Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Kamis, 15 September 2011

Teknik Menulis Puisi

SEMUDAH apakah menulis puisi? Tuliskan kata apa yang sedang Anda pikirkan. Terus, olah kata-kata itu sedemikian rupa, ciptakan keindahan kata-kata, beri suasana di dalamnya. Selesai!

KATA

kau bawa serenceng kata
kata manis kata pahit

kau ambil kata manis
aku telan kata pahit

"Puas!" kataku
"Tidak!" katamu

kau sambar garpu
kau sorong kata basi ke mulutku

"Puas!" katamu

Aku terhempas
kata-katamu membunuhku

Yulius La Dossa
--26/03/2011--


            Definisi puisi, kata HB Jassin, merupakan pengucapan dengan perasaan yang di dalamnya mengandung pikiran-pikiran dan tanggapan-tanggapan. “Puisi bukanlah nyanyian orang putus asa yang mencari ketenangan dan kepuasan dalam puisi yang ditulisnya. Tapi puisi ialah satu pernyataan sikap terhadap sesuatu atau salah satu keseluruhan kehidupan manusia,” ucap Usman Awang di lain kesempatan.
            Puisi, kata Aristoteles, memiliki fungsi. Menurutnya, puisi yang bersifat tragis berupaya membersihkan kerohanian manusia melalui rasa simpati atau belas kasihan. “Puisi memperkuat organ moral manusia sama seperti pendidikan jasmani yang memperkuat urat-urat dalam badan, dan puisi juga dapat membawa kita untuk melihat apa yang kita tidak pernah kita lihat, untuk mendengar apa yang tak pernah kita dengar,” timpal Shelley.
            Menurut zamannya, jenis-jenis puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru. Ciri-ciri puisi lama: merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya, disampaikan lewat mulut ke mulut (sastra lisan), sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
            Karya yang termasuk kategori puisi lama:
1.      Mantra, yaitu ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
2.      Pantun, yaitu puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri atas 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri atas pantun anak, muda-mudi, agama atau nasihat, teka-teki, jenaka.
3.      Karmina, yaitu pantun kilat seperti pantun namun pendek.
4.      Gurindam, yaitu puisi yang tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
5.      Syair, yaitu puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri-ciri tiap bait baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
6.      Talibun, yaitu pantun genap yang tiap bait terdiri atas 6, 8, ataupun 10 baris.
Bentuk puisi baru lebih bebas dibanding puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:
1.      Balada, yaitu puisi berisi kisah atau cerita.
2.      Himne, yaitu puisi pujaan untuk Tuhan, Tanah Air, atau pahlawan.
3.      Ode, yaitu puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
4.      Epigram, yaitu puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup.
5.      Romance, yaitu puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
6.      Elegi, yaitu puisi yang berisi ratap tangis atau kesedihan.
7.      Satire, yaitu puisi yang berisi sindiran atau kritik.
Demikian, sekilas gambaran mengenai definisi, fungsi, dan jenis-jenis puisi. Lantas, bagaimana teknik menulis puisi?
Sitor Situmorang menulis puisi berjudul “Malam Lebaran”. Isi puisinya hanya satu baris, yakni: bulan di atas kuburan. Membaca puisi Sitor Situmorang ini, apakah menulis puisi berarti gampang? Penyair Sutardji Calzoum Bachri meng-iya-kan, menulis puisi memang gampang. “Apa pun bisa ditulis jadi puisi,” terangnya.
Menurut Sutardji seperti dikutip Maroeli Simbolon, S.Sn (Sinar Harapan), segala kejadian yang ada, baik di sekitar kita maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, dapat dijadikan puisi.
Mendengar komentar Sutardji dan membaca puisi “Malam Lebaran” Sitor Situmorang yang isinya hanya satu baris pendek, sah-sah saja bila Anda sepakat bahwa menulis puisi itu gampang. Sah-sah pula bila Anda memilih tidak sepakat.
Terlepas Anda sepakat atau memilih berbeda pendapat, bagi seorang pemula, minimal ada dua hal yang perlu diperhatikan saat menulis puisi, yakni: irama dan rima. Perkara irama dan rima dapat kita jumpai dalam puisi “Doa” karya Chairil Anwar.
Irama atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Irama berupa pengulangan teratur menimbulkan gelombang yang menciptakan keindahan. Sri Utami dkk dalam buku “Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X” mengemukakan, irama dapat juga berarti pergantian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang dengan tujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
Itu irama. Bagaimana dengan rima? Rima atau persamaan bunyi adalah pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi rima dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, dan perpanjangan suara.

DOA
Karya: Chairil Anwar

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

0 komentar: