Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Jumat, 09 September 2011

Pernikahan Jihad***

Oleh: Yulius La Dossa


DI MUKA RUMAH DUKA. Matahari pagi bersinar cerah. Seorang gadis berkerudung berpakaian hitam-hitam sibuk keluar-masuk rumah duka. Air matanya berleleran. Ia sesekali mendekati wanita yang duduk terpaku di beranda, bicara singkat, lalu masuk kembali.
          Wanita muda yang duduk di bangku tak kalah layu. Mukanya sembab. Seperti si gadis berkerudung, wanita muda ini pun kerap bolak-balik masuk rumah duka. Sebentar ke dalam sebentar ke luar, lalu duduk putus asa. Gerak-geriknya mudah ditangkap mata lantaran tas punggung yang melekat di pundak mungilnya.
          “Itu siapa sih, perempuan yang bawa tas punggung itu?” kata seorang pelayat. Dagunya terangkat lurus membidik posisi pukul 12.00. Dua temannya yang duduk sejajar di sebelah kiri melempar pandang. Aku melirik arah tatapan mereka.
          “Itu istrinya, dia sudah menggendong tas itu sejak semalam.”
“Kenapa tasnya tidak disimpan di kamar saja?”
          “Dia sudah tak sadar dengan tas besar itu,” sahut temannya.
          Aku membisu. Telingaku sibuk merekam obrolan mereka dan pada saat bersamaan mataku tak mau sedetik pun melewatkan aneka peristiwa di muka rumah duka. Kursi tamu pelayat dan rumah duka saling berhadapan, terpisah sekitar lima meter.
          Laksana panggung teater, pelataran rumah duka menghadirkan citra bergerak si gadis berkerudung dan si wanita muda. Adakalanya si gadis berkerudung setengah berlari keluar pintu rumah menuju rumah di sebelah kiri. Sebentar kemudian seperti baru saja menyampaikan pesan penting kepada orang-orang di kiri rumah duka atau membawa pesan terkini, ia terburu-buru masuk kembali ke rumah duka. Selagi keluar maupun kembali masuk ke rumah duka, matanya berlinang. Sementara si wanita muda, kadang mengeluarkan kamera digital, mengabadikan sejumlah momen. Di lain waktu, tanpa kamera di tangan, ia hanya mondar-mandir di pelataran rumah dengan wajah linglung. Langkahnya gontai dan makin terlihat berat dengan tas besar di punggung. Tas?
          Tas apa?
          Tas apa itu?
          Aku memejamkan mata sejenak. Pikiranku bekerja, mencari jejak sekumpulan tas di seluas batok kepalaku. Ada banyak warna dan model tas di laci memoriku. Butuh waktu sekian detik untuk segera menemukannya. “Inilah bagian dari proses penuaan; rambut mulai terlihat memutih, gigi mulai tanggal, telinga mulai kurang peka, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, dan ya itu tadi, isi kepala mulai pikun!” batinku.
          Entah menit ke berapa, bola mataku terasa perih dan sontak terbuka. Mataku refleks membidik lokasi terakhir si wanita bertas punggung berdiri. Tapi, pandanganku nanar, mengalami gangguan teknis. Kaca mata minusku berselimut uap air mata.
          Hanya dalam hitungan detik, mataku menancap pada sebuah sudut. Dia terlihat duduk di kursi sebelah kanan rumah duka. Tas seukuran satu setengah lebih besar dari bentuk tubuhnya melekat di pundak. Tangisku meleleh. Tas campuran warna cokelat dan krem itu bukan hanya besar, tapi juga berat. Aku beberapa kali pernah menggendong tas itu. Isinya macam-macam. Pada bagian utama ada perlengkapan jurnalistik, sejumlah diktat tebal, dan aneka fotokopi materi kuliah. Terpisah dari bagian tas utama, tersedia tempat untuk menyimpan baju atau makanan-minuman. Benda-benda kecil seperti batu baterai, kaset, notes, pulpen, air phone, atau tape recorder, terserak di sejumlah kantong kecil pada tas serba guna itu.
          Ingat tas dan pemilik tas, hatiku tersedot untuk menyapa si wanita muda, tapi batal. Ketika aku tengah siap-siap hendak berdiri, ia bergerak bangkit mendekati pembatas antara rumah duka dan ruang bertirai kain biru, tempat mempersiapkan jenazah sebelum dibawa ke masjid. Ia merapatkan tubuh ke dinding pembatas rumah duka dan ruang persiapan jenazah. Di sana ia menyaksikan almarhum suaminya dibungkus kain kafan.
          Tadi, sebelum mencapai tembok pembatas rumah duka dan ruang persiapan jenazah, ia meletakkan foto pria gagah di sebuah kursi dalam posisi berdiri, menghadap langsung ke kursi tamu pelayat. Sebentar saja, seorang pria tua melangkah perlahan mendekati foto yang baru dipajang. Tubuhnya bergetar. Ia meraih, membalikkan foto, dan meletakkannya dalam posisi tidur. Ketika berbalik badan untuk kembali ke tempat duduk semula di antara pelayat, matanya berkaca-kaca hebat. Orang tahu dia ayah kandung almarhum.
          “Saya nggak nyangka, pergaulan almarhum ternyata luas di luar sana. Teman-temannya semalam banyak yang berdatangan,” telingaku menangkap komentar seorang pria di kiriku kepada dua temannya.
Teman-teman atau orang-orang yang dimaksud pria berambut bunga jambu barusan, pasti didominasi anak-anak BL, batinku sok tahu. BL merupakan sebutan akrab buat civita academica Budi Luhur.
         Ingat kawan-kawan di BL, setengah mendongak mataku menyapu pelataran rumah duka. Aku tidak menemukan apa yang kucari. Aku yang mengambil posisi duduk di kursi belakang tamu dan pelayat, menoleh sopan ke kiri dan kanan. Sebentar menghisap rokok dalam-dalam sembari mencaplok wajah-wajah pelayat yang duduk di bagian kanan, lalu perlahan menghembuskan asap rokok seraya memandang jauh ke sektor kiri. Lantas, coba mengenali punggung orang-orang yang duduk di baris depan sambil mengeluarkan handphone. “Rebek, posisi ada di mana? Nanti ke tempat pemakaman almarhum nggak? Trim’s berat.” Aku sibuk menulis SMS di layar handphone dan segera menekan tombol ‘kirim’.
          Pukul 08.06, Rebek menjawab. Katanya, “Aku di rumah, Bang. Mungkin aku nggak ke sana. Semalam aku sudah ke sana dan siang ini harus ke Pondok Gede, ada perkawinan kawan komunitas, jadi harus bagi-bagi tugas sama kawan-kawan. Trim’s.”
***

          Aku terpaku di rumah duka. Kulirik lonceng waktu di layar handphone. Angka menunjukkan pukul 08.35. Pada detik kesekian, wanita penggendong tas kembali ke kursinya semula dengan wajah linglung. Si gadis berkerudung menghampiri, mengambil posisi di bagian kiri si wanita, dan menyampaikan sesuatu. Aku bangkit, mendekat, dan mengulurkan tangan. “Ndu, aku turut berduka cita ya,” kataku pendek.
Dua perempuan itu sontak memandang. Empat bola mata mereka penuh tanda tanya. “Siapa ya?” kata Ndu menerima uluran tanganku.
        “Sam. Bang Sam. Mungkin almarhum pernah menyebut-nyebut nama Sam. Itu namaku.” Aku segera undur diri sehabis menyalami dan menyatakan turut berduka. Aku kembali ke tempat duduk pelayat, mengikuti prosesi berikut.
Tak lama keranda jenazah dibawa ke luar untuk disholatkan. Mataku menangkap seorang pria berbaju cokelat melintas. “Sujar!” seruku. Dia teman sekerjaku dulu, seorang desain grafis yang andal.
Sujar berhenti sejenak. Kami bersalaman. “Sebentar Bang, aku ke masjid dulu ya,” katanya.
“Oke, aku tunggu di sini ya,” imbuhku mengangguk, kembali ke kursi pelayat.
Hanya terpisah satu bangku, Ndu terduduk di sebelah kiriku. Wanita berkerudung hitam dan busana hitam-hitam mengambil posisi di kiri Ndu.
          “Ini siapa? Ayu ya?” kataku tertuju kepada si wanita berkerudung. Ia mengangguk takzim. Lalu perhatianku mengarah ke istri almarhum.
          “Apa pesan terakhir almarhum, Ndu?” tanyaku.
          Air matanya langsung jatuh. Ia menggeleng sambil menggigit bibir. “Dia tidak pesan apa-apa, dia nggak sempat ngomong apa-apa,” suaranya bergetar dan tangisnya bercucuran.
          “Dalam pertemuan terakhirku dengan almarhum, dia bilang sangat sayang sama kamu, sangat mencintai kamu. Terakhir ketemu, dia sholat di rumahku,” kataku.
          Tangis Ndu meledak. Mata Ayu juga basah. Belum lagi aku melanjutkan omongan, seorang ibu tua menghampiri Ndu. “Kamu masih kuat nggak? Kalau nggak, kamu di rumah saja ya,” katanya.
          Ndu menggeleng kuat-kuat. Ia mau ikut ke pemakaman. Habis berkata pada Ndu, ibu bersahaja itu menatapku dan melontarkan pertanyaan, “Ini siapa?”
          Aku segera bangkit dari kursi. “Dulu almarhum teman sekerja saya di …”
          “Bang Sam ya?” sodoknya.
Jantung, hati, dan pikiranku berkecamuk. Bukan apa-apa, ibu tua ini fasih betul menyebut panggilan akrabku. Padahal, baru kali pertama ini kami saling bertemu dan berbicara. Ah, Ndi,... adikku sayang, aku tak pernah tahu bahwa namaku begitu akrab di lingkungan keluargamu.
          Selagi aku diterkam pikiran sendiri, Ayu, Ndu, dan bunda almarhum memisahkan diri. Mereka bersiap-siap menuju ke pemakaman. Aku tinggal sendiri di bangku pelayat, menunggu Sujar yang ikut menyembayangkan almarhum. Tadi kami sudah sepakat bertemu di tempat pelayat untuk sama-sama berangkat ke pemakaman.
          Di atas pusara, orang-orang menaikkan doa-doa suci. Mataku basah. Aku teramat kehilangan Ndi. Bagiku, dia adalah lelaki pemberani. Masih segar dalam ingatan, pertengahan tahun lalu dia bilang akan menikahi seorang perempuan yang tengah mengandung. “Bayi dalam kandungannya bukan kepunyaanku, Bang, tapi hasil kecelakaan dengan pria lain,” katanya. Aku dan Ndi, satu sama lain, sama-sama bak buku terbuka.
          “Kenal di mana?”
          “Direkomen oleh Ayu, temanku. Ayu juga teman kental dia. Kata Ayu, aib keluarga besar Ndu perlu diselamatkan,” terangnya. Kami bicara panjang dan dalam.
          Menjelang hari “H” pernikahan, entah dalam pembicaraan yang ke berapa, untuk kesekian kalinya dia bertanya, “Gimana, Bang?”
          “Kalau tujuanmu untuk menyelamatkan muka keluarga Ndu, kamu adalah laki-laki berhati mulia. Kalau mati, tempatmu adalah di surga, karena pernikahan yang kamu lakukan adalah pernikahan jihad,” kataku. [o]

Jakarta, 25 September 2008

***Dimuat di harian MERDEKA edisi Sabtu, 25 Oktober 2008

0 komentar: