Johanes
Lim, Ph.D, CPC dikenal luas sebagai praktisi bisnis, konsultan, motivator, dan
author. Di bidang bisnis, Johanes Lim paham betul mengenai dunia network
marketing, agen asuransi, dan agen properti. Dia juga aktif menulis buku. Salah
satu buku populernya adalah “RSQ THE MONEY
MAKER”, sebuah buku penuntun yang mengajak pembaca bagaimana menjadi kaya.
Berikut ini adalah petikan pemikiran
Johanes Lim yang disajikan dalam bentuk Q
and A (tanya-jawab). Pertanyaan-pertanyaan ini kerap diajukan kepadanya
dalam pelbagai pertemuan seminar.
Q: Apa yang harus dilakukan seseorang
untuk menjadi motivator yang hebat di bidang MLM?
A: Bila seseorang bercita-cita menjadi
motivator di bidang MLM, maka dalam menjalankan bisnis MLM ini, Anda harus tiga
kali lebih giat dibandingkan orang-orang kebanyakan. Manfaat pertama adalah
bahwa Anda bisa sukses kaya dan bebas finansial. Kedua, Anda pasti mempunyai
basis massa yang besar, serta berkemungkinan untuk didengarkan orang ketika
melakukan presentasi atau memberikan kesaksian tentang success story Anda.
Dari sukses internal, mulailah tandem dengan motivator
profesional berskala nasional, agar nama Anda juga diketahui oleh komunitas
diluar bisnis MLM. Jika sudah cukup punya reputasi, Anda bisa “Flying Solo”
menjadi motivator handal.
Begitulah. Hanya saran saya, jangan lupa untuk mengajarkan orang
mengenai pentingnya tekad dan itikad untuk hidup benar dan berguna, bukan
melulu pengejaran akan kesuksesan dan kekayaan.
Q: Apakah “The Power Of Imagination” yang Anda ajarkan di buku RSQ THE
MONEY MAKER adalah benar bisa memberikan hasil? Apakah benar jika saya
mengimajinasikannya akan mudah merekrut downlines
melalui BOP?
A: Seperti yang saya tulis bahwa “What
you can imagine, you can make it happen” adalah benar bahwa tubuh dan
perilaku kita bisa dipengaruhi dan bertindak sebagaimana yang kita percayai;
dan kepercayaan itu bisa direkayasa melalui daya imajinasi; dan imajinasi bisa
direkayasa melalui teknik affirmasi maupun sugesti.
Jadi, kalau Anda secara rutin melakukan teknik imajinasi seperti
yang saya sampaikan, maka secara otomatis akan terbangun kesan pesan dipikiran
bawah sadar sebagaimana yang Anda rekayasakan. Jika gambaran mental itu telah
terbentuk menjadi kepercayaan, maka tanpa Anda sadari, tubuh dan perilaku Anda
akan berperilaku sebagaimana yang sering Anda imajinasikan; apakah dari cara
berbicara, perbendaharaan kata, entusiasme, maupun daya persuasinya.
Sebagai konsekwensi logis dari input atas output (hukum
sebab akibat), maka hasil akhir juga terpengaruh menjadi seperti yang biasa
Anda imajinasikan: Orang percaya kepada presentasi Anda, dan menjadi downline
Anda!
Tentu saja, teknik imajinasi harus dibarengi dengan teknik
presentasi yang bagus, sebab tidak ada gunanya Anda berani presentasi, namun
cara dan isi presentasi Anda buruk.
Jadi saran saya: Ikutilah pelatihan cara melakukan BOP di
perusahaan Anda, dan bacalah juga beberapa buku tentang cara presentasi yang
efektif; serta jangan lupa meminta petunjuk dari leader yang Anda lihat bagus
dalam melakukan presentasi.
Hal kedua, pelajarilah para presenter (siapa saja atau leader
Anda) yang cara presentasinya memukau serta sangat efektif dalam memberikan
hasil. Amatilah dengan seksama gaya bicaranya, kekuatan dan artikulasi
bicaranya, penampilan fisiknya, perbendaharaan katanya, dan sebagainya sampai
sedetil-detilnya; kemudian coba Anda tiru dan modifikasi agar sesuai dengan
kepribadian Anda.
Hal ketiga, lakukanlah teknik imajinasi sebagaimana yang Anda
baca pada buku RSQ. Jika mau lebih cepat dan efektif, tambahkan teknik afirmasi,
menulis sambil mengucapkan, “Saya Presenter Persuasif, setiap orang percaya
kepada saya dan menjadi downlines saya!”
Lakukan itu setiap hari di kertas ukuran A-4, sebanyak 10
halaman per hari, selama 21 hari. Menulisnya boleh dipilah-pilah jamnya,
mungkin pagi tiga halaman, siang tiga halaman, dan malam empat halaman.
Bagaimana cara membuktikannya bahwa apa yang saya ajarkan
sungguh bisa terbukti? Jawabannya: buktikanlah! Lakukanlah seperti yang telah
saya ajarkan secara benar.
Q: Ada seseorang yang ingin sukses kaya
seperti yang Anda ajarkan melalui buku RSQ
THE MONEY MAKER. Persoalannya, dia termasuk miskin, hanya tamatan SMU, sudah
tiga tahun lebih menganggur, dan sudah frustrasi dengan keadaannya hingga malas
mencoba apa pun. Apa yang harus dia lakukan?
A: Jangan
frustrasi! Sebab kalau dia sendiri saja tidak lagi mau mencoba, tidak mau
percaya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin saya atau siapa pun juga bisa
membantunya? Jika dia sudah malas untuk mencoba apa pun, apalagi yang bisa saya
bantu?
Jadi, pertama-tama: tetaplah percaya kepada diri sendiri, seperti yang
saya tulis bahwa untuk sukses kaya tidak tergantung kepada latar belakang SARAP
(suku, agama, ras, antargolongan, pendidikan), melainkan lebih kepada SIKAP
MENTAL. Orang dengan “Sikap Mental Kaya” akan bisa kaya sekalipun terlahir
miskin. Sebaliknya, orang dengan “Sikap Mental Miskin” akan bisa jatuh miskin
sekalipun terlahir kaya dan mendapat banyak warisan.
Di
buku RSQ telah saya ajarkan cara “Memprogram ulang pikiran bawah sadar” agar seseorang
memiliki “Positive Money Mindedness” dan “Success Mindedness”. Jadi, jangan
hanya dibaca, melainkan praktikkanlah tugas kerja 21 hari yang saya anjurkan!
Kedua,
mulailah bertindaj dari apa yang ada pada diri sendiri, bukan dari apa yang
tidak ada. Jika Anda tidak bisa mencari peluang kerja, CIPTAKANLAH peluang
kerja! Jika Anda tidak diterima menjadi karyawan, JADILAH BOSS! Jika Anda tidak
punya modal, atau tidak punya keterampilan, carilah peluang usaha yang
memungkinkan Anda mulai berbisnis dari apa yang Anda punya dan yang Anda mau.
Sekali lagi: NEVER GIVE UP! Seperti ada tertulis “Anjing yang
hidup lebih baik daripada singa yang mati, sebab selama ada hidup, ada
harapan!”
Q: Ada seorang praktisi
MLM yang sudah cukup lama menjalankan bisnis ini dan sekarang mempunyai jaringan hampir dua ratus
ribu orang. Karena tergiur untuk lebih sukses kaya, dia dan rekan senior,
berencana akan mendirikan perusahaan MLM. Pertanyaannya,apakah yang harus mereka
persiapkan agar pasti sukses kaya?
A: Saya ucapkan ‘selamat’ atas itikad
hebatnya untuk menjadi pengusaha MLM. Saya hanya bisa memberikan solusi, tetapi
tidak bisa menjamin bahwa mereka pasti sukses kaya.
Sekalipun track-record
mereka sebagai pemain MLM bisa menjadi bukti bahwa mereka adalah orang yang
sukses, namun saya perlu mengingatkan bahwa untuk membuka sendiri perusahaan
MLM yang berkemungkinan sukses merupakan perihal yang berbeda. Jika merasa akan
bisa lebih mudah sukses karena telah berpengalaman menjalankan bisnis MLM,
berhati-hatilah. Coba ingat-ingat, berapa banyak perusahaan MLM yang bangkrut
dan bahkan layu sebelum berkembang, karena pendirinya mengandalkan modal yang
mirip dengan mereka.
Mereka bisa sukses menggalang 200 ribuan orang, belum tentu karena
fokus, melainkan bisa saja karena mereka tertarik pada bagusnya produk dan
sistem pemasaran perusahaan MLM tempat mereka bergabung, sehingga belum tentu
mereka bisa diajak pindah ke perusahaan MLM lain jika tidak lebih bagus dari
sebelumnya.
Sekalipun profit dan prospek bisnis MLM nampak menggiurkan, namun
untuk bisa sukses –apalagi bertahan sukses untuk waktu yang lama—perusahaan MLM
harus memiliki minimal 5 Keys Success Factor, yakni: (1) Kredibilitas manajemen
perusahaan, (2) Manfaat dan daya saing produk, (3) Manfaat dan kehebatan
marketing plan, (4) Manfaat dan kehebatan program pemberdayaan members, dan (5)
Inovasi yang berkesinambungan.
Jika kurang dari itu, maka ‘nasib’ perusahaan MLM itu belum tentu
bisa bagus. Faktor kredibilitas manajemen menjadi penting karena masyarakat
banyak yang tidak bisa membedakan mana perusahaan yang benar dan mana yang buruk,
sehingga latar belakang Figur Management Team perusahaan menjadi penting untuk
mengatasi skeptisme prospek.
Faktor mempunyai produk yang dipersepsi bagus dan unggul manfaat
menjadi krusial. Masyarakat tidak lagi mudah diperdaya dengan menjual produk
marginal dengan harga premium, karena mereka bisa membandingkannya dengan
produk sejenis di pasaran.
Faktor marketing plan perlu dibuat bagus, menarik, dan
menguntungkan, serta mudah dicapai oleh member, karena hampir semua orang yang
menjadi member MLM pastilah bermotif uang. Jika marketing plan tidak
memungkinkan member mendapat income yang lumayan besar dalam tiga bulan
pertama, maka bisa dipastikan mereka akan mundur tanpa berita.
Faktor pemberdayaan member sangat penting untuk minimal mempertahankan
semangat berusaha para member, idealnya bisa meningkatkan kompetensi dan
motivasi serta produktivitas mereka ke level militan. Dengan program
pemberdayaan intensif dan mitivasional, kita bisa men-drill sikap mental dan perilaku member agar menjadi fanatik.
Faktor inovasi berkesinambungan adalah untuk mencegah kematian,
memperpanjang usia bisnis. Kita tahu bahwa jarang ada member MLM yang setia.
Juga jarang ada konsumen yang setia. Kita manusia mudah bosan dan selalu ingin
mencari sesuatu yang baru dan menggairahkan. Jika perusahaan tidak inovatif,
maka akan segera membosankan dan ditinggal pergi member.
Q: Apakah Anda percaya “hoki”? Apakah
benar bahwa kalau belum hoki, bagaimanapun kita bekerja keras, tidak akan kaya?
Apakah ada kiatnya agar kita selalu hoki?
A: Hoki atau nasib baik atau
keberuntungan, seyogyanya kita percayai. Dulu, ketika saya menulis buku “JUST
DUIT” di tahun 2000, saya lebih cenderung tidak mempercayai adanya nasib baik.
Menurut hemat saya, strategi dan perjuangan serta persistensi, adalah lebih
baik daripada mengandalkan nasib baik; namun dalam buku “RSQ THE MONEY MAKER”
saya agak lebih setuju tentang adanya peranan nasib baik dalam kesuksesan dan
kekayaan seseorang.
Mengapa demikian? Karena dengan bertambahnya usia dan
pengalaman, saya lebih bisa melihat realita mayoritas bahwa memang demikianlah
misteri hidup: Ada orang yang
nampaknya biasa-biasa saja, tidak saleh, tidak rajin, tidak pandai, tidak
ganteng/cantik, tidak berkarakter cukup bagus; namun entah mengapa, bisa sukses
dan kaya. Sebaliknya, ada orang yang saleh, rajin bekerja, hemat, berpendidikan
tinggi, berpikiran positif, cukup ganteng/cantik; namun entah mengapa, hidupnya
pas-pasan saja.
Sekalipun terdengar tidak adil, namun demikianlah realita hidup.
Cobalah perhatikan, jika semua orang bisa sukses kaya dengan modal pendidikan
tinggi, bekerja keras, dan berpikiran positif, maka seharusnya semua Sarjana Strata-2
ke atas sukses kaya; dan semua penganut positive
thinking sukses kaya; dan semua pekerja keras sukses kaya!?
Namun, apa yang terjadi? Banyak orang yang berpendidikan tinggi
hanya menjadi karyawan dari boss yang tidak berpendidikan tinggi; dan banyak
Positive Thinker hanya bisa berwacana, berteori, berhalusinasi, berutopia dalam
kehidupan yang tetap marginal; dan para pekerja keras hanya mendapatkan
kelelahan fisik dan mental!
Saya teringat ajaran orang yang lebih tua dari saya bahwa, “Hokhi
te’it, Punsu te’dji” (nasib baik nomor satu, kepintaran nomor dua). Nah
jika Anda tanya, apakah saya percaya hoki serta bagaimana cara menarik nasib
baik? Maka jawaban saya tetap konsisten, bahwa: sebagai manusia yang terbatas
dan jauh dari sempurna, saya percaya akan adanya nasib baik ataupun nasib
buruk; secara khusus, saya harus percaya bahwa ada “Faktor X” (Anda boleh
menyebut X dengan TUHAN, atau Dewa, atau Langit, atau apa saja sesuai
kepercayaan masing masing) yang juga ikut campur dalam kehidupan manusia,
yang kuasa dan kehendak-NYA tidak bisa diprediksi ataupun dicegah.
Namun, sebagai Success Coach, saya harus berprilaku dan
mengajarkan peranan pro-aktif manusia dalam menciptakan iklim yang kondusif
terhadap kesuksesan dan kekayaan, yakni dengan adanya Success Driven Life,
Continuous Learning, bekerja keras dan cerdas, persistensi, dan… tetap berdoa
memohon berkat dan rahmat ALLAH.
Saya teringat akan istilah “Ora et Labora”, berdoa dan
bekerja. Juga saya teringat sahabat Muslim saya yang mengutip, “ALLAH tidak
mengubah nasib sesuatu kaum, sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri”.
Jadi, yuk kita belajar dan bekerja sekeras mungkin, sehebat
mungkin, sambil tetap berserah dan mengharapkan berkat serta kemurahan ALLAH. (Yulius P Silalahi)
0 komentar:
Posting Komentar