Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Sabtu, 03 September 2011

UU PAJAK PENGHASILAN


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 10 TAHUN 1994
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983
TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991
<!--more-->



DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :
a.       bahwa pelaksanaan pembangunan nasional telah menghasilkan perkembangan yang pesat dalam
          kehidupan nasional, khususnya di bidang perekonomian, termasuk berkembangnya bentuk-bentuk
          dan praktek penyelenggaraan kegiatan usaha yang belum tertampung dalam Undang-undang
          Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan
          Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991;

b.       bahwa dalam upaya untuk selalu menjaga agar perkembangan perekonomian seperti tersebut
          di atas dapat tetap berjalan sesuai dengan kebijakan pembangunan yang bertumpu pada Trilogi
          Pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, dan seiring
          dengan itu dapat diciptakan kepastian hukum yang berkaitan dengan aspek perpajakan bagi
          bentuk-bentuk dan praktek penyelenggaraan kegiatan usaha yang terus berkembang, diperlukan
          langkah-langkah penyesuaian yang memadai terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983
          tentang Pajak Penghasilan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor
          7 Tahun 1991;

c.       bahwa untuk mewujudkan hal-hal tersebut, dipandang perlu mengubah beberapa ketentuan
          dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, sebagaimana telah
          diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991;

Mengingat   :

1.       Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;

2.       Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
          (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262),
          sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994 (Lembaran Negara
          Tahun 1994 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3566);

3.       Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Tahun 1983
          Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3263), sebagaimana telah diubah dengan
          Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991 (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 93, Tambahan
          Lembaran Negara Nomor 3459);

                                                     MEMUTUSKAN :
                  
Menetapkan         :         UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7
                             TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH
                             DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991.


                                                          Pasal I

Mengubah beberapa ketentuan dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991, sebagai berikut :

1.       Ketentuan Pasal 1 disempurnakan, sehingga berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 1

          Pajak Penghasilan dikenakan terhadap Subyek Pajak atas Penghasilan yang diterima atau
          diperolehnya dalam tahun pajak."


2.       Ketentuan Pasal 2 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 2

          (1)     Yang menjadi Subyek Pajak adalah :
                   a.       1)      orang pribadi;
                             2)      warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang
                                      berhak;
                   b.       badan, terdiri dari perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan
                             usaha milik negara dan badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk
                             apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi
                             yang sejenis, lembaga, dana pensiun, dan bentuk badan usaha lainnya;
                   c.       bentuk usaha tetap.

          (2)    Subyek pajak terdiri dari Subyek Pajak dalam negeri dan Subyek Pajak luar negeri.

          (3)     Yang dimaksud dengan Subyek Pajak dalam negeri adalah :
                   a.       orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di
                             Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12
                             (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di
                             Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;
                   b.       badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia;
                   c.       warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.

          (4)     Yang dimaksudkan dengan Subyek Pajak luar negeri adalah :
                   a.       orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak
                             lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
                             bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
                             yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
                             Indonesia;
                   b.       orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak
                             lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
                             bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
                             yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari
                             menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

          (5)     Yang dimaksudkan dengan bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh
                   orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih
                   dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan
                   yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha
                   atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa :
                   a.       tempat kedudukan manajemen;
                   b.       cabang perusahaan;
                   c.       kantor perwakilan;
                   d.       gedung kantor;
                   e.       pabrik;
                   f.       bengkel;
                   g.       pertambangan dan penggalian sumber alam, wilayah kerja pengeboran yang digunakan
                             untuk eksplorasi pertambangan;
                   h.       perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
                   i.        proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

                   j.        pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang
                            dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;
                   k.       orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;
                   l.        agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat
                             kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko  di
                             Indonesia.

          (6)     Tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan ditentukan oleh Direktur Jenderal
                   Pajak menurut keadaan yang sebenarnya."


3.       Menambah ketentuan baru diantara Pasal 2 dan Pasal 3 yang dijadikan Pasal 2A, yang berbunyi
          sebagai berikut :

                                                          "Pasal 2A

          (1)     Kewajiban pajak subjektif orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a
                   dimulai pada saat orang pribadi tersebut dilahirkan, berada, atau berniat untuk bertempat
                   tinggal di Indonesia dan berakhir pada saat meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia
                   untuk selama-lamanya.

          (2)     Kewajiban pajak subyektif badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf b
                   dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia dan
                   berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia.

          (3)     Kewajiban pajak subyektif orang pribadi atau badan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2
                   ayat (4) huruf a dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menjalankan usaha atau
                   melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) dan berakhir pada saat
                   tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap.

          (4)     Kewajiban pajak subyektif orang pribadi atau badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
                   ayat (4) huruf b dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menerima atau
                   memperoleh penghasilan dari Indonesia dan berakhir pada saat tidak lagi menerima atau
                   memperoleh penghasilan tersebut.

          (5)     Kewajiban pajak subyektif warisan yang  belum terbagi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
                   ayat (1) huruf a angka 2) dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi tersebut dan
                   berakhir pada saat warisan tersebut selesai dibagi.

          (6)     Apabila kewajiban pajak subyektif orang pribadi yang bertempat tinggal atau yang berada di
                   Indonesia hanya meliputi sebagian dari tahun pajak, maka bagian tahun pajak tersebut
                   menggantikan tahun pajak."


4.       Ketentuan Pasal 3 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 3

          Tidak termasuk Subyek Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah :
          a.       badan perwakilan negara asing;
          b.       pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing,
                   dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal
                   bersama-sama mereka, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak
                   menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya di Indonesia serta negara yang
                   bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
          c.       organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan syarat tidak
                   menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan di Indonesia;
          d.       pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan
                   dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau melakukan
                   kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan di Indonesia."


5.       Ketentuan Pasal 4 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 4

          (1)     Yang menjadi Obyek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis
                   yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
                   Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak
                   yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk :
                   a.       penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
                             diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang
                             pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-
                             undang ini;
                   b.       hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;
                   c.       laba usaha;
                   d.       keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk :
                             1)      Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan
                                      badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
                             2)      Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya karena
                                      pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota;
                             3)      Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
                                      pemecahan, atau pengambil-alihan usaha;
                             4)      Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan,
                                      kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
                                      satu derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial
                                      atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri
                                      Keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan,
                                      kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;
                   e.      penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya;
                   f.       bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;
                   g.       deviden, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk deviden dari perusahaan
                             asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
                   h.       royalti;
                   i.        sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
                   j.        penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
                   k.       keuntungan karena pembebasan utang;
                   l.        keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;
                   m.      selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
                   n.       premi asuransi;
                   o.       iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib
                             Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas, sepanjang iuran tersebut
                             ditentukan berdasarkan volume kegiatan usaha atau pekerjaan bebas anggotanya;
                   p.      tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.

          (2)     Atas penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan-tabungan lainnya, penghasilan dari
                   transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek, penghasilan dari pengalihan harta berupa
                   tanah dan/atau bangunan serta penghasilan tertentu lainnya, pengenaan pajaknya diatur
                   dengan Peraturan Pemerintah.

          (3)     Yang tidak termasuk sebagai Obyek Pajak adalah :

                   a.       1)      bantuan atau sumbangan;
                             2)      harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
                                      lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau
                                      badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh
                                      Menteri Keuangan;
                                      sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan,
                                      atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;

                   b.       warisan;

                   c.       harta, termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud dalam
                             Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan
                             modal;

                   d.       penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
                             diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau pemerintah;

                   e.       pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
                             asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
                             asuransi bea siswa;

                   f.       deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai
                             Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, badan
                             usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah dari penyertaan modal pada badan

                             usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia;

                   g.       iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
                             Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai, dan
                             penghasilan dari modal yang ditanamkan dalam bidang-bidang tertentu yang
                             ditetapkan oleh Menteri Keuangan;

                   h.       bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
                             modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan
                             kongsi;

                   i.        bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksa dana;

                   j.        penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian
                             laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan
                             di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :
                             1)      merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan
                                      dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan; dan
                             2)      sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia."


6.       Ketentuan Pasal 5 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 5

          (1)     Yang menjadi Obyek Pajak bentuk usaha tetap adalah :
                   a.       penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang
                             dimiliki atau dikuasai;
                   b.       penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau pemberian
                             jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh
                             bentuk usaha tetap di Indonesia;
                   c.       penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh
                             kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan
                             harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud.

          (2)     Biaya-biaya yang berkenaan dengan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
                   dan huruf c boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha tetap.

          (3)     Dalam menentukan besarnya laba suatu bentuk usaha tetap :
                   a.       biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya
                             yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap, yang besarnya
                             ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak;
                   b.       pembayaran kepada kantor pusat yang tidak diperbolehkan dibebankan sebagai biaya
                             adalah :
                             1)      royalti atau imbalan lainnya sehubungan penggunaan harta, paten, atau
                                      hak-hak lainnya;
                             2)      imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya;
                             3)      bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan;
                   c.       pembayaran sebagaimana tersebut pada huruf b yang diterima atau diperoleh dari
                             kantor pusat tidak dianggap sebagai Obyek Pajak, kecuali bunga yang berkenaan
                             dengan usaha perbankan."


7.       Ketentuan Pasal 6 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 6

          (1)     Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap,
                   ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi :
                   a.       biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya
                             pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji,

honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang,
                             bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, piutang yang nyata-
                             nyata tidak dapat ditagih, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak kecuali Pajak
                             Penghasilan;
                   b.       penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas
                             pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa
                             manfaat lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan
                             Pasal 11A;
                   c.       iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;
                   d.       kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam
                             perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
                             penghasilan;
                   e.       kerugian karena selisih kurs mata uang asing;
                   f.       biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
                   g.       biaya bea siswa, magang, dan pelatihan.

          (2)     Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didapat
                   kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak
                   berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun.  

          (3)     Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan pengurangan berupa
                   Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7."


8.       Ketentuan Pasal 7 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 7

          (1)     Penghasilan Tidak Kena Pajak diberikan sebesar :
                   a.       Rp 1.728.000,00 (satu juta tujuh ratus dua puluh delapan ribu rupiah) untuk diri Wajib
                             Pajak orang pribadi;
                   b.       Rp   864.000,00 (delapan ratus enam puluh empat ribu rupiah) tambahan untuk Wajib
                             Pajak yang kawin;
                   c.       Rp 1.728.000,00 (satu juta tujuh ratus dua puluh delapan ribu rupiah) tambahan untuk
                             seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana
                             dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1);
                   d.       Rp   864.000,00 (delapan ratus enam puluh empat ribu rupiah) tambahan untuk setiap
                             anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta
                             anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang
                             untuk setiap keluarga.

          (2)     Penerapan ayat (1) ditentukan oleh keadaan pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun
                   pajak.

          (3)     Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak tersebut pada ayat (1) akan disesuaikan dengan
                   suatu faktor penyesuaian yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan."


9.       Ketentuan Pasal 8 disempurnakan dan ditambah dengan beberapa ketentuan baru, sehingga
          seluruhnya berbunyi sebagai berikut:

                                                          "Pasal 8

          (1)     Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun pajak atau
                   pada awal bagian tahun pajak, begitu pula kerugiannya yang berasal dari tahun-tahun
                   sebelumnya yang belum dikompensasikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2)
                   dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya, kecuali penghasilan tersebut semata-
                   mata diterima atau diperoleh dari 1 (satu) pemberi kerja yang telah dipotong pajak
                   berdasarkan ketentuan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan
                   usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya.

          (2)     Penghasilan suami-isteri dikenakan pajak secara terpisah apabila :
                   a.       suami-isteri telah hidup terpisah;
                   b.       dikehendaki secara tertulis oleh suami-istri berdasarkan perjanjian pemisahan harta
                             dan penghasilan.

          (3)     Penghasilan netto suami-isteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dikenakan pajak
                   berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami-isteri, dan besarnya pajak yang harus
                   dilunasi oleh masing-masing suami-isteri dihitung sesuai dengan perbandingan penghasilan
                   netto mereka.

          (4)     Penghasilan anak yang belum dewasa digabung dengan penghasilan orang tuanya, kecuali
                   penghasilan dari pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan usaha orang yang
                   mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf c."


10.     Ketentuan Pasal 9 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 9     

          (1)     Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan
                   bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan :
                   a.       pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti deviden, termasuk
                             deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan
                             pembagian sisa hasil usaha koperasi;
                   b.       biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham,
                             sekutu, atau anggota;
                   c.       pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali cadangan piutang tak tertagih
                             untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk usaha
                             asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan yang ketentuan
                             dan syarat-syaratnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan;
                   d.       premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
                             asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar
                             oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak
                             yang bersangkutan;
                   e.       penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
                             dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penggantian atau imbalan dalam bentuk
                             natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan pemberian dalam bentuk natura dan
                             kenikmatan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, yang ditetapkan dengan
                             Keputusan Menteri Keuangan;
                   f.       jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau
                             kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan
                             dengan pekerjaan yang dilakukan;
                   g.       harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud
                             dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b;
                   h.       Pajak Penghasilan;
                   i.        biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau
                             orang yang menjadi tanggungannya;
                   j.        gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer
                             yang modalnya tidak terbagi atas saham;
                   k.       sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa
                             denda yang berkenaan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang
                             perpajakan.

          (2)     Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai
                   masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus,
                   melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam
                   Pasal 11 atau Pasal 11A."


11.     Ketentuan Pasal 10 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 10

          (1)     Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak dipengaruhi
                   hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah jumlah yang
                   sesungguhnya dikeluarkan atau diterima, sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa
                   adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima.

          (2)     Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah jumlah yang
                   seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.

          (3)     Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi, penggabungan,
                   peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha adalah jumlah yang
                   seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar, kecuali ditetapkan lain oleh
                   Menteri Keuangan.

          (4)     Apabila terjadi pengalihan harta :
                   a.       yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan
                             huruf b, maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai sisa
                             buku dari pihak yang melakukan pengalihan atau nilai yang ditetapkan oleh Direktur
                             Jenderal Pajak;
                   b.       yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a,

                             maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari
                             harta tersebut.

          (5)     Apabila terjadi pengalihan harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c, maka
                   dasar penilaian harta bagi badan yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari
                   harta tersebut.

          (6)     Persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan
                   harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan
                   yang diperoleh pertama."


12.     Ketentuan Pasal 11 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 11

          (1)    Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau
                   perubahan harta berwujud, kecuali tanah, yang memiliki dan digunakan untuk mendapatkan,
                   menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
                   tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah
                   ditentukan bagi harta tersebut.

          (2)    Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selain
                   bangunan, dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat,
                   yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir
                   masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas.

          (3)     Penyusutan dimulai pada tahun dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih
                    dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada tahun selesainya pengerjaan harta
                   tersebut.

          (4)     Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak diperkenankan melakukan
                   penyusutan mulai pada tahun harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
                   memelihara penghasilan atau pada tahun harta yang bersangkutan mulai menghasilkan.

          (5)     Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian kembali aktiva berdasarkan ketentuan sebagaimana
                   dimaksud dalam Pasal 19, maka dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan
                   penilaian kembali aktiva tersebut.

          (6)     Untuk menghitung penyusutan, masa manfaat dan tarif penyusutan harta berwujud ditetapkan
                   sebagai berikut :

                   --------------------------------------------------------------------------------------------------------
                   Kelompok Harta            Masa Manfaat                Tarif Penyusutan sebagaimana
                       berwujud                                                          dimaksud pada
                                                                                      -------------------------------------
                                                                                      Ayat (1)                Ayat (2)
                   --------------------------------------------------------------------------------------------------------
                   I.       Bukan Bangunan
                             Kelompok 1                   4   Tahun                25%            50%
                             Kelompok 2                   8   Tahun              12,5%                     25%
                             Kelompok 3                   16  Tahun             6,25%                   12,5%
                             Kelompok 4                   20  Tahun                 5%             10%        
         
                   II.      Bangunan
                             Permanen             20 Tahun                5%                 -
                             Tidak Permanen             10 Tahun              10%                 -

                   --------------------------------------------------------------------------------------------------------

          (7)     Menyimpang dari ketentuan sebagaimana diatur pada ayat (1), ketentuan tentang penyusutan
                   atas harta berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam usaha tertentu, ditetapkan dengan
                   keputusan Menteri Keuangan.

          (8)     Apabila terjadi pengalihan atau penarikan harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)
                   huruf d atau penarikan harta karena sebab lainnya, maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut
                   dibebankan sebagai kerugian dan jumlah harga jual atau penggantian asuransinya yang
                   diterima atau diperoleh dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan harta
                   tersebut.

          (9)     Apabila hasil penggantian asuransi yang akan diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan
                   pasti di masa kemudian, maka dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak jumlah sebesar
                   kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dibukukan sebagai beban masa kemudian
                   tersebut.

          (10)   Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
                   ayat (3) huruf a dan huruf b, yang berupa harta berwujud, maka jumlah nilai sisa buku harta
                   tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan.

          (11)   Kelompok harta berwujud sesuai dengan masa manfaat sebagaimana dimaksud pada ayat (6)
                   ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan.:


13.     Menambah ketentuan baru diantara Pasal 11 dan Pasal 12 yang dijadikan Pasal 11A, yang berbunyi
          sebagai berikut :

                                                          "Pasal 11A

          (1)     Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya
                   yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk
                   mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, dilakukan dalam bagian-bagian yang
                   sama besar atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung
                   dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku,
                   dan pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat
                   asas.

          (2)     Untuk menghitung amortisasi, masa manfaat dan tarif amortisasi ditetapkan sebagai berikut :

                   -----------------------------------------------------------------------------------------------------
                   Kelompok Harta tak      Masa Manfaat                Tarif Amortisasi berdasarkan Metode
                         berwujud                                              --------------------------------------------
                                                                                Garis Lurus           Garis Menurun
                   ------------------------------------------------------------------------------------------------------

                   Kelompok 1                   4  Tahun                        25%              50%
                   KelompoK 2                  8  Tahun                        12,5%                     25%
                   Kelompok 3                   16 Tahun                       6,25%                   12,5%
                   Kelompok 4                   20 Tahun                       5%                 10%
                   ------------------------------------------------------------------------------------------------------
         
          (3)     Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan dibebankan
                   pada tahun terjadinya pengeluaran atau diamortisasi sesuai dengan ayat (2).

          (4)     Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang mempunyai
                   masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang penambangan minyak dan gas bumi
                   dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi.

          (5)     Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain yang dimaksud
                   pada ayat (4), hak pengusahaan hutan, dan hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam
                   lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dilakukan dengan
                   menggunakan metode satuan produksi setinggi-tingginya 20 % (dua puluh persen) setahun.

          (6)     Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial yang mempunyai masa manfaat lebih

                   dari 1 (satu) tahun, dikapitalisasi dan kemudian diamortisasi sesuai dengan ayat (2).

          (7)     Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud atau hak-hak seperti tersebut pada ayat (1),
                   ayat (4), dan ayat (5), maka nilai sisa buku harta atau hak-hak tersebut dibebankan sebagai
                   kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan penghasilan pada tahun
                   terjadinya pengalihan tersebut.

          (8)     Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
                   ayat (3) huruf a dan huruf b, yang berupa harta tak berwujud, maka jumlah nilai sisa buku
                   harta tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan."


14.     Ketentuan Pasal 12 dihapus.


15.     Ketentuan Pasal 13 dihapus.


16.     Ketentuan Pasal 14 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 14

          (1)     Norma Penghitungan Peredaran Bruto untuk menentukan peredaran bruto dan Norma
                   Penghitungan Penghasilan Netto untuk menentukan penghasilan netto, dibuat dan
                   disempurnakan terus-menerus serta diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak berdasarkan
                   pegangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

          (2)     Wajib Pajak orang pribadi yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari
                   Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah), boleh menghitung penghasilan netto dengan
                   menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Netto sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
                   dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga)
                   bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.

          (3)     Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang menghitung penghasilan nettonya
                   dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Netto, wajib menyelenggarakan
                   pencatatan sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata
                   Cara Perpajakan.

          (4)     Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang tidak memberitahukan kepada
                   Direktur Jenderal Pajak untuk menghitung Penghasilan Netto dengan menggunakan Norma
                   Penghitungan Penghasilan Netto, dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan.

          (5)     Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan, termasuk Wajib Pajak sebagaimana
                   dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4), yang ternyata tidak atau tidak sepenuhnya
                   menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan peredaran bruto atau tidak memperlihat
                   pembukuan atau pencatatan peredaran bruto atau bukti-bukti pendukungnya, sehingga tidak
                   diketahui besarnya peredaran bruto yang sebenarnya, maka peredaran bruto dan penghasilan
                   netonya dihitung berdasarkan norma penghitungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

          (6)     Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan, termasuk Wajib Pajak sebagaimana
                   dimaksud pada ayat (4), yang ternyata tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan
                   pembukuan, atau tidak memperlihatkan pembukuan atau bukti-bukti pendukungnya tetapi
                   dapat diketahui peredaran bruto yang sebenarnya, maka penghasilan nettonya dihitung
                   berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Netto.

          (7)     Besarnya peredaran bruto sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diubah dengan
                   keputusan Menteri Keuangan."


17.     Ketentuan Pasal 15 disempurnakan, sehingga berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 15

          Norma Penghitungan Khusus untuk menghitung penghasilan netto dari Wajib Pajak tertentu yang tidak
          dapat dihitung berdasarkan ketentuan Pasal 16 ayat (1) atau ayat (3) ditetapkan Menteri Keuangan."


18.     Ketentuan Pasal 16 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 16

          (1)     Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarif bagi Wajib Pajak dalam negeri dalam
                   suatu tahun pajak dihitung dengan cara mengurangkan dari penghasilan sebagaimana
                   dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dengan pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
                   ayat (1) dan ayat (2), Pasal 7 ayat (1), dan Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, dan huruf e.

          (2)     Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dan badan sebagaimana dimaksud
                   dalam Pasal 14, dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan sebagaimana dimaksud
                   dalam pasal tersebut, dan untuk Wajib Pajak orang pribadi dikurangi dengan Penghasilan
                   Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1).

          (3)     Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau
                   melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia dalam suatu tahun pajak
                   dihitung dengan cara mengurangkan dari penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
                   ayat (1) dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 4 ayat (1) dengan pengurangan
                   sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2),
                   dan Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, dan huruf e.

          (4)     Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang terutang pajak
                   dalam suatu bagian tahun pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2A ayat (6) dihitung
                   berdasarkan penghasilan netto yang diterima atau diperoleh dalam bagian tahun pajak yang
                   disetahunkan."


19.     Ketentuan Pasal 17 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 17

          (1)     Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan
                   bentuk usaha tetap adalah sebagai berikut :

                   Lapisan Penghasilan Kena Pajak                                                 Tarif Pajak

                   sampai dengan Rp 25.000.000,00                                          10%
                   (dua puluh  lima juta rupiah)                                         (sepuluh persen)

                   di atas Rp 25.000.000,00                                                                  15 %
                   (dua puluh lima juta rupiah) s/d                                              (lima belas persen)
                   Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)

                   di atas Rp 50.000.000,00                                                                  30 %
                   (lima puluh juta rupiah)                                                 (tiga puluh persen)

                  
          (2)     Dengan Peraturan Pemerintah, tarif tertinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
                   diturunkan menjadi serendah-rendahnya 25 % (dua puluh lima persen).

          (3)     Besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah
                   dengan Keputusan Menteri Keuangan.

          (4)     Untuk keperluan penerapan tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), jumlah
                   Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh.

          (5)     Besarnya pajak yang terutang bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang terutang
                   pajak dalam bagian tahun pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4) dihitung
                   sebanyak jumlah hari dalam bagian tahun pajak tersebut dibagi 360 (tiga ratus enam puluh)
                   dikalikan dengan pajak yang terutang untuk 1 (satu) tahun pajak.

          (6)     Untuk keperluan penghitungan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (5), tiap bulan yang
                   penuh dihitung 30 (tiga puluh) hari.

          (7)     Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan tarif pajak tersendiri atas penghasilan
                   sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), sepanjang tidak melebihi tarif pajak tertinggi
                   sebagaimana tersebut pada ayat (1)."


20.     Ketentuan Pasal 18 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 18

          (1)     Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan keputusan mengenai besarnya perbandingan
                   antara utang dan modal perusahaan untuk keperluan penghitungan pajak berdasarkan
                   Undang-undang ini.

          (2)     Menteri Keuangan berwenang menetapkan saat diperolehnya deviden oleh Wajib Pajak dalam
                   negeri atas penyertaan modal pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang
                   menjual sahamnya di bursa efek, dengan ketentuan sebagai berikut :
                   a.       besarnya penyertaan modal Wajib Pajak dalam negeri tersebut sekurang-kurangnya
                             50 % (lima puluh persen) dari jumlah saham yang disetor; atau
                   b.       secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya memiliki penyertaan
                             modal 50 % (lima puluh persen) atau lebih dari jumlah saham yang disetor.

          (3)     Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan
                   pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan
                   Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak
                   lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan
                   istimewa.

          (4)     Hubungan istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pasal 8 ayat (4), Pasal 9 ayat (1)
                   huruf f, dan Pasal 10 ayat (1) dianggap ada apabila :
                   a.       Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung sebesar
                             25 % (dua puluh lima persen) atau lebih pada Wajib Pajak lain, atau hubungan antara
                             Wajib Pajak dengan penyertaan modal 25% (dua lima puluh persen) atau lebih pada
                             dua Wajib Pajak atau lebih, demikian pula hubungan antara dua Wajib Pajak atau
                             lebih yang disebut terakhir; atau
                   b.       Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya, atau dua atau lebih Wajib Pajak berada
                             di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau
                   c.       terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan
                             lurus dan/atau ke samping satu derajat.

          (5)     Apabila Wajib Pajak badan dalam negeri memiliki penyertaan modal langsung atau tidak
                   langsung sebesar 25% (dua puluh lima persen) atau lebih pada Wajib Pajak badan dalam
                   negeri lainnya, maka lapisan tarif rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 hanya
                   diterapkan pada 1 (satu) Wajib Pajak saja."


21.     Ketentuan Pasal 19 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 19

          (1)     Menteri Keuangan berwenang menetapkan peraturan tentang penilaian kembali aktiva dan
                   faktor penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian antara unsur-unsur biaya dengan
                   penghasilan karena perkembangan harga.

          (2)     Atas selisih penilaian kembali aktiva sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterapkan tarif
                   pajak tersendiri dengan keputusan Menteri Keuangan sepanjang tidak melebihi tarif pajak
                   tertinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1)."


22.     Ketentuan Pasal 20 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 20

          (1)     Pajak yang diperkirakan akan terutang dalam suatu tahun pajak, dilunasi oleh Wajib Pajak
                   dalam tahun pajak berjalan melalui pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain, serta
                   pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri.

          (2)     Pelunasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk setiap bulan atau
                   masa lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

          (3)     Pelunasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan angsuran pajak yang boleh
                   dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan,
                   kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final."


23.     Ketentuan Pasal 21 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 21

          (1)     Pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak atas penghasilan sehubungan dengan
                   pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau
                   diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, wajib dilakukan oleh :
                   a.       pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran
                             lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai
                             atau bukan pegawai;
                   b.       bendaharawan pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan
                             pembayaran lain, sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan;
                   c.       dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dan pembayaran lain
                             dengan nama apapun dalam rangka pensiun;
                   d.       badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan
                             dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas;
                   e.       perusahaan, badan, dan penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran
                             sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan.

          (2)     Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang wajib melakukan pemotongan, penyetoran, dan
                   pelaporan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah:
                   a.       badan perwakilan negara asing;
                   b.       organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

          (3)     Penghasilan pegawai tetap atau pensiunan yang dipotong pajak untuk setiap bulan adalah
                   jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi dengan biaya jabatan atau biaya pensiun yang
                   besarnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, iuran pensiun, dan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

          (4)     Penghasilan pegawai harian, mingguan, serta pegawai tidak tetap lainnya yang dipotong pajak
                   adalah jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi bagian penghasilan yang tidak dikenakan
                   pemotongan yang besarnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

          (5)     Tarif pemotongan atas pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sama dengan
                   tarif pajak sebagaimana tersebut dalam Pasal 17.

          (6)     Pajak yang telah dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan
                   pekerjaan dari 1 (satu) pemberi kerja sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada
                   ayat (3) dan ayat (4), merupakan pelunasan pajak yang terutang untuk tahun pajak yang
                   bersangkutan, kecuali pegawai atau pensiunan tersebut menerima atau memperoleh
                   penghasilan lain yang bukan penghasilan yang pajaknya telah dibayar atau dipotong dan
                   bersifat final menurut Undang-undang ini.

          (7)     Menteri Keuangan berwenang untuk menetapkan pemotongan pajak yang bersifat final atas

                   penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan
                   tertentu.

          (8)     Petunjuk mengenai pelaksanaan pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak atas
                   penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan ditetapkan oleh Direktur
                   Jenderal Pajak."


24.     Ketentuan Pasal 22 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 22

          (1)     Menteri Keuangan dapat menetapkan bendaharawan pemerintah untuk memungut pajak
                   sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, dan badan-badan tertentu untuk
                   memungut pajak dari Wajib Pajak yang melakukan kegiatan di bidang impor atau kegiatan
                   usaha di bidang lain.

          (2)     Ketentuan mengenai dasar pemungutan, sifat dan besarnya pungutan, tata cara penyetoran,
                   dan tata cara pelaporan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri
                   Keuangan."


25.     Ketentuan Pasal 23 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 23

          (1)     Atas penghasilan tersebut dibawah ini dengan nama dan dalam bentuk apapun yang
                   dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah, Subyek Pajak badan dalam negeri,
                   penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya
                   kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang
                   wajib membayarkan :
                   a.       sebesar 15 % (lima belas persen) dari jumlah bruto atas :
                             1)      dividen;
                             2)      bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan
                                      jaminan pengembalian utang;
                             3)      royalti;
                             4)      hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan
                                      sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e;
                   b.       sebesar 15 % (lima belas persen) dari jumlah bruto dan bersifat final atas bunga
                             simpanan yang dibayarkan oleh koperasi;
                   c.       sebesar 15 % (lima belas persen) dari perkiraan penghasilan netto atas :
                             1)      sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
                             2)      imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi,
                                      jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak
                                      Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.

          (2)     Besarnya perkiraan penghasilan neto dan jenis jasa lain sebagaimana dimaksud pada
                   ayat (1) huruf c ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

          (3)     Orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri dapat ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak
                   untuk memotong pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

          (4)     Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan atas :
                   a.       penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;
                   b.       sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan
                             hak opsi;
                   c.       dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f;
                   d.       bunga obligasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i;
                   e.       bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf j; 
                   f.      sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;
                   g.       bunga simpanan yang tidak melebihi batas yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan
                             yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya."


26.     Ketentuan Pasal 24 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 24

          (1)     Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima
                   atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang
                   berdasarkan Undang-undang ini dalam tahun pajak yang sama.

          (2)     Besarnya kredit pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebesar pajak penghasilan
                    yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang
                   terutang berdasarkan Undang-undang ini.

          (3)     Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan, penentuan sumber penghasilan
                   adalah sebagai berikut :

                   a.       penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang
                             menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat kedudukan;
                   b.       penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga, royalti, atau
                             sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada;
                   c.       penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah
                             negara tempat harta tersebut terletak;
                   d.       penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan
                             adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut
                             bertempat kedudukan atau berada;
                   e.       penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap tersebut
                             menjalankan usaha atau melakukan kegiatan.

          (4)     Penentuan sumber penghasilan selain penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
                   menggunakan prinsip yang sama dengan prinsip yang dimaksud pada ayat tersebut.

          (5)     Apabila pajak atas penghasilan dari luar negeri yang dikreditkan ternyata kemudian
                   dikurangkan atau dikembalikan, maka pajak yang terutang menurut Undang-undang ini harus
                   ditambah dengan jumlah tersebut pada tahun pengurangan atau pengembalian itu dilakukan.

          (6)     Ketentuan mengenai pelaksanaan pengkreditan pajak atas penghasilan dari luar negeri
                   ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan."


27.     Ketentuan Pasal 25 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 25

          (1)     Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib
                   Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat
                   Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan Pajak
                   Penghasilan yang dipotong dan/atau dipungut serta Pajak Penghasilan yang dibayar atau
                   terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21,
                   Pasal 22, Pasal 23, dan Pasal 24, dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian
                   tahun pajak.

          (2)     Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan
                   sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, sama
                   dengan besarnya angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu, sepanjang
                   tidak kurang dari rata-rata angsuran bulanan tahun pajak yang lalu.

          (3)     Apabila telah diterbitkan surat ketetapan pajak untuk 2 (dua) tahun pajak sebelum tahun Surat
                   Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang
                   menghasilkan angsuran pajak yang lebih besar dari angsuran pajak berdasarkan Surat
                   Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tersebut, maka besarnya angsuran pajak dihitung
                   berdasarkan surat ketetapan pajak tahun pajak terakhir.

          (4)     Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk 2 (dua) tahun pajak
                   sebelumnya yang menghasilkan angsuran pajak yang lebih besar daripada angsuran pajak
                   bulan yang lalu, yang dihitung berdasarkan ketentuan pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3),
                   maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat ketetapan pajak tahun
                   pajak terakhir dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat ketetapan
                   pajak.

          (5)     Apabila Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
                   Penghasilan tahun pajak yang lalu lebih kecil dari jumlah Pajak Penghasilan yang telah
                   dibayar, dipotong dan/atau dipungut selama tahun pajak yang bersangkutan, maka besarnya
                   angsuran pajak untuk setiap bulan sama dengan angsuran pajak untuk bulan terakhir dari
                   tahun pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) sampai
                   dikeluarkannya keputusan Direktur Jenderal Pajak, dan untuk bulan-bulan berikutnya angsuran
                   pajak dihitung berdasarkan jumlah pajak yang terutang menurut keputusan tersebut.

          (6)     Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak
                   dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, apabila :
                   a.       Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian;
                   b.       Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur;
                   c.       Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu disampaikan
                             setelah lewat batas waktu yang ditentukan;
                   d.       Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan
                             Tahunan Pajak Penghasilan;
                   e.       Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
                             yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum
                             pembetulan;
                   f.       terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.

          (7)     Penghitungan besarnya angsuran pajak bagi Wajib Pajak baru, bank, badan usaha milik
                   negara, badan usaha milik daerah, dan Wajib Pajak tertentu lainnya ditetapkan oleh Menteri
                   Keuangan.

          (8)     Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang bertolak ke luar negeri wajib membayar pajak yang
                   ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah."


28.     Ketentuan Pasal 26 diubah, sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 26

          (1)     Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang
                  dibayarkan atau yang terutang oleh badan pemerintah, Subyek Pajak dalam negeri,
                   penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya
                   kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dipotong pajak
                   sebesar 20 % (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan :
                   a.       dividen;
                   b.       bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
                             pengembalian utang;
                   c.       royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
                   d.       imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
                   e.       hadiah dan penghargaan;
                   f.       pensiun dan pembayaran berkala lainnya.

          (2)     Atas penghasilan dari penjualan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2),
                   yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia,
                   dan premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri, dipotong pajak
                   sebesar 20 % (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan netto.

          (3)     Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri
                   Keuangan.

          (4)     Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia
                   dikenakan pajak sebesar 20 % (dua puluh persen), kecuali penghasilan tersebut ditanamkan
                   kembali di Indonesia yang ketentuannya ditetapkan lebih lanjut dengan keputusan Menteri
                   Keuangan.

          (5)     Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (4) bersifat final,
                   kecuali :
                    a.       pemotongan atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b
                             dan huruf c;
                   b.       pemotongan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan
                             luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha
                             tetap."


29.     Ketentuan Pasal 27 dihapus.


30.     Judul Bab VI diubah, sehingga menjadi sebagai berikut :

                                                          "BAB VI
                                          PERHITUNGAN PAJAK PADA AKHIR TAHUN


31.     Ketentuan Pasal 28 disempurnakan dan ditambah dengan ketentuan baru, sehingga seluruhnya
          berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 28


          (1)     Bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, pajak yang terutang dikurangi dengan
                   kredit pajak untuk tahun pajak yang bersangkutan, berupa :
                    a.       pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, dan kegiatan sebagaimana
                             dimaksud dalam Pasal 21;
                   b.       pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan di bidang impor atau kegiatan
                             usaha di bidang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22;
                   c.       pemotongan pajak atas penghasilan berupa deviden, bunga, royalti, sewa, hadiah dan
                             penghargaan, dan imbalan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23;
                   d.       pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang boleh
                             dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24;
                    e.       pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana dimaksud dalam
                             Pasal 25;
                    f.       pemotongan pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (5).

          (2)     Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda
                   yang berkenaan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan
                   yang berlaku tidak boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang sebagaimana dimaksud
                   pada ayat (1)."


32.     Menambah ketentuan baru diantara Pasal 28 dan Pasal 29 yang dijadikan Pasal 28 A, yang berbunyi
          sebagai berikut :
                                                          "Pasal 28A

          Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak
          sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), maka setelah dilakukan pemeriksaan, kelebihan
          pembayaran pajak dikembalikan setelah diperhitungkan dengan utang pajak berikut sanksi-sanksinya."


33.     Ketentuan Pasal 29 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

                                                          "Pasal 29

          Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih besar daripada kredit pajak
          sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), maka kekurangan pajak yang terutang harus dilunasi
          selambat-lambatnya tanggal 25 (dua puluh lima) bulan ketiga setelah tahun pajak berakhir, sebelum
          Surat Pemberitahuan Tahunan disampaikan."


34.     Ketentuan Pasal 30 dihapus.


35.     Ketentuan Pasal 31 dihapus.


36.     Menambah ketentuan baru diantara Pasal 31 dan Pasal 32 yang dijadikan Pasal 31A dalam Bab VII
          tentang Ketentuan Lain-lain, yang berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 31 A

          Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di
          daerah-daerah tertentu dapat diberikan fasilitas perpajakan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah."


37.     Ketentuan Pasal 32 disempurnakan, sehingga berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 32

          Tata cara pengenaan pajak dan sanksi-sanksi berkenaan dengan pelaksanaan Undang-undang ini
          dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Ketentuan
          Umum dan Tata Cara Perpajakan."


38.     Menambah ketentuan baru diantara Pasal 33 dan Pasal 34 yang dijadikan Pasal 33A dan BAB VIII
          tentang Ketentuan Peralihan, yang berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 33A

          (1)     Wajib Pajak yang tahun bukunya berakhir setelah tanggal 30 Juni 1995 wajib menghitung
                   pajaknya berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah
                   diubah terakhir dengan Undang-undang ini.

          (2)     Wajib Pajak yang memperoleh fasilitas perpajakan dan telah mendapat keputusan tentang
                   saat mulai berproduksi sebelum tanggal 1 Januari 1995, maka fasilitas perpajakan dimaksud
                   dapat dinikmati sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan.

          (3)     Fasilitas perpajakan yang telah diberikan, berakhir pada tanggal 31 Desember 1994, kecuali
                   fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

          (4)     Wajib Pajak yang menjalankan usaha di bidang pertambangan minyak dan gas bumi,
                  pertambangan umum, dan pertambangan lainnya berdasarkan Kontrak Bagi Hasil, Kontrak
                   Karya, atau perjanjian kerjasama pengusahaan pertambangan yang masih berlaku pada saat
                   berlakunya Undang-undang ini, pajaknya dihitung berdasarkan ketentuan dalam Kontrak Bagi
                   Hasil, Kontrak Karya, atau perjanjian kerjasama pengusahaan pertambangan tersebut sampai
                   dengan berakhirnya kontrak atau perjanjian kerjasama dimaksud."


39.     Ketentuan Pasal 34 disempurnakan, sehingga berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 34

          Peraturan pelaksanaan di bidang Pajak Penghasilan yang masih berlaku pada saat berlakunya
          Undang-undang ini dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam
          Undang-undang ini."


40.     Ketentuan Pasal 35 disempurnakan, sehingga berbunyi sebagai berikut :

                                                          "Pasal 35

          Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-undang ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan
          Pemerintah."


                                                          Pasal II

Undang-undang ini dapat disebut "Undang-undang Perubahan Kedua Undang-undang Pajak Penghasilan 1984."


                                                          Pasal III

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1995. Agar setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.




                                                                   Disahkan di Jakarta
                                                                   Pada tanggal 9 Nopember 1994
                                                                   PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

                                                                             ttd

                                                                   SOEHARTO

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 9 November 1994
MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA,

          ttd

MOERDIONO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1994 NOMOR 60








PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 10 TAHUN 1994
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983
TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991



UMUM
Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang
menjunjung tinggi hak dan kewajiban setiap orang, oleh karena itu menempatkan perpajakan sebagai salah
satu perwujudan kewajiban kenegaraan dalam rangka kegotong-royongan nasional sebagai peran serta
masyarakat dalam pembiayaan negara dan pembangunan.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 23 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945, ketentuan-ketentuan perpajakan yang
merupakan landasan pemungutan pajak harus ditetapkan dengan undang-undang. Berdasarkan ketentuan
tersebut, maka sebagai hasil reformasi undang-undang perpajakan tahun 1983 telah diundangkan Undang-
undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, sebagai landasan hukum pengenaan Pajak
Penghasilan yang berlaku sejak tahun 1984, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun
1991.

Dengan pesatnya perkembangan sosial ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional dan globalisasi di
berbagai bidang, disadari bahwa banyak bentuk-bentuk dan praktek penyelenggaraan kegiatan usaha yang
aspek perpajakannya belum diatur atau belum cukup diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991. Selain dari pada itu, Undang-undang
tersebut belum sepenuhnya menampung amanat dalam Garis-garis Besar Haluan Negara 1993. Oleh karena
itu, dipandang sudah masanya untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991.

Dengan berpegang teguh pada prinsip kepastian hukum, keadilan, dan kesederhanaan, maka arah dan tujuan
penyempurnaan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang
Nomor. 7 Tahun 1991 adalah sebagai berikut :
a.       Menuju kemandirian bangsa dalam pembiayaan negara dan pembiayaan pembangunan yang sumber
          utamanya berasal dari penerimaan pajak;
b.       Lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat dalam berpartisipasi dalam
          pembiayaan pembangunan sesuai dengan kemampuannya;
c.       Menunjang kebijaksanaan pemerintah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan, pemerataan
          pembangunan, dan investasi di seluruh wilayah Republik Indonesia;
d.       Menunjang usaha peningkatan ekspor, terutama ekspor non migas, barang hasil olahan dan jasa-jasa
          dalam rangka meningkatkan perolehan devisa;
e.       Menunjang usaha pengembangan usaha kecil untuk mengoptimalkan pengembangan potensinya, dan
          dalam rangka pengentasan kemiskinan;
f.       Menunjang usaha pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, pelestarian
          ekosistem, sumber daya alam dan lingkungan hidup;
g.       Menunjang usaha terciptanya aparat perpajakan yang makin mampu dan makin bersih, peningkatan
          pelayanan kepada Wajib Pajak termasuk penyederhanaan dan kemudahan prosedur dalam pemenuhan
          kewajiban perpajakan, peningkatan pengawasan atas pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakan
          tersebut, termasuk peningkatan penegakan pelaksanaan ketentuan hukum yang berlaku.

Dengan berlandaskan pada arah dan tujuan penyempurnaan tersebut, perlu dilakukan perubahan terhadap
beberapa ketentuan dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-
undang Nomor 7 Tahun 1991, dengan pokok-pokok sebagai berikut :
a.       Dalam rangka meningkatkan kemandirian bangsa dalam pembiayaan pembangunan nasional, diatur
          ketentuan-ketentuan yang menunjang kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi pengenaan pajak;
b.       Ketentuan mengenai Subyek Pajak diatur secara lebih luwes agar dapat mengikuti perkembangan
          sosial ekonomi dan perkembangan bentuk-bentuk aktifitas bisnis yang timbul dan berkembang di
          masyarakat;
c.       Kesempatan mengenai Obyek Pajak diatur dengan lebih rinci, jelas dan tegas untuk lebih memberikan
          kepastian hukum dan keadilan dalam pengenaan pajak;
d.       Dalam rangka menunjang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengeluaran untuk
          penelitian dan pengembangan perusahaan boleh dibebankan sebagai biaya;
e.       Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pengeluaran untuk biaya pelatihan, magang, dan
          bea siswa dapat dibebankan sebagai biaya;
f.       Dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan
          pembangunan nasional di segala bidang, dapat diberikan fasilitas perpajakan kepada Wajib Pajak yang
          melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerah-daerah tertentu;
g.       Kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun yang
          diatur selaras dengan kebijakan pemerintah dalam pemerataan pembangunan nasional;
h.       Untuk menunjang program pemerintah dalam pelestarian ekosistem, sumber daya alam dan lingkungan
          hidup, ditegaskan bahwa biaya pengolahan limbah boleh dibebankan sebagai biaya dan diatur
          mengenai pembentukan atau pemupukan cadangan untuk biaya reklamasi;
i.        Untuk memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak dalam hal penghitungan penyusutan atas harta
          yang dimiliki dan digunakan dalam usaha serta lebih menyelaraskan pembukuan Wajib Pajak untuk
          kepentingan fiskal, maka kepada Wajib Pajak diberikan kebebasan untuk memilih metode penyusutan
          atas harta berwujud bukan bangunan;
j.        Kebijaksanaan di bidang tarif pajak dilakukan dengan mengatur kembali besarnya lapisan Penghasilan
          Kena Pajak dan besarnya lapisan tarif pajak dengan tetap mempertahankan progresivitas tarif yang
          diberlakukan terhadap Wajib Pajak orang pribadi dan Wajib Pajak badan, dengan mempertimbangkan
          kesempatan melakukan pengembangan kegiatan usaha dan persaingan dunia usaha dalam era
          globalisasi;
k.       Mencegah penghindaran pajak melalui penundaan pembagian laba dalam waktu yang tidak ditentukan
          atas penanaman modal di luar negeri;
l.        Perluasan dalam sistem pemotongan dan pemungutan pajak untuk meningkatkan kepatuhan Wajib
          Pajak, menggali potensi fiskal yang tersedia, dan menunjang sistem "self assessment" melalui
          pemanfaatan data yang lebih efektif dan efisien;
m.      Dalam rangka kemudahan dan kesederhanaan pengenaan pajak serta untuk  meningkatkan kepatuhan
          Wajib Pajak, diatur pemungutan pajak yang bersifat final atas penghasilan-penghasilan tertentu.


PASAL DEMI PASAL

Pasal I

          Angka 1

                   Pasal 1

                             Undang-undang ini mengatur pengenaan pajak penghasilan terhadap Subyek Pajak
                             berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak.
                             Subyek Pajak tersebut dikenakan pajak apabila menerima atau memperoleh
                             penghasilan. Subyek Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam
                             Undang-undang ini disebut Wajib Pajak. Wajib Pajak dikenakan pajak atas
                             penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu tahun pajak atau dapat pula
                             dikenakan pajak untuk penghasilan dalam bagian tahun pajak, apabila kewajiban pajak
                             subjeknya dimulai atau berakhir dalam tahun pajak.

                             Yang dimaksud dengan tahun pajak dalam Undang-undang ini adalah tahun takwim,
                             namun Wajib Pajak dapat menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun
                            takwim, sepanjang tahun buku tersebut meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan.

          Angka 2

                   Pasal 2

                             Ayat (1)

                                      Pengertian Subyek Pajak meliputi orang pribadi, warisan yang belum terbagi
                                      sebagai satu kesatuan, badan, dan bentuk usaha tetap.

                                      Huruf a

                                                Orang pribadi sebagai Subyek Pajak dapat bertempat tinggal atau
                                                berada di Indonesia ataupun di luar Indonesia. Warisan yang belum
                                                terbagi sebagai satu kesatuan merupakan Subyek Pajak pengganti,
                                                menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris. Penunjukan
                                                warisan yang belum terbagi sebagai Subyek Pajak pengganti
                                                dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal
                                                dari warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan.

                                      Huruf b

                                                Pengertian badan sebagai Subyek Pajak terdiri dari perseroan
                                                terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik
                                                negara dan badan usaha milik daerah, persekutuan, perkumpulan,
                                                firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis,
                                                lembaga, dana pensiun, dan bentuk badan usaha lainnya.

                                                Badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah merupakan
                                                Subyek Pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya, sehingga
                                                setiap unit tertentu dari badan pemerintah, misalnya lembaga, badan,
                                                dan sebagainya yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah
                                                Daerah yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk
                                                memperoleh penghasilan merupakan Subyek Pajak.

                                                Perkumpulan sebagai Subyek Pajak adalah perkumpulan yang
                                                menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh
                                                penghasilan dan/atau memberikan jasa kepada anggota. Dalam
                                                pengertian perkumpulan termasuk pula asosiasi, persatuan,
                                                perhimpunan, atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai
                                                kepentingan yang sama.

                                      Huruf c

                                                Lihat ketentuan pada ayat (5) dan penjelasannya.

                             Ayat (2)

                                      Subyek Pajak dibedakan antara Subyek Pajak dalam negeri dan Subyek
                                      Pajak luar negeri. Subyek Pajak dalam negeri menjadi Wajib Pajak apabila
                                      telah menerima atau memperoleh penghasilan, sedangkan Subjek Pajak luar
                                      negeri sekaligus menjadi Wajib Pajak sehubungan dengan penghasilan yang
                                      diterima dari sumber penghasilan di Indonesia atau diperoleh melalui bentuk
                                      usaha tetap di Indonesia. Dengan perkataan lain Wajib Pajak adalah orang
                                      pribadi atau badan yang telah memenuhi kewajiban subyektif dan obyektif.

                                      Perbedaan yang penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak
                                      luar negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain :

                                      a.       Wajib Pajak dalam negeri dikenakan pajak atas penghasilan baik
                                                yang diterima atau diperoleh dari Indonesia dan dari luar Indonesia,
                                                sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenakan pajak hanya atas
                                                penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.

                                      b.       Wajib Pajak dalam negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan
                                                netto dengan tarif umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri
                                                dikenakan pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak
                                                sepadan.

                                      c.       Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan
                                                Tahunan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang
                                                dalam suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak
                                                wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan, karena
                                                kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang
                                                bersifat       final.

                                      Bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan
                                      kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, pemenuhan kewajiban
                                      perpajakannya dipersamakan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan
                                      Wajib Pajak dalam negeri sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini dan
                                      Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

                             Ayat (3)

                                      Huruf a

                                                Pada prinsipnya orang pribadi yang menjadi Subyek Pajak dalam
                                                negeri adalah orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada di
                                                Indonesia. Termasuk dalam pengertian orang pribadi yang bertempat
                                                tinggal di Indonesia adalah mereka yang mempunyai niat untuk
                                                bertempat tinggal di Indonesia. Apakah seseorang mempunyai niat
                                                untuk bertempat tinggal di Indonesia ditimbang menurut keadaan.

                                                Keberadaan orang pribadi di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan
                                                puluh tiga) hari tidaklah harus berturut-turut, tetapi ditentukan oleh
                                                jumlah hari orang tersebut berada di Indonesia dalam jangka waktu
                                                12 (dua belas) bulan sejak kedatangannya di Indonesia.

                                      Huruf b

                                                Cukup jelas

                                      Huruf c

                                                Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh orang pribadi
                                                sebagai Subyek Pajak dalam negeri dianggap Subyek Pajak dalam
                                                negeri dalam pengertian Undang-undang ini mengikuti status pewaris.
                                                Adapun untuk pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakannya,
                                                warisan tersebut menggantikan kewajiban ahli waris yang berhak.
                                                Apabila warisan tersebut telah dibagi, maka kewajiban
                                                perpajakannya beralih kepada ahli waris.

                                                Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh orang pribadi
                                                sebagai Subyek Pajak luar negeri yang tidak menjalankan usaha atau
                                                melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia,
                                                tidak dianggap sebagai Subyek Pajak pengganti karena pengenaan
                                                pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi
                                                dimaksud melekat pada obyeknya.

                             Ayat (4)

                                      Huruf a dan huruf b

                                                Subyek Pajak luar negeri adalah orang pribadi atau badan yang
                                                bertempat tinggal atau bertempat kedudukan di luar Indonesia yang
                                                dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia, baik
                                                melalui ataupun tanpa melalui bentuk usaha tetap. Orang pribadi
                                                yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, tetapi berada di Indonesia
                                                kurang dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka
                                                waktu 12 (dua belas) bulan, maka orang tersebut adalah Subyek
                                                Pajak luar negeri.
                                                Apabila penghasilan diterima atau diperoleh melalui bentuk usaha
                                                tetap, maka terhadap orang pribadi atau badan tersebut dikenakan
                                                pajak melalui bentuk usaha tetap, dan orang pribadi atau badan
                                                tersebut statusnya tetap sebagai Subyek Pajak luar negeri. Dengan
                                                demikian bentuk usaha tetap tersebut menggantikan orang pribadi
                                                atau badan sebagai Subyek Pajak luar negeri dalam memenuhi
                                                kewajiban perpajakannya di Indonesia.

                                                Dalam hal penghasilan tersebut diterima atau diperoleh tanpa melalui
                                                bentuk usaha tetap, maka pengenaan pajaknya dilakukan langsung
                                                kepada Subyek Pajak luar negeri tersebut.

                             Ayat (5)

                                      Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat
                                      usaha ("place of business") yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan
                                      gedung termasuk juga mesin-mesin dan peralatan.

                                      Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan
                                      usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat
                                      tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan
                                      di Indonesia.

                                      Pengertian bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan
                                      selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas
                                      nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak
                                      bertempat kedudukan di Indonesia.

                                      Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan
                                      dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap
                                      mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila orang pribadi atau badan
                                      dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia
                                      menggunakan agen, broker atau perantara yang mempunyai kedudukan
                                      bebas, asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak
                                      sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri.

                                      Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan di luar
                                      Indonesia dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila
                                      perusahaan asuransi tersebut menerima pembayaran premi asuransi di
                                      Indonesia atau menanggung risiko di Indonesia melalui pegawai, perwakilan
                                      atau agennya di Indonesia. Menanggung risiko di Indonesia tidak berarti
                                      bahwa peristiwa yang mengakibatkan risiko tersebut terjadi di Indonesia.
                                      Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal,
                                      berada atau bertempat kedudukan di Indonesia.

                             Ayat (6)

                                      Penentuan tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan
                                      penting untuk menetapkan Kantor Pelayanan Pajak mana yang mempunyai
                                      yurisdiksi pemajakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang
                                      pribadi atau badan tersebut.

                                      Pada dasarnya tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan
                                      ditentukan menurut keadaan yang sebenarnya. Dengan demikian penentuan
                                      tempat tinggal atau tempat kedudukan tidak hanya didasarkan pada
                                      pertimbangan yang bersifat formal, tetapi lebih didasarkan pada kenyataan.
                                      Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam
                                      menentukan tempat tinggal seseorang atau tempat kedudukan badan
                                      tersebut antara lain domisili, alamat tempat tinggal, tempat tinggal keluarga,
                                      tempat menjalankan usaha pokok atau hal-hal lain yang perlu
                                      dipertimbangkan untuk memudahkan pelaksanaan pemenuhan kewajiban
                                      pajak.

          Angka 3

                   Pasal 2A

                             Pajak Penghasilan merupakan jenis pajak subyektif yang kewajiban pajaknya
                             melekat pada Subyek Pajak yang bersangkutan, artinya kewajiban pajak tersebut
                             dimaksudkan untuk tidak dilimpahkan kepada Subyek Pajak lainnya. Oleh karena itu
                             dalam rangka memberikan kepastian hukum, penentuan saat mulai dan berakhirnya
                             kewajiban pajak subyektif menjadi penting.

                             Ayat (1)

                                      Kewajiban pajak subyektif orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia
                                      dimulai pada saat ia lahir di Indonesia. Untuk orang pribadi yang berada di
                                      Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu
                                      12 (dua belas) bulan, kewajiban pajak subyektifnya dimulai sejak hari
                                      pertama ia berada di Indonesia. Kewajiban pajak subyektif orang pribadi
                                      berakhir pada saat ia meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk
                                      selama-lamanya.

                                      Pengertian meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya harus dikaitkan
                                      dengan hal-hal yang nyata pada saat orang pribadi tersebut meninggalkan
                                      Indonesia. Apabila pada saat ia meninggalkan Indonesia terdapat bukti-bukti
                                      yang nyata mengenai niatnya untuk meninggalkan Indonesia untuk selama-
                                      lamanya, maka pada saat itu ia tidak lagi menjadi Subyek Pajak dalam
                                      negeri.

                             Ayat (2)

                                      Cukup jelas

                             Ayat (3)

                                      Bagi orang pribadi yang tidak bertempat tinggal dan berada di Indonesia tidak
                                      lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari, dan badan yang tidak
                                      didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang menjalankan
                                      usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia melalui suatu bentuk usaha
                                      tetap, kewajiban pajak subyektifnya dimulai pada saat bentuk usaha tetap
                                      tersebut berada di Indonesia dan berakhir pada saat bentuk usaha tetap
                                      tersebut tidak lagi berada di Indonesia.

                             Ayat (4)

                                      Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau berada di Indonesia tidak
                                      lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dan badan yang tidak
                                      didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia dan tidak menjalankan
                                      usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia,
                                      adalah Subyek Pajak luar negeri sepanjang orang pribadi atau badan
                                      tersebut mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia. Hubungan
                                      ekonomis dengan Indonesia dianggap ada apabila orang pribadi atau badan
                                      tersebut menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari sumber
                                      penghasilan di Indonesia.

                                      Kewajiban pajak subyektif orang pribadi atau badan tersebut dimulai pada
                                      saat orang pribadi atau badan mempunyai hubungan ekonomis dengan
                                      Indonesia, yaitu menerima atau memperoleh penghasilan dari sumber-

                                      sumber di Indonesia dan berakhir pada saat orang pribadi atau badan
                                      tersebut tidak lagi mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia.

                             Ayat (5)

                                      Kewajiban pajak subyektif warisan yang belum terbagi dimulai pada saat
                                      timbulnya warisan yang belum terbagi tersebut, yaitu pada saat
                                      meninggalnya pewaris. Sejak saat itu pemenuhan kewajiban perpajakannya
                                      melekat pada warisan tersebut. Kewajiban pajak subyektif warisan berakhir
                                      pada saat warisan tersebut dibagi kepada para ahli waris. Sejak saat itu
                                      pemenuhan kewajiban perpajakannya beralih kepada para ahli waris.

                             Ayat (6)

                                      Dapat terjadi orang pribadi menjadi Subyek Pajak tidak untuk jangka waktu
                                      satu tahun pajak penuh, misalnya orang pribadi yang mulai menjadi Subyek
                                      Pajak pada pertengahan tahun pajak, atau yang meninggalkan Indonesia
                                      untuk selama-lamanya pada pertengahan tahun pajak. Jangka waktu yang
                                      kurang dari satu tahun pajak tersebut dinamakan bagian tahun pajak yang
                                      menggantikan tahun pajak.

          Angka 4

                   Pasal 3

                             Huruf a dan huruf b

                                      Sesuai dengan kelaziman internasional, badan perwakilan negara asing
                                      beserta pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat serta pejabat-
                                      pejabat lainnya, dikecualikan sebagai Subyek Pajak di tempat mereka
                                      mewakili negaranya.

                                      Pengecualian sebagai Subyek Pajak bagi pejabat-pejabat tersebut tidak
                                      berlaku apabila mereka memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya atau
                                      mereka adalah warga negara Indonesia.

                                      Dengan demikian apabila pejabat perwakilan suatu negara asing memperoleh
                                      penghasilan lain di Indonesia di luar jabatannya, maka ia termasuk Subyek
                                      Pajak yang dapat dikenakan pajak atas penghasilan lain tersebut.

                                      Namun apabila negara asal pejabat tersebut memberikan pembebasan pajak
                                      kepada pejabat perwakilan Indonesia atas penghasilan lain di luar jabatannya,
                                      maka berlaku asas timbal balik.

                             Huruf c

                                      Cukup jelas

                             Huruf d

                                      Cukup jelas

          Angka 5

                   Pasal 4

                             Ayat (1)

                                      Undang-undang ini menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam
                                      pengertian yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan
                                      kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dari
                                      manapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau menambah
                                      kekayaan Wajib Pajak tersebut.

                                      Pengertian penghasilan dalam Undang-undang ini tidak memperhatikan
                                      adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan
                                      kemampuan ekonomis. Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
                                      diperoleh Wajib Pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan
                                      Wajib Pajak tersebut untuk ikut bersama-sama memikul biaya yang
                                      diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan.

                                      Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib
                                      Pajak, penghasilan dapat dikelompokkan menjadi :

                                      -        penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan
                                                bebas seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter,
                                                notaris, aktuaris, akuntan, pengacara, dan sebagainya;
                                      -        penghasilan dari usaha dan kegiatan;
                                      -        penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta tak
                                                gerak seperti bunga, deviden, royalti, sewa, keuntungan penjualan
                                                harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha, dan lain
                                                sebagainya;
                                      -        penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang, hadiah, dan lain
                                                sebagainya.

                                      Dilihat dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan
                                      dapat pula ditabung untuk menambah kekayaan Wajib Pajak. Karena Undang-
                                      undang ini menganut pengertian penghasilan yang luas maka semua jenis
                                      penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak
                                      digabungkan untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak. Dengan demikian,
                                      apabila dalam satu tahun pajak suatu usaha atau kegiatan menderita
                                      kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan
                                      lainnya (kompensasi horizontal), kecuali kerugian yang diderita di luar negeri.
                                      Namun demikian, apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak dengan
                                      tarif yang bersifat final atau dikecualikan dari Obyek Pajak, maka penghasilan
                                      tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakan
                                      tarif umum.

                                      Contoh-contoh penghasilan yang disebut dalam ketentuan ini dimaksudkan
                                      untuk memperjelas pengertian tentang penghasilan yang luas yang tidak
                                      terbatas pada contoh-contoh dimaksud.
                            
                                      Huruf a

                                               Semua pembayaran atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan,
                                                seperti upah, gaji, premi asuransi jiwa dan asuransi kesehatan yang
                                                dibayar oleh pemberi kerja, atau imbalan dalam bentuk lainnya
                                                adalah Obyek Pajak.

                                                Pengertian imbalan dalam bentuk lainnya termasuk imbalan dalam
                                                bentuk natura yang pada hakekatnya merupakan penghasilan.

                                      Huruf b

                                                Dalam pengertian hadiah termasuk hadiah dari undian pekerjaan,
                                                dan kegiatan seperti hadiah undian tabungan, hadiah dari
                                                pertandingan olahraga dan lain sebagainya.

                                                Yang dimaksud dengan penghargaan adalah imbalan yang diberikan
                                                sehubungan dengan kegiatan tertentu, misalnya imbalan yang
                                                diterima sehubungan dengan penemuan benda-benda purbakala.
                            
                                      Huruf c

                                                Cukup jelas

                                      Huruf d

                                                Apabila Wajib Pajak menjual harta dengan harga yang lebih tinggi
                                                dari nilai sisa buku atau lebih tinggi dari harga atau nilai perolehan,
                                                maka selisih harga tersebut merupakan keuntungan. Dalam hal
                                                penjualan harta tersebut terjadi antara badan usaha dengan
                                                pemegang sahamnya, maka harga jual yang dipakai sebagai dasar
                                                untuk penghitungan keuntungan dari penjualan tersebut adalah harga
                                                pasar.

                                                Misalnya PT. S memiliki sebuah mobil yang digunakan dalam
                                                kegiatan usahanya dengan nilai sisa buku sebesar Rp 40.000.000,00
                                                (empat puluh juta rupiah). Mobil tersebut dijual sesuai dengan harga
                                                pasar sebesar Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Dengan
                                                demikian keuntungan PT. S yang diperoleh karena penjualan mobil
                                                tersebut adalah Rp. 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah). Apabila
                                                mobil tersebut dijual kepada salah seorang pemegang sahamnya
                                                dengan harga Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), maka nilai
                                                jual mobil tersebut tetap dihitung berdasarkan harga pasar sebesar
                                                Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Selisih sebesar
                                                Rp.20.000.000,00 ( dua puluh juta rupiah) merupakan keuntungan
                                                bagi PT. S, dan bagi pemegang saham yang membeli mobil tersebut
                                                selisih sebesar Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) merupakan
                                                penghasilan.

                                                Apabila suatu badan dilikuidasi, keuntungan dari penjualan harta,
                                                yaitu selisih antara harga jual berdasarkan harga pasar dengan nilai
                                                sisa buku harta tersebut, merupakan Obyek Pajak. Demikian juga
                                                selisih lebih antara harga pasar dengan nilai sisa buku dalam hal
                                                terjadi penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, dan
                                                pengambil alihan usaha merupakan penghasilan.

                                                Dalam hal terjadi pengalihan harta sebagai pengganti saham atau
                                                penyertaan modal maka keuntungan berupa selisih antara harga
                                                pasar dari harta yang diserahkan dengan nilai bukunya merupakan
                                                penghasilan.

                                                Keuntungan berupa selisih antara harga pasar dengan nilai perolehan
                                                atau nilai sisa buku atas pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau
                                                sumbangan dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang
                                                mengalihkan, kecuali harta tersebut dialihkan kepada keluarga
                                                sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, serta badan
                                                keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial termasuk
                                                yayasan atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan
                                                oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan
                                                usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak
                                                yang bersangkutan.

                                      Huruf e

                                                Pengembalian pajak yang telah dibebankan sebagai biaya pada saat
                                                menghitung Penghasilan Kena Pajak, merupakan Obyek Pajak.

                                                Sebagai contoh Pajak Bumi dan Bangunan yang sudah dibayar dan
                                                dibebankan sebagai biaya, yang karena sesuatu sebab dikembalikan,
                                                maka jumlah sebesar pengembalian tersebut merupakan penghasilan.

                                      Huruf f

                                                Dalam pengertian bunga termasuk pula premium, diskonto dan
                                                imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang.

                                                Premium terjadi apabila misalnya surat obligasi di jual di atas nilai
                                                nominalnya sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli
                                                di bawah nilai nominalnya. Premium tersebut merupakan penghasilan
                                                bagi yang menerbitkan obligasi dan diskonto merupakan penghasilan
                                                bagi yang membeli obligasi.

                                      Huruf g

                                                Deviden merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham
                                                atau pemegang polis asuransi atau pembagian sisa hasil usaha
                                                koperasi yang diperoleh anggota koperasi. Termasuk dalam
                                                pengertian deviden adalah :

                                                1)      pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak
                                                          langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun;

                                                2)      pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah
                                                          modal yang disetor;

                                                3)      pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran
                                                          kecuali saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio
                                                          saham baru dan revaluasi aktiva tetap;

                                                4)      pembagian laba dalam bentuk saham;

                                                5)      pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa
                                                          penyetoran;

                                                6)      jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima
                                                          atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali
                                                          saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan;

                                                7)      pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal
                                                          yang disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lampau
                                                          diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali itu
                                                          adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang
                                                          dilakukan secara sah;

                                                8)      pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk
                                                          yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut;

                                                9)      bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi;
         
                                                10)    bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;

                                                11)    pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;

                                                12)    pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang
                                                          saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan.

                                                Dalam praktek sering dijumpai pembagian atau pembayaran deviden
                                                secara terselubung, misalnya dalam hal pemegang saham yang telah
                                                menyetor penuh modalnya dan memberikan pinjaman kepada
                                                perseroan dengan imbalan bunga yang melebihi kewajaran. Apabila
                                                terjadi hal yang demikian maka selisih lebih antara bunga yang
                                                dibayarkan dengan tingkat bunga yang berlaku di pasar,
                                                diperlakukan sebagai deviden. Bagian bunga yang diperlakukan
                                                sebagai deviden tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya oleh
                                                perseroan yang bersangkutan.

                                      Huruf h

                                               Pada dasarnya imbalan berupa royalti terdiri dari tiga kelompok, yaitu
                                                imbalan sehubungan dengan penggunaan :
                                                1)      hak atas harta tak berwujud, misalnya hak pengarang, paten,
                                                          merek dagang, formula, atau rahasia perusahaan;
                                                2)      hak atas harta berwujud, misalnya hak atas alat-alat industri,
                                                          komersial, dan ilmu pengetahuan. Yang dimaksud dengan
                                                          alat-alat industri, komersial dan ilmu pengetahuan adalah
                                                          setiap peralatan yang mempunyai nilai intelektual, misalnya
                                                          peralatan-peralatan yang digunakan di beberapa industri
                                                          khusus seperti anjungan pengeboran minyak ("driling rig"),
                                                          dan sebagainya;
                                                3)      informasi, yaitu informasi yang belum diungkapkan secara
                                                          umum, walaupun mungkin belum dipatenkan, misalnya
                                                          pengalaman di bidang industri, atau bidang usaha lainnya.
                                                          Ciri dari informasi dimaksud adalah bahwa informasi
                                                          tersebut telah tersedia sehingga pemiliknya tidak perlu lagi
                                                          melakukan riset untuk menghasilkan informasi tersebut.
                                                          Tidak termasuk dalam pengertian informasi disini adalah
                                                          informasi yang diberikan oleh misalnya akuntan publik, ahli
                                                          hukum, atau ahli

                                                          teknik sesuai dengan bidang keahliannya, yang dapat
                                                          diberikan oleh setiap orang yang mempunyai latar belakang
                                                          disiplin ilmu yang sama.

                                      Huruf i

                                                Dalam pengertian sewa termasuk imbalan yang diterima atau
                                                diperoleh dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan
                                                dengan penggunaan harta gerak atau harta tak gerak, misalnya sewa
                                                mobil, sewa kantor, sewa rumah, dan sewa gudang.

                                      Huruf j 

                                                Penerimaan berupa pembayaran berkala, misalnya "alimentasi" atau
                                                tunjangan seumur hidup yang dibayar secara berulang-ulang dalam
                                                waktu tertentu.

                                      Huruf k

                                                Pembebasan utang oleh pihak yang berpiutang dianggap sebagai
                                                penghasilan bagi pihak yang semula berutang, sedangkan bagi pihak
                                                yang berpiutang dapat dibebankan sebagai biaya.

                                      Huruf l

                                                Keuntungan karena selisih kurs dapat disebabkan fluktuasi kurs mata
                                                uang asing atau adanya kebijaksanaan pemerintah di bidang
                                                moneter.

                                                Atas keuntungan yang diperoleh karena fluktuasi kurs mata uang
                                                asing, pengenaan pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan
                                                yang dianut oleh Wajib Pajak, dengan  syarat dilakukan secara taat
                                                asas.

                                      Huruf m

                                                Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva sebagaimana dimaksud
                                                dalam Pasal 19 merupakan penghasilan.

                                      Huruf n

                                                Dalam pengertian premi asuransi termasuk premi reasuransi.

                                      Huruf o

                                                Iuran yang dibayar oleh anggota kepada perkumpulan yang dihitung
                                                berdasarkan volume kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari
                                                anggota tersebut, misalnya iuran yang besarnya ditentukan
                                                berdasarkan volume ekspor, satuan produksi atau satuan penjualan,
                                                adalah penghasilan bagi perkumpulan tersebut.

                                      Huruf p

                                                Tambahan kekayaan netto pada hakekatnya merupakan akumulasi
                                                penghasilan baik yang telah dikenakan pajak dan yang bukan Obyek
                                                Pajak serta yang belum dikenakan pajak. Apabila diketahui adanya
                                                tambahan kekayaan netto yang melebihi akumulasi penghasilan yang
                                                telah dikenakan pajak dan yang bukan Obyek Pajak, maka tambahan
                                                kekayaan netto tersebut merupakan penghasilan.

                             Ayat (2)

                                      Sesuai dengan ketentuan pada ayat (1), penghasilan berupa bunga deposito
                                      dan tabungan lainnya, penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya
                                      di bursa efek, penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau
                                     bangunan, serta penghasilan tertentu lainnya merupakan Obyek Pajak.
                                      Tabungan masyarakat yang disalurkan melalui perbankan dan bursa efek
                                      merupakan sumber dana bagi pelaksanaan pembangunan, sehingga
                                      pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari tabungan masyarakat
                                      tersebut perlu diberikan perlakuan tersendiri dalam pengenaan pajaknya.
                                      Pertimbangan-pertimbangan yang mendasari diberikan perlakuan tersendiri
                                      dimaksud antara lain adalah kesederhanaan dalam pemungutan pajak,
                                      keadilan dan pemerataan dalam pengenaan pajaknya serta memperhatikan
                                      perkembangan ekonomi dan moneter. Pertimbangan tersebut juga mendasari
                                      perlunya pemberian perlakuan tersendiri terhadap pengenaan pajak atas
                                      penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, serta
                                      jenis-jenis penghasilan tertentu lainnya. Oleh karena itu pengenaan Pajak
                                      Penghasilan termasuk sifat, besarnya, dan tata cara pelaksanaan
                                      pembayaran, pemotongan, atau pemungutan atas jenis-jenis penghasilan
                                      tersebut diatur tersendiri dengan Peraturan Pemerintah.

                                      Dengan mempertimbangkan kemudahan dalam pelaksanaan pengenaan serta
                                      agar tidak menambah beban administrasi baik bagi Wajib Pajak maupun
                                      Direktorat Jenderal Pajak, maka pengenaan Pajak Penghasilan dalam
                                      ketentuan ini dapat bersifat final.

                             Ayat (3)

                                      Huruf a

                                                Bantuan atau sumbangan bagi pihak yang menerima bukan
                                                merupakan Obyek Pajak sepanjang diterima tidak dalam rangka
                                                hubungan kerja, hubungan usaha, hubungan kepemilikan, atau
                                                hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.

                                                Hubungan usaha antara pihak yang memberi dan yang menerima
                                                dapat terjadi, misalnya PT. A sebagai produsen suatu jenis barang
                                                yang bahan baku utamanya diproduksi oleh PT. B. Apabila PT. B
                                                memberikan sumbangan bahan baku kepada PT. A, maka
                                                sumbangan bahan baku yang diterima oleh PT. A merupakan Obyek
                                                Pajak.

                                                Harta hibahan bagi pihak yang menerima bukan merupakan Obyek
                                                Pajak apabila diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
                                                lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan
                                                atau badan sosial termasuk yayasan atau pengusaha kecil termasuk
                                                koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang diterima
                                                tidak dalam rangka hubungan kerja, hubungan usaha, hubungan
                                                kepemilikan atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang
                                                bersangkutan.

                                      Huruf b

                                                Cukup jelas

                                      Huruf c

                                                Pada prinsipnya harta, termasuk setoran tunai, yang diterima oleh
                                                badan merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi badan
                                                tersebut. Namun karena harta tersebut diterima sebagai pengganti
                                                saham atau penyertaan modal, maka berdasarkan ketentuan ini,
                                                harta yang diterima tersebut bukan merupakan Obyek Pajak.

                                      Huruf d

                                                Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan
                                                berkenaan dengan pekerjaan atau jasa merupakan tambahan
                                                kemampuan ekonomis yang diterima bukan dalam bentuk uang.
                                                Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura seperti beras, gula
                                                dan sebagainya, dan imbalan dalam bentuk kenikmatan seperti
                                                penggunaan mobil, rumah, fasilitas pengobatan dan lain sebagainya,
                                                bukan merupakan Obyek Pajak.

                                                Apabila yang memberi imbalan berupa natura atau kenikmatan
                                                tersebut bukan Wajib Pajak, maka imbalan dalam bentuk natura atau
                                                kenikmatan tersebut merupakan penghasilan bagi yang menerima
                                                atau memperolehnya. Misalnya, seorang Indonesia menjadi pegawai
                                                pada suatu perwakilan diplomatik asing di Jakarta. Pegawai tersebut
                                                memperoleh kenikmatan menempati rumah yang disewa oleh
                                                perwakilan diplomatik tersebut atau kenikmatan-kenikmatan lainnya.
                                                Kenikmatan-kenikmatan tersebut merupakan penghasilan bagi 
                                                pegawai tersebut, sebab perwakilan diplomatik yang bersangkutan
                                                bukan merupakan Wajib Pajak.

                                      Huruf e

                                                Penggantian atau santunan yang diterima oleh orang pribadi dari
                                                perusahaan asuransi sehubungan dengan polis asuransi kesehatan,
                                                asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi
                                                bea siswa, bukan merupakan Obyek Pajak. Hal ini selaras dengan
                                                ketentuan dalam Pasal 9 ayat (1) huruf d, yaitu bahwa premi
                                                asuransi yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi untuk
                                                kepentingan dirinya tidak boleh dikurangkan dalam penghitungan
                                                Penghasilan Kena Pajak.

                                      Huruf f

                                                Berdasarkan ketentuan ini, deviden atau bagian laba yang diterima
                                                atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri,
                                                koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, badan usaha milik
                                                negara atau badan usaha milik daerah, dari penyertaannya pada
                                                badan usaha lainnya yang didirikan dan bertempat kedudukan di
                                                Indonesia, tidak termasuk Obyek Pajak. Yang dimaksud dengan
                                                badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah pada ayat
                                                ini antara lain adalah perusahaan perseroan (Persero), bank
                                                pemerintah, bank pembangunan daerah, dan Pertamina.

                                                Perlu ditegaskan bahwa dalam hal penerima deviden atau bagian
                                                laba adalah Wajib Pajak selain badan-badan tersebut di atas, seperti
                                                orang pribadi baik dalam negeri maupun luar negeri, firma,
                                                perseroan komanditer dan sebagainya, maka penghasilan berupa
                                               deviden atau bagian laba tersebut tetap merupakan Obyek Pajak.

                                      Huruf g

                                                Pengecualian sebagai Obyek Pajak berdasarkan ketentuan ini hanya
                                                berlaku bagi dana pensiun yang pendiriannya telah mendapat
                                                pengesahan dari Menteri Keuangan. Yang dikecualikan dari Obyek
                                                Pajak adalah:

                                                1)      iuran yang diterima dari peserta pensiun, baik atas beban
                                                          sendiri maupun yang ditanggung pemberi kerja. Pada
                                                          dasarnya iuran yang diterima oleh dana pensiun tersebut
                                                          merupakan dana milik dari peserta pensiun, yang akan
                                                          dibayarkan kembali kepada mereka pada waktunya.

                                                          Pengenaan pajak atas iuran tersebut berarti mengurangi hak
                                                          para peserta pensiun, dan oleh karena itu iuran tersebut
                                                          dikecualikan sebagai Obyek Pajak.

                                                2)      penghasilan dari modal yang ditanamkan di bidang-bidang
                                                          tertentu berdasarkan keputusan Menteri Keuangan.
                                                          Penanaman modal oleh dana pensiun dimaksudkan untuk
                                                          pengembangan dan pemupukan dana untuk pembayaran
                                                          kembali kepada peserta pensiun di kemudian hari, sehingga
                                                          penanaman modal tersebut perlu diarahkan pada bidang-
                                                          bidang yang tidak bersifat spekulatif atau yang berisiko
                                                          tinggi.
                                                          Oleh karena itu, penentuan bidang-bidang tertentu dimaksud
                                                          ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan.

                                      Huruf h

                                                Untuk kepentingan pengenaan pajak, badan-badan sebagaimana
                                                disebut dalam ketentuan ini yang merupakan himpunan para
                                                anggotanya dikenakan pajak sebagai satu kesatuan, yaitu pada
                                                tingkat badan tersebut. Oleh karena itu, bagian laba yang diterima
                                                oleh para anggota badan tersebut bukan lagi merupakan Obyek
                                                Pajak.

                                      Huruf i

                                                Perusahaan reksa dana adalah perusahaan yang kegiatan utamanya
                                                melakukan investasi, investasi kembali, atau jual beli sekuritas. Bagi
                                                pemodal khususnya pemodal kecil, perusahaan reksa dana
                                                merupakan salah satu pilihan yang aman untuk menanamkan
                                                modalnya. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan
                                                reksa dana dari investasinya dapat berupa deviden dan bunga
                                                obligasi.

                                                Karena perusahaan reksa dana pada umumnya berbentuk perseroan
                                                terbatas, sesuai dengan ketentuan pada ayat (3) huruf f, deviden
                                                tersebut bukan merupakan Obyek Pajak. Agar tidak mengurangi
                                                dana yang tersedia untuk dibagikan kepada para pemodal, terutama
                                                pemodal kecil, bunga obligasi juga bukan merupakan Obyek Pajak
                                                bagi perusahaan reksa dana.

                                      Huruf j

                                                Perusahaan modal ventura adalah suatu perusahaan yang kegiatan
                                                usahanya membiayai badan usaha (sebagai pasangan usaha) dalam
                                                bentuk penyertaan modal untuk suatu jangka waktu tertentu.
                                                Berdasarkan ketentuan ini, bagian laba yang diterima atau diperoleh
                                                dari perusahaan pasangan usaha tidak termasuk sebagai Obyek
                                                Pajak, dengan syarat perusahaan pasangan usaha tersebut
                                                merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan
                                                usaha atau melakukan kegiatan dalam sektor-sektor tertentu yang
                                                ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dan saham perusahaan tersebut
                                                tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

                                                Apabila pasangan usaha perusahaan modal ventura memenuhi
                                                ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf f, maka
                                                deviden yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura
                                                bukan merupakan Obyek Pajak.

                                                Agar kegiatan perusahaan modal ventura dapat diarahkan kepada
                                                sektor-sektor kegiatan ekonomi yang memperoleh prioritas untuk
                                                dikembangkan, misalnya untuk meningkatkan ekspor nonmigas,
                                                maka usaha atau kegiatan dari perusahaan pasangan usaha tersebut
                                                diatur oleh Menteri Keuangan. Mengingat perusahaan modal ventura
                                                merupakan alternatif pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal,
                                                maka penyertaan modal yang akan dilakukan oleh perusahaan
                                                modal ventura diarahkan pada perusahaan-perusahaan yang belum
                                                mempunyai akses ke bursa efek.


          Angka 6

                   Pasal 5

                             Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak
                             bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
                             melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, dikenakan pajak di Indonesia melalui
                             bentuk usaha tetap tersebut.

                             Ayat (1)

                                      Huruf a

                                                Bentuk usaha tetap dikenakan pajak atas penghasilan yang berasal
                                                dari usaha atau kegiatan dan dari harta yang dimiliki atau
                                                dikuasainya. Dengan demikian semua penghasilan tersebut
                                                dikenakan pajak di Indonesia.

                                      Huruf b

                                                Berdasarkan ketentuan ini penghasilan kantor pusat yang berasal
                                                dari usaha atau kegiatan, penjualan barang dan pemberian jasa,
                                                yang sejenis dengan yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap
                                                dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha tetap, karena pada
                                                hakekatnya usaha atau kegiatan tersebut termasuk dalam ruang
                                                lingkup usaha atau kegiatan dan dapat dilakukan oleh bentuk usaha
                                                tetap.

                                                Usaha atau kegiatan yang sejenis dengan usaha atau kegiatan
                                                bentuk usaha tetap, misalnya terjadi apabila sebuah bank di luar
                                                Indonesia yang mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia,
                                                memberikan pinjaman secara langsung tanpa melalui bentuk usaha
                                                tetapnya kepada perusahaan di Indonesia.

                                                Penjualan barang yang sejenis dengan yang dijual oleh bentuk usaha
                                                tetap, misalnya kantor pusat di luar negeri yang mempunyai bentuk
                                                usaha tetap di Indonesia menjual produk yang sama dengan produk
                                                yang dijual oleh bentuk usaha tetap tersebut secara langsung tanpa
                                                melalui bentuk usaha tetapnya kepada pembeli di Indonesia.

                                                Pemberian jasa oleh kantor pusat yang sejenis dengan jasa yang
                                                diberikan oleh bentuk usaha tetap, misalnya kantor pusat perusahaan
                                                konsultan di luar Indonesia memberikan konsultasi yang sama
                                                dengan jenis jasa yang dilakukan bentuk usaha tetap tersebut secara
                                                langsung tanpa melalui bentuk usaha tetapnya kepada klien di
                                                Indonesia.

                                      Huruf c

                                                Penghasilan seperti dimaksud dalam Pasal 26 yang diterima atau
                                                diperoleh kantor pusat dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha
                                                tetap di Indonesia, apabila terdapat hubungan efektif antara harta
                                                atau kegiatan yang memberikan penghasilan dengan bentuk usaha
                                                tetap tersebut. Misalnya, X Inc. menutup perjanjian lisensi dengan
                                                PT. Y untuk mempergunakan merk dagang X Inc. Atas  penggunaan
                                               hak tersebut X Inc. menerima imbalan berupa royalti dari PT. Y.
                                                Sehubungan dengan perjanjian tersebut X Inc. juga memberikan
                                                jasa manajemen kepada PT. Y melalui suatu bentuk usaha tetap di
                                                Indonesia, dalam rangka pemasaran produk PT. Y yang
                                                mempergunakan merk dagang tersebut.

                                                Dalam hal demikian, penggunaan merk dagang oleh PT. Y
                                                mempunyai hubungan efektif dengan bentuk usaha tetap di Indonesia,
                                                dan oleh karena itu penghasilan X Inc. yang berupa royalti tersebut
                                                diperlakukan sebagai penghasilan bentuk usaha tetap.

                             Ayat (2)

                                      Cukup jelas

                             Ayat (3)

                                      Huruf a

                                                Biaya-biaya administrasi yang dikeluarkan oleh kantor pusat
                                                sepanjang digunakan untuk menunjang usaha atau kegiatan bentuk
                                                usaha tetap di Indonesia, boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk
                                                usaha tetap tersebut. Jenis serta besarnya biaya yang boleh
                                                dikurangkan tersebut ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

                                      Huruf b dan huruf c

                                                Pada dasarnya bentuk usaha tetap  merupakan satu kesatuan
                                                dengan kantor pusatnya, sehingga pembayaran oleh bentuk usaha
                                                tetap kepada kantor pusatnya, seperti royalti atas penggunaan harta
                                                kantor pusat, merupakan perputaran dana dalam satu perusahaan.
                                                Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan ini pembayaran bentuk
                                                usaha tetap kepada kantor pusatnya berupa royalti, imbalan jasa,
                                                dan bunga tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha
                                                tetap. Namun apabila kantor pusat dan bentuk usaha tetapnya
                                                bergerak dalam bidang usaha perbankan, maka pembayaran berupa
                                                bunga pinjaman dapat dibebankan sebagai biaya.

                                                Sebagai konsekuensi dari perlakuan tersebut, pembayaran-
                                                pembayaran yang sejenis yang diterima oleh bentuk usaha tetap dari
                                                kantor pusatnya tidak dianggap sebagai Obyek Pajak, kecuali bunga
                                                yang diterima oleh bentuk usaha tetap dari kantor pusatnya yang
                                                berkenaan dengan usaha perbankan.

          Angka 7

                   Pasal 6

                             Ayat (1)


                                      Beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dapat dibagi
                                      dalam 2 (dua) golongan, yaitu beban atau biaya yang mempunyai masa
                                      manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun dan yang mempunyai masa manfaat
                                      lebih dari 1 (satu) tahun. Beban yang mempunyai masa manfaat tidak lebih
                                      dari 1 (satu) tahun merupakan biaya pad




0 komentar: