Lihatlah, ia datang
berdiri di balik dinding
Kutinggalkan kebun anggurku
Ia bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku
Sakit asmara aku
Lengan kirinya di bawah kepalaku
Tangan kanannya memeluk aku
Kekasihku kepunyaanku
Aku kepunyaan dia
Musim dingin telah lewat, hujan sudah usai
Malam hari di atas ranjangku
Kucari jantung hatiku
Ah, tak kutemui
Aku bangun berkeliling kota
Kutanyai peronda-peronda: “Apakah kamu melihat jantung hatiku?”
Sebelum meninggalkan mereka, kutemukan dia
Kupegang dan tak kulepaskan lagi
Kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkanku
Aku tidur tetapi hatiku bangun
Kekasihku mengetuk
“Bukalah pintu, dindaku, kepalaku penuh embum malam!”
Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi?
Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannya pula?
Terlihat tangannya masuk melalui lobang pintu
Aku bangkit
Kakiku gemetar
Hatiku berdebar-debar
Jemariku berkeringat, menetes di kancing pintu
Kubuka pintu
Oh,… dia telah pergi
Serasa pingsan aku ketika ia menghilang
Kucari, tak kutemui
Kupanggil, tak ada sahutan
Kutemui peronda-peronda: bila menemukan kekasihku, katakanlah, sakit asmara aku!
Gubahan: Yulius La Dossa
19 Juli 2011

0 komentar:
Posting Komentar