Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Jumat, 09 September 2011

Pecahkan Cangkir Tanpa Alasan

_______________________________
Judul:
One Big Step
Karya:
Diandra Naraditha
Editor:
Yulius La Dossa
Penerbit:
[ALINEA]
Cetakan I:
Jakarta, Agustus 2010
ISBN:
978-602-97174-2-6
Harga:
Rp 15.000,-

NOVELET INI merekam perjalanan hidup berikut pergumulan batin seorang mahkluk Tuhan. Sekali waktu, tokoh cerita berada di persimpangan jalan, yang dengan keberanian ganda bangkit melepaskan diri dari simpul kekuatan cinta. Di lain waktu ia diterkam dilema: memilih kenikmatan hedonisme atau tetap berjalan lurus dengan risiko kehilangan kesenangan duniawi.
One Big Step bagai setetes embun di tengah padang gersang. Diandra Naraditha memperlihatkan kepada pembaca bahwa masih ada hari esok di antara jepitan keputusasaan. Setiap insan memiliki peluang mendobrak sebuah kemustahilan.
Apresiasi dan aplaus patut dipersembahkan untuk Diandra Naraditha. Pasalnya, lewat karya pertamanya ini, itu berarti telah lahir lagi seorang penulis. Sebab, bukan orang lain yang memberikan predikat penulis ke pundak seseorang, melainkan dia sendiri yang melahirkan eksistensinya di dunia kepenulisan. Ia pribadi yang mencetak predikatnya sebagai penulis dengan keberanian mempersembahkan karya tulis fiksi atau nonfiksi.
***

Berikut sepenggal kisah One Big Step yang dilukiskan Diandra dengan apik dalam episode “Rite of Passage”.
Saya menarik sebelah tangan saya dari genggamannya dan menaruh cangkir kopi saya di tepi meja.
“Awas, nanti jatuh,” ujarnya.
“Benar. Gue pingin lu dorong cangkir itu sampai jatuh.”
Ya, memecahkan cangkir itu. Apa salahnya memecahkan cangkir, toh siapa pun kadang melakukannya tanpa sengaja.
“Memecahkan cangkir? Memangnya kenapa?”
“Gue bisa memberikan banyak alasan. Tapi alasan sebenarnya adalah, pecahkan saja, tanpa alasan.”
Ini adalah rite of passage, ingin saya berkata.
Emilio menatap saya. Kemudian, perlahan, dia menggeser tangannya mendekati cangkir itu. Dengan sekali sentak didorongnya cangkir berwarna cokelat itu hingga jatuh ke lantai.
Suara cangkir yang pecah menarik perhatian pelayan dan seisi pengunjung Coffee Bean. Bukannya meminta maaf, dia malah memandang saya, tersenyum. Saya balas tersenyum.
“That’s ok, don’t worry,” seru pelayan.
Tapi Emilio sepertinya tidak mendengarkan. Dia bangkit berdiri, mengusap kepala dan mengecup kening saya.
Saya peluk dia dengan segenap kekuatan. Sudah lama saya menanti ciuman ini, ciuman yang telah melayang di udara saat kami masih bergumul dengan diri masing-masing, dan tetap bersembunyi di balik kejadian demi kejadian. [o]

0 komentar: