna melemaskan otot-otot
pinggangnya. Kesiur angin bertiup sejuk. Pucuk-pucuk menur bergoyang lembut,
menebarkan aroma wangi.
“Yah, lihat deh!” Kataku seraya menunjuk. Tampak olehku seekor kupu-kupu
hinggap di pohon kamboja. “Kupu-kupu itu tidak pernah lelah mencari makan dan
terbang. Sudah hinggap di Kamboja, beralih ke Seruni, eh..., sekarang pindah ke
Gladiol. Warnanya seram ya yah... Hitam,” kataku mengambil perhatian ayah.
“Ih, Roro jadi teringat kisah seekor kupu-kupu putih berbintik biru. Ia ingin
sekali dikagumi teman-temannya. Tapi dia tidak pernah sadar bahwa suatu hari
sayap-sayap yang cantik itu akan rontok juga, menyerah pada kodratnya,” kataku
agak sentimentil.
Ayah menatapku lembut. Dipeluknya bahuku dengan desahan kecil. “Iya itulah
hidup Roro,” ujarnya perlahan. “Hidup itu memang seperti gelombang, kadang di
atas kadang di bawah.”
“Kita juga begitu Roro, suka terlambat sadar. Kamu ingat kan waktu ayah belum
pensiun, orang banyak yang mengelilingi ayah. Sekarang bagaimana? Mereka pergi
satu per satu,” kenang ayah. Mukanya muram.
“Ah, lupakanlah hal itu ayah,” potongku buru-buru. “Roro tidak suka kalau ayah
selalu mengenang masa lalu. Ingat pesan dokter Hadi, ayah tidak boleh terlalu
banyak berpikir. Yuk, kita ke kamar saja, anginnya tidak bagus lagi,” bimbingku
dengan hati-hati.
Aku suka heran. Kalau kuajak bicara, ayah mesti mengaitkannya dengan masa
lalunya, ke masa jayanya ketika masih menjabat Kabag Intel. Ia suka sekali
menyesali diri dan teman-temannya. Kisah ini sudah sering kudengar
diulang-ulang.
***
Akhirnya kami pindah dari Surabaya ke sebuah desa kecil di daerah Lumajang.
Tempatnya jauh dari keramaian. Kedua adikku, Alit dan Anggi, banyak protes.
Mereka sering mengeluh. Katanya sepi. Dingin. Tidak enak, tidak betah.
Aku terkadang kasihan melihat mereka. Aku pun merasakan ketidakpuasan Alit dan
Anggi. Tapi aku sendiri sulit memberi penjelasan kenapa demikian. Barangkali
karena usia kedua adikku masih terlalu muda. Yah, biarlah waktu yang
mengubahnya.
“Roro, kamu sudah berapa bulan tidak kuliah?” Tegur mbak Intan suatu hari.
“Sebaiknya kamu segera kembali ke Jakarta. Sayang kan kalau tidak naik
tingkat,” katanya mengingatkan.
“Aku tidak pernah melupakan itu mbak,” gumamku lirih sembari mendekap Kiki,
anak mbak Intan yang bungsu. “Aku masih khawatir. Keluarga kita masih serba
belum menentu. Hutang ayah masih banyak. Kuliah juga belum tentu bisa
mengangkat kita dari kesulitan ini.”
“Biarlah. Lebih baik aku bekerja saja. Kalau waktu mengizinkan, nanti kulanjutkan
juga,” kataku getir.
“Kenapa begitu?” Tiba-tiba ayah yang sekarang sudah berobat jalan ikut bicara.
Ia muncul di belakangku sambil mengelus bahuku penuh kasih. Aku diam saja.
“Jangan begitu, kamu harus belajar terus. Kamu jangan terlalu memikirkan kami,”
tutur ayah mendorong semangatku. “Minggu depan kamu sudah harus kembali ke
Jakarta. Wujudkan cita-citamu. Ayah percaya, kamulah satu-satunya harapan
ayah,” ucapnya lirih.
***
Perpisahan itu datang juga. Aku tak dapat membantah kehendak ayah. Aku harus
menjalani lagi hari-hari rutin yang menjemukan di Jakarta.
Sebelum kereta api malam meninggalkan Stasiun Semut, ibu berpesan: “Kirimlah
surat kepada kakakmu di Samarida sana ya. Dia sering menanyakan keadaanmu. Jangan
simpan kebencianmu berlarut-larut. Biar bagaimanapun Satrio juga kakakmu.”
Aku mengangguk lemah. Selintas wajah dalang penghancur keluarga kami itu
berkelebat di dalam kepalaku. Aku tak pernah yakin bagaimana mas Satrio bisa
jadi kakakku?
Kereta api bergerak maju, meninggalkan sosok-sosok orang yang kucintai.
***
Di Stasiun Gambir, aku tidak menjumpai Syam. Mungkin dua surat kilat khusus
yang kukirim lima hari yang lalu tidak pernah sampai. Atau alamatnya yang
salah. Atau mungkin juga rumah Syam dan kampus kami sudah pindah. Atau
barangkali aku yang tidak pernah paham Jakarta itu kota sibuk. Ah, entahlah.
Aku tak tahu. Aku terlalu jengkel betul. Syukurnya, kali ini aku tak lagi
menangis. “Barangkali air mataku sudah habis,” batinku merobek pagi. (*)
***Dimuat di buku kumpulan cerita masa kini CERIA REMAJA edisi 1992
***Dimuat di buku kumpulan cerita masa kini CERIA REMAJA edisi 1992
0 komentar:
Posting Komentar