Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Selasa, 06 September 2011

Provokasi Ala Penyair “Bebegig”

PENGANTAR: Tulisan ini merupakan naskah lama, pernah dimuat di harian Moneter Indonesia (1999) dua belas tahun lalu. Relatif lama memang. Artikel ini ditulis ulang karena rohnya masih relevan dengan kondisi Indonesia terkini. Artinya, meminjam istilah penyair Toto ST Radik, raut wajah bangsa ini masih mengalami: Indonesia Setengah Tiang. (Red).


Jakarta, Moneter Indonesia
          Sontak puluhan penyair muda maupun kawakan yang tengah berhalal bihalal di Pusat Dokumentasi H.B. Jassin, Jakarta, terhenyak kaget. Beberapa kali terdengar letusan nyaring dari bagian pintu masuk gerbang.
          Bunyi ledakan disusul empat orang berpakaian hitam-hitam dan bertopeng ala ninja, yang merangsek masuk ke dalam ruangan sambil membanting-banting kursi.
          Hadirin, termasuk penyair Taufiq Ismail, Motinggo Busye, Eka Budianta, dan Diah Hadaning, terbangun dari kursinya menyaksikan kejadian tersebut.
          “Akulah yang melempar batu melempar api,” seru seorang ninja.
          “Negeri ini harus dibakar karena telah menolakku,” timpal yang satu.
          “Ya, akulah yang melempar batu melempar api,” sahut yang lain dengan nada tinggi.
          Ninja terakhir menyusul masuk dari pintu belakang, sibuk menceracau “ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la” berulang-ulang.
          Sadar apa yang terjadi, hadirin langsung memberikan ovasi dengan tepuk tangan panjang. Ternyata, aksi provokasi dan unjuk rasa tadi merupakan prolog pembacaan antologi puisi “Indonesia Setengah Tiang” karya penyair muda Toto ST Radik. Sabtu itu ia dinobatkan sebagai peraih Hadiah Komunitas Sastra (KSI).

Penyair “Bebegig”
          Pengamat puisi Eka Budianta mengatakan, Toto adalah pengamat kehidupan yang kritis dan seorang organisatoris yang handal di kota kelahirannya, Serang, Jawa Barat.
          Sesaat sebelum terjadi reformasi politik, ketika program-program pembangunan yang dilancarkan rezim Orde Baru menggilas kampung halamannya, Toto menerbitkan kumpulan puisi “Bebegig” yang menghimpun karya-karya tujuh penyair Serang. Dalam pengantarnya yang brilian, ia menyesalkan habisnya sawah-sawah di kampung halamannya untuk dijadikan industrial estate, pabrik-pabrik. Ribuan hektar sawah diburu dan dikuburkan di negeri yang menyandang nama “sawah” ini.
          Toto mencatat, lebih dari seratus hektar sawah di Serang beralih fungsi. Orang-orangan sawah, yang disebut bebegig, jadi kehilangan fungsi.
          Bahkan tak ada lagi. Padahal, “Antara sawah dan bebegig terjalin fungsi yang  karib,” kata Toto, kelahiran 30 juni 1965. “Namun, hama pada zaman modern ini bukan burung. Bahkan burung sebagai hama pun turut tersingkir! Akibatnya, bebegig sebagai wakil sosok petani tak memiliki ‘daya jaga’ dan ‘daya usir’. Sawah mengalami kematian. Petani kehilangan ladang hidupnya. Bebegig pun musnah.”
          Padahal sebelum itu, kata Toto, kehadiran bebegig di antara hamparan sawah yang mulai menguning menciptakan pemandangan dengan keindahan menakjubkan. Para bebegig di situ tidak semata sebagai tentara, tapi juga sekaligus kesenian.
          Itulah salah satu kesadaran Toto ST Radik yang akhirnya dikenal sebagai penyair bebegig. Pegawai negeri yang bekerja sebagai penyuluh Keluarga Berencana di desa-desa ini, senantiasa terlibat dalam perubahan daerah demografi maupun lingkungan hidupnya.
          “Ia bukan hanya penyair yang baik, tapi juga penggiat di lapangan,” ucap Eka Budianta. Contohnya, ketika terjadi penyusutan debit air di rawa danau seputar industri baja, Krakatau Steel, Toto bersama aktivis pecinta alam menemui Pemerintah Daerah (Pemda), memberikan masukan-masukan mengenai dedagrasi lingkungan setempat.
          Sajak-sajak Toto bukan otomatis lebih berharga karena kegiatannya, tapi memang karena punya nilai tersendiri. Satu contoh dalam puisi yang disebarluaskan sebagai kutipan sebuah kartu pos, ia menampilkan etika kehidupan petani yang rendah hati. “ya, sebaiknya membungkuk saja/ seperti petani bekerja di lumpur sawah/ sejak membalik tanah hingga panen tiba

Indonesia Setengah Tiang
          Dalam “Indonesia Setengah Tiang” yang menyabet penghargaan kumpulan puisi terbaik versi KSI, Toto ST Radik memberikan kesaksian mengenai kondisi tanah airnya. Kumpulan puisi tersebut terbagi dalam lima bagian. I: hello, darkness. II: chaos. III: paradise lost. IV: paradise lost 2 dan V: terra incognito. Puisi ini merupakan rekaman pergulatan Toto dengan kekerasan, kegalauan hidup, dan hiruk-pikuk Indonesia sejak tahun 1944 hingga 1998.
          Dalam “hello, “darkness” (1944), ketika stasiun televisi mulai marak dan pembangunan secara fisik digenjot di berbagai pelosok tanah air, Toto membuat kesaksian. gelap. mulut anak-anak penuh televisi/ sawah-sawah mampus dalam kenangan
          Masih dalam tahun yang sama, Toto menyimpulkan, terjadi “chaos”. kuburankuburan bertenggelaman/ kotakota tumbuh dalam kecemasan
          Lantas, terjadi “paradise lost” (1955). Kemarahan jiwa Toto seolah-olah tidak terukur dan sulit dijelaskan lagi dengan bait-bait yang lebih naturalis, seperti: kebenaran menjadi perkara kosmetika/ kekerasan menjadi metode menjadi berhala/ para pewarta dikalungi bom waktu
          Memasuki “paradise lost 2” (1977), Indonesia makin terpuruk. hutang tak terbayar negara pailit/ orang-orang terkapar di bangkai sawah
          Suasana zaman yang semrawut, dilukiskan dengan ringkas dalam bagian puisi “terra incognito” (1998). jakarta hangus dimakan api/ ribuan nyawa lenyap dalam sehari
          Selama tahun 1998, dunia melihat dan mendengar berbagai perubahan, pergolakan, kerusuhan, dan gelombang reformasi melanda masyarakat dan penyelenggara Indonesia. Puisi Toto ST Radik, secara halus tapi tegas, juga mencatat hal itu.
          “Selamat datang di negeri sinting dan barbar! Selamat datang di negeri sinting dan barbar!” provokasi Toto berulang-ulang ketika menutup pembacaan puisinya pekan lalu. (Yulius La Dossa)

Jakarta, 29/08/1999

0 komentar: