Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Kamis, 08 September 2011

Virus Keraguan

        Orang blo’on atau bodoh sering berada di ambang keragu-raguan. Padahal di balik fakta ilmiah terdapat petunjuk tentang faktor yang membentuk kecerdasan. Ditemukan bahwa intelegensi manusia, 10%-nya dihasilkan oleh faktor heriditasi, warisan nenek moyang, sisanya yang 90% dihasilkan oleh faktor lingkungan.
Berdasarkan bukti tersebut, kita tidak perlu membedakan dari gen mana seseorang dilahirkan. Kita masih memiliki kesempatan mengontrol faktor lingkungan yang 90%. Kita masih dapat mencermati sebab-sebab mayoritas untuk menjadi orang cerdas. Misalnya, pertama, bagaimana Anda menciptakan reaksi terhadap tantangan. Apakah Anda akan memilih menjadi korban atau penentu reaksi secara tepat? Kedua, kepada kelompok mana Anda berasosiasi. Apakah kepada kelompok orang cerdik yang senantiasa memberikan energi positif atau kepada kelompok orang yang licik yang justru akan menjadi perusak dan penghambat bagi kemajuan Anda? Ketiga, kebiasaan apa saja yang Anda jalankan setiap hari demi kepentingan kemajuan Anda?
Mengadopsi temuan Voltaire, kehidupan ini dapat disimbolkan sebagai sebuah game, permainan kartu. Dalam permainan kartu domino, setiap orang harus menerima kartu yang diberikan. Persoalan menang dan kalah sepenuhnya tergantung bagaimana kita menjatuhkan kartu.
Itulah ilustrasi sederhana tentang kecerdasan bersikap. Ia menyimpan hubungan erat tentang bagaimana kita memperlakukan diri dan orang lain, kemudian dari sanalah terjadi umpan-balik yang setimpal, bahkan lebih dari orang lain dan lingkungan.
Memang, kehidupan tidak seluruhnya dapat disentuh oleh asumsi rasional. Jalan keluarnya, kita membutuhkan keyakinan mental. Keyakinan mental berguna untuk menghadang virus keragu-raguan, rasa tidak berdaya, rasa malas, atau takut menghadapi risiko. Rumus paling sahih tentang keyakinan adalah, Anda tidak bakal mencapai sesuatu melebihi keyakinan terhadap kemampuan Anda. Keyakinan adalah pelita hati.

0 komentar: