PENGANTAR:
Tulisan ini merupakan naskah lama, pernah dimuat di harian Moneter
Indonesia (1999) dua
belas tahun lalu. Relatif lama memang. Artikel ini ditulis ulang karena rohnya
masih relevan dengan kondisi Indonesia terkini. Artinya, meminjam istilah
penyair Toto ST Radik, raut wajah bangsa ini masih mengalami: Indonesia
Setengah Tiang. (Red).
Jakarta,
Moneter Indonesia
Sontak puluhan penyair muda maupun kawakan yang tengah berhalal bihalal di
Pusat Dokumentasi H.B. Jassin, Jakarta, terhenyak kaget. Beberapa kali
terdengar letusan nyaring dari bagian pintu masuk gerbang.
Bunyi ledakan disusul empat orang berpakaian hitam-hitam dan bertopeng ala
ninja, yang merangsek masuk ke dalam ruangan sambil membanting-banting kursi.
Hadirin, termasuk penyair Taufiq Ismail, Motinggo Busye, Eka Budianta, dan Diah
Hadaning, terbangun dari kursinya menyaksikan kejadian tersebut.
“Akulah yang melempar batu melempar api,” seru seorang ninja.
“Negeri ini harus dibakar karena telah menolakku,” timpal yang satu.
“Ya, akulah yang melempar batu melempar api,” sahut yang lain dengan nada
tinggi.
Ninja terakhir menyusul masuk dari pintu belakang, sibuk menceracau
“ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la” berulang-ulang.
Sadar apa yang terjadi, hadirin langsung memberikan ovasi dengan tepuk tangan
panjang. Ternyata, aksi provokasi dan unjuk rasa tadi merupakan prolog
pembacaan antologi puisi “Indonesia Setengah Tiang” karya penyair muda Toto ST
Radik. Sabtu itu ia dinobatkan sebagai peraih Hadiah Komunitas Sastra (KSI).
Penyair
“Bebegig”
Pengamat puisi Eka Budianta
mengatakan, Toto adalah pengamat kehidupan yang kritis dan seorang
organisatoris yang handal di kota kelahirannya, Serang, Jawa Barat.
Sesaat sebelum terjadi reformasi politik, ketika program-program pembangunan
yang dilancarkan rezim Orde Baru menggilas kampung halamannya, Toto menerbitkan
kumpulan puisi “Bebegig” yang menghimpun karya-karya tujuh penyair Serang.
Dalam pengantarnya yang brilian, ia menyesalkan habisnya sawah-sawah di kampung
halamannya untuk dijadikan industrial estate,
pabrik-pabrik. Ribuan hektar sawah diburu dan dikuburkan di negeri yang
menyandang nama “sawah” ini.
Toto mencatat, lebih dari seratus hektar sawah di Serang beralih fungsi.
Orang-orangan sawah, yang disebut bebegig, jadi kehilangan fungsi.
Bahkan tak ada lagi. Padahal, “Antara sawah dan bebegig terjalin fungsi
yang karib,” kata Toto, kelahiran 30 juni 1965. “Namun, hama pada zaman
modern ini bukan burung. Bahkan burung sebagai hama pun turut tersingkir!
Akibatnya, bebegig sebagai wakil sosok petani tak memiliki ‘daya jaga’ dan ‘daya
usir’. Sawah mengalami kematian. Petani kehilangan ladang hidupnya. Bebegig pun
musnah.”
Padahal sebelum itu, kata Toto, kehadiran bebegig di antara hamparan sawah yang
mulai menguning menciptakan pemandangan dengan keindahan menakjubkan. Para
bebegig di situ tidak semata sebagai tentara, tapi juga sekaligus kesenian.
Itulah salah satu kesadaran Toto ST Radik yang akhirnya dikenal sebagai penyair
bebegig. Pegawai negeri yang bekerja sebagai penyuluh Keluarga Berencana di
desa-desa ini, senantiasa terlibat dalam perubahan daerah demografi maupun
lingkungan hidupnya.
“Ia bukan hanya penyair yang baik, tapi juga penggiat di lapangan,” ucap Eka
Budianta. Contohnya, ketika terjadi penyusutan debit air di rawa danau seputar
industri baja, Krakatau Steel, Toto bersama aktivis pecinta alam menemui
Pemerintah Daerah (Pemda), memberikan masukan-masukan mengenai dedagrasi
lingkungan setempat.
Sajak-sajak Toto bukan otomatis lebih berharga karena kegiatannya, tapi memang
karena punya nilai tersendiri. Satu contoh dalam puisi yang disebarluaskan
sebagai kutipan sebuah kartu pos, ia menampilkan etika kehidupan petani yang
rendah hati. “ya, sebaiknya
membungkuk saja/ seperti petani bekerja di lumpur sawah/ sejak membalik tanah
hingga panen tiba”
Indonesia
Setengah Tiang
Dalam “Indonesia Setengah
Tiang” yang menyabet penghargaan kumpulan puisi terbaik versi KSI, Toto ST
Radik memberikan kesaksian mengenai kondisi tanah airnya. Kumpulan puisi
tersebut terbagi dalam lima bagian. I: hello, darkness. II: chaos. III:
paradise lost. IV: paradise lost 2 dan V: terra incognito. Puisi ini merupakan
rekaman pergulatan Toto dengan kekerasan, kegalauan hidup, dan hiruk-pikuk
Indonesia sejak tahun 1944 hingga 1998.
Dalam “hello, “darkness” (1944), ketika stasiun televisi mulai marak dan
pembangunan secara fisik digenjot di berbagai pelosok tanah air, Toto membuat
kesaksian. gelap. mulut anak-anak penuh televisi/ sawah-sawah mampus dalam
kenangan
Masih dalam tahun yang sama, Toto menyimpulkan, terjadi “chaos”. kuburankuburan
bertenggelaman/ kotakota tumbuh dalam kecemasan
Lantas, terjadi “paradise lost” (1955). Kemarahan jiwa Toto seolah-olah tidak
terukur dan sulit dijelaskan lagi dengan bait-bait yang lebih naturalis,
seperti: kebenaran menjadi perkara kosmetika/
kekerasan menjadi metode menjadi berhala/ para pewarta dikalungi bom waktu
Memasuki “paradise lost 2” (1977), Indonesia makin terpuruk. hutang
tak terbayar negara pailit/ orang-orang terkapar di bangkai sawah
Suasana zaman yang semrawut, dilukiskan dengan ringkas dalam bagian puisi
“terra incognito” (1998). jakarta hangus dimakan api/ ribuan
nyawa lenyap dalam sehari
Selama tahun 1998, dunia melihat dan mendengar berbagai perubahan, pergolakan,
kerusuhan, dan gelombang reformasi melanda masyarakat dan penyelenggara
Indonesia. Puisi Toto ST Radik, secara halus tapi tegas, juga mencatat hal itu.
“Selamat datang di negeri sinting dan barbar! Selamat datang di negeri sinting
dan barbar!” provokasi Toto berulang-ulang ketika menutup pembacaan puisinya
pekan lalu. (Yulius La
Dossa)
Jakarta,
29/08/1999
0 komentar:
Posting Komentar