Orang
blo’on atau bodoh sering berada di
ambang keragu-raguan. Padahal di balik fakta ilmiah terdapat petunjuk tentang faktor yang membentuk kecerdasan. Ditemukan bahwa intelegensi manusia, 10%-nya
dihasilkan oleh faktor heriditasi, warisan nenek moyang, sisanya
yang 90% dihasilkan oleh faktor lingkungan.
Berdasarkan bukti tersebut, kita tidak perlu membedakan dari gen mana
seseorang dilahirkan. Kita masih memiliki kesempatan mengontrol faktor
lingkungan yang 90%. Kita masih dapat mencermati sebab-sebab mayoritas untuk
menjadi orang cerdas. Misalnya, pertama, bagaimana Anda menciptakan reaksi
terhadap tantangan. Apakah Anda akan memilih menjadi korban atau penentu reaksi
secara tepat? Kedua, kepada kelompok mana Anda berasosiasi. Apakah kepada
kelompok orang cerdik yang senantiasa memberikan energi positif atau kepada
kelompok orang yang licik yang justru akan menjadi perusak dan penghambat bagi
kemajuan Anda? Ketiga, kebiasaan apa saja yang Anda jalankan setiap hari demi
kepentingan kemajuan Anda?
Mengadopsi temuan Voltaire, kehidupan ini dapat disimbolkan sebagai sebuah game,
permainan kartu. Dalam permainan kartu domino, setiap orang harus menerima
kartu yang diberikan. Persoalan menang dan kalah sepenuhnya tergantung
bagaimana kita menjatuhkan kartu.
Itulah ilustrasi sederhana tentang kecerdasan bersikap. Ia menyimpan
hubungan erat tentang bagaimana kita memperlakukan diri dan orang lain, kemudian dari sanalah
terjadi umpan-balik yang setimpal, bahkan lebih dari orang lain dan lingkungan.
Memang, kehidupan tidak seluruhnya dapat disentuh oleh asumsi rasional. Jalan
keluarnya, kita membutuhkan keyakinan mental. Keyakinan mental berguna untuk
menghadang virus keragu-raguan, rasa tidak berdaya, rasa malas, atau takut menghadapi
risiko. Rumus paling sahih tentang keyakinan adalah,
Anda tidak bakal mencapai sesuatu melebihi keyakinan terhadap kemampuan Anda. Keyakinan
adalah pelita hati.
0 komentar:
Posting Komentar