_______________________________
Judul:
One
Big Step
Karya:
Diandra
Naraditha
Editor:
Yulius
La Dossa
Penerbit:
[ALINEA]
Cetakan I:
Jakarta,
Agustus 2010
ISBN:
978-602-97174-2-6
Harga:
Rp
15.000,-
NOVELET
INI merekam perjalanan hidup berikut pergumulan batin seorang mahkluk Tuhan.
Sekali waktu, tokoh cerita berada di persimpangan jalan, yang dengan keberanian
ganda bangkit melepaskan diri dari simpul kekuatan cinta. Di lain waktu ia
diterkam dilema: memilih kenikmatan hedonisme atau tetap berjalan lurus dengan
risiko kehilangan kesenangan duniawi.
One Big Step bagai setetes embun di tengah padang
gersang. Diandra Naraditha memperlihatkan kepada pembaca bahwa masih ada hari
esok di antara jepitan keputusasaan. Setiap insan memiliki peluang mendobrak
sebuah kemustahilan.
Apresiasi
dan aplaus patut dipersembahkan untuk Diandra Naraditha. Pasalnya, lewat karya
pertamanya ini, itu berarti telah lahir lagi seorang penulis. Sebab, bukan
orang lain yang memberikan predikat penulis ke pundak seseorang, melainkan dia
sendiri yang melahirkan eksistensinya di dunia kepenulisan. Ia pribadi yang
mencetak predikatnya sebagai penulis dengan keberanian mempersembahkan karya
tulis fiksi atau nonfiksi.
***
Berikut
sepenggal kisah One Big Step yang
dilukiskan Diandra dengan apik dalam episode “Rite of Passage”.
Saya
menarik sebelah tangan saya dari genggamannya dan menaruh cangkir kopi saya di
tepi meja.
“Awas,
nanti jatuh,” ujarnya.
“Benar.
Gue pingin lu dorong cangkir itu sampai jatuh.”
Ya,
memecahkan cangkir itu. Apa salahnya memecahkan cangkir, toh siapa pun kadang
melakukannya tanpa sengaja.
“Memecahkan
cangkir? Memangnya kenapa?”
“Gue
bisa memberikan banyak alasan. Tapi alasan sebenarnya adalah, pecahkan saja, tanpa
alasan.”
Ini
adalah rite of passage, ingin saya berkata.
Emilio
menatap saya. Kemudian, perlahan, dia menggeser tangannya mendekati cangkir
itu. Dengan sekali sentak didorongnya cangkir berwarna cokelat itu hingga jatuh
ke lantai.
Suara
cangkir yang pecah menarik perhatian pelayan dan seisi pengunjung Coffee Bean.
Bukannya meminta maaf, dia malah memandang saya, tersenyum. Saya balas
tersenyum.
“That’s
ok, don’t worry,” seru pelayan.
Tapi
Emilio sepertinya tidak mendengarkan. Dia bangkit berdiri, mengusap kepala dan
mengecup kening saya.
Saya
peluk dia dengan segenap kekuatan. Sudah lama saya menanti ciuman ini, ciuman
yang telah melayang di udara saat kami masih bergumul dengan diri
masing-masing, dan tetap bersembunyi di balik kejadian demi kejadian. [o]

0 komentar:
Posting Komentar