Suatu
hari, seperti diceritakan Michael Lum Y dalam “No Failure, Only Success Delayed“, seorang petani berjalan bersama
keledainya.
Ia terpaksa menghentikan perjalanan karena sang keledai
jatuh ke dalam sumur.
Ia melihat ke dalam sumur. Di dasar sumur tampak
keledai tua miliknya yang terjatuh. Setelah melihat sumur tua yang tak
terpakai, sang petani berpikir bahwa sumur itu sudah tidak ada gunanya.
Menganggap
sumur dan keledai tak ada gunanya lagi, sang petani memanggil
beberapa teman untuk mengubur keledai dan menutup sumur tua tersebut. Sedikit
demi sedikit tanah pun mulai diuruk. Sang keledai sedih karena merasa tidak
dihargai oleh tuannya. Tapi ia tidak putus asa. Tanah yang jatuh di pundaknya,
digoncangnya, sehingga tanah jatuh ke bawah. Lalu sang keledai naik ke atas
tanah tersebut. Demikian seterusnya, sang keledai naik terus.
Makin banyak tanah yang dilemparkan, makin dekat sang keledai ke permukaan,
sampai akhirnya keledai tiba ke permukaan sumur dan berhasil loncat ke luar.
Menurut Michael Lum, kegagalan adalah tanah urukan yang berkali-kali harus
kita pikul. Tetapi, jika kita dapat memanfaatkan kegagalan dengan baik, maka
kegagalan dapat kita jadikan senjata untuk meraih kemenangan.
Dalam realitas kehidupan sehari-hari, jika dilihat dari suatu gambar
piramida, jumlah orang yang sukses paling kecil sekaligus berada pada bagian
paling atas dan orang yang disebut ‘manusia-manusia gagal’ berada pada bagian
paling bawah piramida. Bila kita berada di bawah bagai keledai di dasar sumur,
kata kuncinya: jangan pernah putus asa. Keputusasaan adalah milik manusia-manusia
gagal.
0 komentar:
Posting Komentar