SEMUDAH
apakah menulis puisi? Tuliskan kata apa yang sedang Anda pikirkan. Terus, olah
kata-kata itu sedemikian rupa, ciptakan keindahan kata-kata, beri suasana di
dalamnya. Selesai!
KATA
kau bawa serenceng kata
kata manis kata pahit
kau ambil kata manis
aku telan kata pahit
"Puas!" kataku
"Tidak!" katamu
kau sambar garpu
kau sorong kata basi ke mulutku
"Puas!" katamu
Aku terhempas
kata-katamu membunuhku
Yulius
La Dossa
--26/03/2011--
Definisi puisi, kata HB Jassin, merupakan pengucapan
dengan perasaan yang di dalamnya mengandung pikiran-pikiran dan
tanggapan-tanggapan. “Puisi bukanlah nyanyian orang putus asa yang mencari
ketenangan dan kepuasan dalam puisi yang ditulisnya. Tapi puisi ialah satu
pernyataan sikap terhadap sesuatu atau salah satu keseluruhan kehidupan
manusia,” ucap Usman Awang di lain kesempatan.
Puisi, kata Aristoteles, memiliki fungsi. Menurutnya, puisi
yang bersifat tragis berupaya membersihkan kerohanian manusia melalui rasa
simpati atau belas kasihan. “Puisi memperkuat organ moral manusia sama seperti
pendidikan jasmani yang memperkuat urat-urat dalam badan, dan puisi juga dapat
membawa kita untuk melihat apa yang kita tidak pernah kita lihat, untuk
mendengar apa yang tak pernah kita dengar,” timpal Shelley.
Menurut zamannya, jenis-jenis puisi dibedakan atas puisi
lama dan puisi baru. Ciri-ciri puisi lama: merupakan puisi rakyat yang tak
dikenal nama pengarangnya, disampaikan lewat mulut ke mulut (sastra lisan),
sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku
kata maupun rima.
Karya yang termasuk kategori puisi lama:
1.
Mantra,
yaitu ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
2.
Pantun,
yaitu puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris
terdiri atas 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya
sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri atas pantun anak,
muda-mudi, agama atau nasihat, teka-teki, jenaka.
3.
Karmina,
yaitu pantun kilat seperti pantun namun pendek.
4.
Gurindam,
yaitu puisi yang tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
5.
Syair,
yaitu puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri-ciri tiap bait baris, bersajak
a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
6.
Talibun,
yaitu pantun genap yang tiap bait terdiri atas 6, 8, ataupun 10 baris.
Bentuk
puisi baru lebih bebas dibanding puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku
kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:
1.
Balada,
yaitu puisi berisi kisah atau cerita.
2.
Himne,
yaitu puisi pujaan untuk Tuhan, Tanah Air, atau pahlawan.
3.
Ode,
yaitu puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
4.
Epigram,
yaitu puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup.
5.
Romance,
yaitu puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
6.
Elegi,
yaitu puisi yang berisi ratap tangis atau kesedihan.
7.
Satire,
yaitu puisi yang berisi sindiran atau kritik.
Demikian,
sekilas gambaran mengenai definisi, fungsi, dan jenis-jenis puisi. Lantas,
bagaimana teknik menulis puisi?
Sitor
Situmorang menulis puisi berjudul “Malam Lebaran”. Isi puisinya hanya satu
baris, yakni: bulan di atas kuburan.
Membaca puisi Sitor Situmorang ini, apakah menulis puisi berarti gampang?
Penyair Sutardji Calzoum Bachri meng-iya-kan, menulis puisi memang gampang.
“Apa pun bisa ditulis jadi puisi,” terangnya.
Menurut
Sutardji seperti dikutip Maroeli Simbolon, S.Sn (Sinar Harapan), segala kejadian yang ada, baik di sekitar kita
maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Peristiwa yang terjadi
sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, dapat dijadikan
puisi.
Mendengar
komentar Sutardji dan membaca puisi “Malam Lebaran” Sitor Situmorang yang isinya
hanya satu baris pendek, sah-sah saja bila Anda sepakat bahwa menulis puisi itu
gampang. Sah-sah pula bila Anda memilih tidak sepakat.
Terlepas
Anda sepakat atau memilih berbeda pendapat, bagi seorang pemula, minimal ada
dua hal yang perlu diperhatikan saat menulis puisi, yakni: irama dan rima. Perkara
irama dan rima dapat kita jumpai dalam puisi “Doa” karya Chairil Anwar.
Irama
atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat.
Irama berupa pengulangan teratur menimbulkan gelombang yang menciptakan
keindahan. Sri Utami dkk dalam buku “Bahasa
dan Sastra Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X” mengemukakan, irama dapat juga
berarti pergantian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara
berulang-ulang dengan tujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
Itu
irama. Bagaimana dengan rima? Rima atau persamaan bunyi adalah pengulangan
bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan.
Bunyi rima dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, dan perpanjangan suara.
DOA
Karya:
Chairil Anwar
Tuhanku
Dalam
termangu
Aku
masih menyebut namaMu
Biar
susah sungguh
mengingat
Kau penuh seluruh
0 komentar:
Posting Komentar