Oleh: Yulius La Dossa
DI MUKA RUMAH DUKA. Matahari pagi bersinar cerah.
Seorang gadis berkerudung berpakaian hitam-hitam sibuk keluar-masuk rumah duka.
Air matanya berleleran. Ia sesekali mendekati wanita yang duduk terpaku di beranda, bicara singkat, lalu masuk kembali.
Wanita muda yang duduk di
bangku tak kalah layu. Mukanya sembab. Seperti si gadis berkerudung, wanita
muda ini pun kerap bolak-balik masuk rumah duka. Sebentar ke dalam sebentar ke luar,
lalu duduk putus asa. Gerak-geriknya mudah ditangkap mata lantaran tas punggung
yang melekat di pundak mungilnya.
“Itu siapa sih, perempuan yang bawa tas punggung itu?” kata
seorang pelayat. Dagunya terangkat lurus membidik posisi pukul 12.00. Dua
temannya yang duduk sejajar di sebelah kiri melempar pandang. Aku melirik arah
tatapan mereka.
“Itu istrinya, dia sudah menggendong tas itu sejak semalam.”
“Kenapa
tasnya tidak disimpan di kamar saja?”
“Dia sudah tak sadar dengan tas besar itu,” sahut temannya.
Aku membisu. Telingaku sibuk merekam obrolan mereka dan pada
saat bersamaan mataku tak mau sedetik pun melewatkan aneka peristiwa di muka
rumah duka. Kursi tamu pelayat dan rumah duka saling berhadapan, terpisah
sekitar lima meter.
Laksana panggung teater, pelataran rumah duka menghadirkan citra
bergerak si gadis berkerudung dan si wanita muda. Adakalanya si gadis
berkerudung setengah berlari keluar pintu rumah menuju rumah di sebelah kiri.
Sebentar kemudian seperti baru saja menyampaikan pesan penting kepada
orang-orang di kiri rumah duka atau membawa pesan terkini, ia terburu-buru masuk
kembali ke rumah duka. Selagi keluar maupun kembali masuk ke rumah duka, matanya
berlinang. Sementara si wanita muda, kadang mengeluarkan kamera digital, mengabadikan
sejumlah momen. Di lain waktu, tanpa kamera di tangan, ia hanya mondar-mandir di
pelataran rumah dengan wajah linglung. Langkahnya gontai dan makin terlihat
berat dengan tas besar di punggung. Tas?
Tas apa?
Tas apa itu?
Aku memejamkan mata sejenak. Pikiranku bekerja, mencari
jejak sekumpulan tas di seluas batok kepalaku. Ada banyak warna dan model tas
di laci memoriku. Butuh waktu sekian detik untuk segera menemukannya. “Inilah bagian
dari proses penuaan; rambut mulai terlihat memutih, gigi mulai tanggal, telinga
mulai kurang peka, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, dan ya itu tadi, isi
kepala mulai pikun!” batinku.
Entah menit ke berapa, bola mataku terasa perih dan sontak
terbuka. Mataku refleks membidik lokasi terakhir si wanita bertas punggung
berdiri. Tapi, pandanganku nanar, mengalami gangguan teknis. Kaca mata minusku
berselimut uap air mata.
Hanya dalam hitungan detik, mataku menancap pada sebuah
sudut. Dia terlihat duduk di kursi sebelah kanan rumah duka. Tas seukuran satu
setengah lebih besar dari bentuk tubuhnya melekat di pundak. Tangisku meleleh. Tas
campuran warna cokelat dan krem itu bukan hanya besar, tapi juga berat. Aku
beberapa kali pernah menggendong tas itu. Isinya macam-macam. Pada bagian utama
ada perlengkapan jurnalistik, sejumlah diktat tebal, dan aneka fotokopi materi
kuliah. Terpisah dari bagian tas utama, tersedia tempat untuk menyimpan baju
atau makanan-minuman. Benda-benda kecil seperti batu baterai, kaset, notes,
pulpen, air phone, atau tape recorder, terserak di sejumlah
kantong kecil pada tas serba guna itu.
Ingat tas dan pemilik tas, hatiku tersedot untuk menyapa si
wanita muda, tapi batal. Ketika aku tengah siap-siap hendak berdiri, ia bergerak
bangkit mendekati pembatas antara rumah duka dan ruang bertirai kain biru,
tempat mempersiapkan jenazah sebelum dibawa ke masjid. Ia merapatkan tubuh ke
dinding pembatas rumah duka dan ruang persiapan jenazah. Di sana ia menyaksikan
almarhum suaminya dibungkus kain kafan.
Tadi, sebelum mencapai tembok pembatas rumah duka dan ruang
persiapan jenazah, ia meletakkan foto pria gagah di sebuah kursi dalam posisi
berdiri, menghadap langsung ke kursi tamu pelayat. Sebentar saja, seorang pria
tua melangkah perlahan mendekati foto yang baru dipajang. Tubuhnya bergetar. Ia
meraih, membalikkan foto, dan meletakkannya dalam posisi tidur. Ketika berbalik
badan untuk kembali ke tempat duduk semula di antara pelayat, matanya
berkaca-kaca hebat. Orang tahu dia ayah kandung almarhum.
“Saya nggak nyangka, pergaulan almarhum ternyata luas di
luar sana. Teman-temannya semalam banyak yang berdatangan,” telingaku menangkap
komentar seorang pria di kiriku kepada dua temannya.
Teman-teman
atau orang-orang yang dimaksud pria berambut bunga jambu barusan, pasti
didominasi anak-anak BL, batinku sok tahu. BL merupakan sebutan akrab buat civita academica Budi Luhur.
Ingat kawan-kawan di BL, setengah mendongak mataku menyapu
pelataran rumah duka. Aku tidak menemukan apa yang kucari. Aku yang mengambil
posisi duduk di kursi belakang tamu dan pelayat, menoleh sopan ke kiri dan
kanan. Sebentar menghisap rokok dalam-dalam sembari mencaplok wajah-wajah
pelayat yang duduk di bagian kanan, lalu perlahan menghembuskan asap rokok seraya memandang jauh ke sektor kiri. Lantas, coba
mengenali punggung orang-orang yang duduk di baris depan sambil mengeluarkan handphone. “Rebek, posisi ada di mana?
Nanti ke tempat pemakaman almarhum nggak? Trim’s berat.” Aku sibuk menulis SMS di
layar handphone dan segera menekan
tombol ‘kirim’.
Pukul 08.06, Rebek menjawab. Katanya, “Aku di rumah, Bang.
Mungkin aku nggak ke sana. Semalam aku sudah ke sana dan siang ini harus ke
Pondok Gede, ada perkawinan kawan komunitas, jadi harus bagi-bagi tugas sama
kawan-kawan. Trim’s.”
***
Aku terpaku di rumah duka. Kulirik
lonceng waktu di layar handphone.
Angka menunjukkan pukul 08.35. Pada detik kesekian, wanita penggendong tas kembali
ke kursinya semula dengan wajah linglung. Si gadis berkerudung menghampiri,
mengambil posisi di bagian kiri si wanita, dan menyampaikan sesuatu. Aku
bangkit, mendekat, dan mengulurkan tangan. “Ndu, aku turut berduka cita ya,”
kataku pendek.
Dua
perempuan itu sontak memandang. Empat bola mata mereka penuh tanda tanya. “Siapa
ya?” kata Ndu menerima uluran tanganku.
“Sam. Bang Sam. Mungkin almarhum pernah menyebut-nyebut nama
Sam. Itu namaku.” Aku segera undur diri sehabis menyalami dan menyatakan turut
berduka. Aku kembali ke tempat duduk pelayat, mengikuti prosesi berikut.
Tak
lama keranda jenazah dibawa ke luar untuk disholatkan. Mataku menangkap seorang pria berbaju cokelat melintas.
“Sujar!” seruku. Dia teman sekerjaku dulu,
seorang
desain grafis yang andal.
Sujar
berhenti sejenak. Kami bersalaman. “Sebentar Bang, aku ke masjid dulu ya,”
katanya.
“Oke,
aku tunggu di sini ya,” imbuhku mengangguk,
kembali ke
kursi pelayat.
Hanya
terpisah satu bangku, Ndu terduduk di sebelah kiriku. Wanita berkerudung hitam
dan busana hitam-hitam mengambil posisi di kiri Ndu.
“Ini siapa? Ayu ya?” kataku tertuju kepada si wanita
berkerudung. Ia mengangguk takzim. Lalu perhatianku mengarah ke istri almarhum.
“Apa pesan terakhir almarhum, Ndu?” tanyaku.
Air matanya langsung jatuh. Ia menggeleng sambil menggigit
bibir. “Dia tidak pesan apa-apa, dia nggak sempat ngomong apa-apa,” suaranya
bergetar dan tangisnya bercucuran.
“Dalam pertemuan terakhirku dengan almarhum, dia bilang sangat
sayang sama kamu, sangat mencintai kamu. Terakhir ketemu, dia sholat di rumahku,”
kataku.
Tangis Ndu meledak. Mata Ayu juga basah. Belum lagi aku melanjutkan
omongan, seorang ibu tua menghampiri Ndu. “Kamu masih kuat nggak? Kalau nggak,
kamu di rumah saja ya,” katanya.
Ndu menggeleng kuat-kuat. Ia mau ikut ke pemakaman. Habis
berkata pada Ndu, ibu bersahaja itu menatapku dan melontarkan pertanyaan, “Ini
siapa?”
Aku segera bangkit dari kursi. “Dulu almarhum teman sekerja
saya di …”
“Bang Sam ya?” sodoknya.
Jantung,
hati, dan pikiranku berkecamuk. Bukan apa-apa, ibu tua ini fasih betul menyebut
panggilan akrabku. Padahal, baru kali pertama ini kami saling bertemu dan berbicara.
Ah, Ndi,... adikku sayang, aku tak pernah tahu bahwa namaku begitu akrab di
lingkungan keluargamu.
Selagi aku diterkam pikiran sendiri, Ayu, Ndu, dan bunda
almarhum memisahkan diri. Mereka bersiap-siap menuju ke pemakaman. Aku tinggal
sendiri di bangku pelayat, menunggu Sujar yang ikut menyembayangkan almarhum.
Tadi kami sudah sepakat bertemu di tempat pelayat untuk sama-sama berangkat ke
pemakaman.
Di atas pusara, orang-orang menaikkan doa-doa suci. Mataku basah. Aku teramat kehilangan Ndi. Bagiku, dia adalah lelaki pemberani.
Masih segar dalam ingatan, pertengahan tahun lalu dia bilang akan menikahi
seorang perempuan yang tengah mengandung. “Bayi dalam kandungannya bukan
kepunyaanku, Bang, tapi hasil kecelakaan dengan pria lain,” katanya. Aku dan
Ndi, satu sama lain, sama-sama bak buku terbuka.
“Kenal di mana?”
“Direkomen oleh Ayu, temanku. Ayu juga teman kental dia.
Kata Ayu, aib keluarga besar Ndu perlu diselamatkan,” terangnya. Kami bicara
panjang dan dalam.
Menjelang hari “H” pernikahan, entah dalam pembicaraan yang
ke berapa, untuk kesekian kalinya dia bertanya, “Gimana, Bang?”
“Kalau tujuanmu untuk menyelamatkan muka keluarga Ndu, kamu
adalah laki-laki berhati mulia. Kalau mati, tempatmu adalah di surga, karena
pernikahan yang kamu lakukan adalah pernikahan jihad,” kataku. [o]
Jakarta, 25
September 2008
***Dimuat di harian MERDEKA edisi Sabtu, 25 Oktober 2008
0 komentar:
Posting Komentar