Kesan Bukan Kenyataan (Yulius La Dossa)

Selasa, 30 Agustus 2011

Mencari Ilahi Lewat Puisi


Judul Buku: Tuhan Adalah Perkara (Antologi Puisi)
Penulis      : Yulius La Dossa
Penerbit    : CV. Bina Niaga Jaya-ALINEA (Bengkel Penulis Fiksi & Nonfiksi), Tangerang
Cetakan    : Cetakan Pertama, Maret 2006

 
Tuhan,
Tuhan memang keterlaluan. Terlalu misterius.
Tuhan adalah persoalan yang dipersoalkan sebagai soal yang mempersoalkan (?)
Tuhanmu.
Tuhanku.
Tuhanku juga.


Semuanya bebas datang dan pergi dalam sastra. Semuanya bebas bercerita mengungkapkan segala rasa, apa pun media dan sarananya. Begitu pula dalam sastra.

Sepenggal puisi di atas juga salah satu ungkapan rasa dan ekspresi jiwa atas pencarian sang penyair akan sosok Tuhan yang dirindukan. Dan ekspresi itu terungkap dalam kumpulan puisi (antologi) “Tuhan Adalah Perkara” oleh Yulius La Dossa, penyair kelahiran Sumatera Utara yang juga seorang wartawan. Sebuah antologi karya sastra puisi ini mengalir mengikuti perjalanan hidup dan pengalaman spiritual penulis dalam mencari jalan illahi seperti yang diungkapkan dalam pengantarnya. Hasrat membukukannya timbul tatkala penulis mengalami pergumulan, rindu menggapai belas kasih Sang Khalik.
Berbicara puisi, penikmat puisi asal Madura, D.Zamawi Imron, mengungkapkan bahwa puisi adalah bentuk pengalaman atau sejarah yang dibahasakan. Setiap orang akan mengalami hal itu.
Memang benar. Apa pun bentuk pergolakan-pergolakan dalam jiwa, ada hal yang sangat perlu dihargai dengan penuh apresiasi. Karena itu merupakan bagian dari pengalaman dan perjalanan hidup. Dan semua orang memiliki bagian-bagian tersebut, termasuk Yulius La Dossa.
Tapi terlepas dari apa makna di balik pengalaman hidupnya, partisipasi karyanya dalam dunia sastra tak diragukan. Penulis yang berlatar belakang seorang wartawan ini setidaknya sudah melengkapi warna-warna sastra puisi yang telah dahulu lahir. Sekalipun tidak baru. Ratusan bahkan ribuan karya-karya puisi yang telah dipublikasikan. Entah dalam berbagai media ataupun dalam bentuk buku. Karya Yulius La Dossa ini bisa dibilang generasi-generasi Chairil Anwar yang lahir kembali. Semuanya tampak alami tanpa meninggalkan jejak kepuitisan yang multi tafsir bagi semua penikmat atau pembaca.
<!--more-->
Antologi Puisi “Tuhan Adalah Perkara”, tulisnya dalam pengantar, meminjam kalimat Zamawi Imron, diluncurkan agar tidak mubazir atau hanya bicara sendiri dalam map atau laci. Puisi sebaiknya tak boleh sembunyi, sekalipun penerbitan sastra dan minat masyarakat terhadap sastra masih terasa lemah. Ia merupakan bagian dari denyut hidup yang tak boleh hilang. Ia mungkin bukan sejarah, tapi bisa menyejarah karena sempat dikekalkan penyairnya ke dalam antologi puisi, ungkapnya lagi meminjam apresiasi Zamawi.
Itulah mungkin alasan jelas yang bisa ditangkap mengapa karya antologi ini lahir. Puisi-puisi yang tertuang dalam antologi ini merupakan sebuah repertoar pengalaman hidupnya, bahkan fakta-fakta sosial yang sempat terekam jiwanya kemudian menggugah naluri kepenyairannya. Ini terjadi dalam kurun waktu pergulatan selama 20 tahun (1986-2006). Di sana ada pergolakan, pencarian, protes, bahkan kerinduan akan keadilan-keadilan Tuhan. Seperti puisinya “Menggoda Tuhan”, Sebelum petinju Ellyas Pical jatuh di tangan Pollanco 15 Februari 1986, sore itu engkau ada di mana?/ Bukankah sejarah sudah terjadi?/ Engkau mengejar aku membakar diri, dan/ tinta hatimu tumpah menodai baju tidurku?
Tapi kadang dalam karya lainnya, layaknya sebuah tulisan, ia pun suka mengutip penggalan syair penyair ternama yang kebetulan sreg dengan ekspresi jiwanya dalam bersyair.  Dan hal ini yang kadang mengganggu aliran jiwa yang ingin diekspresikan. Seakan begitu memaksa. Tapi ini yang membuatnya begitu berbeda. Dan ekspresinya tertuang dalam puisi utamanya “Tuhan Adalah Perkara”. “Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, tetapi buah alpukat...,” kata Taufiq Ismail dalam sajak Ladang Jagung-nya; (bersandar pada konsep berandai-andai, Pen)./ “Tuhan tidak melempar dadu!” tukas Albert Einstein pada kurun waktu yang berbeda (dengan nada pasti, Pen)/ Ya, tetapi juga... (Pen), “Kalau Tuhan Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut,” ujar seorang murid Andi Hakim Nasution (melempar renungan lain, Pen).
Puisinya yang bernuansa kritik sosial pun tak lepas dari bagian antologinya. Seperti puisinya “Tempo Memasung Kebebasan”. Terlalu hitam putih memang. Namun lontaran kata ini terinspirasi atas latar belakangnya sebagai wartawan. Layaknya hasil reportase berwarna sastra. Sim salabim/ Tempo dibredel/ Sim salabim/ Tempo mati/ Sim salabim/ Atas nama stabilitas nasional/ SK 124 SK 125 menghantam tetangga Tempo/ Editor digodot/ Detik dicekik/ Sim salabim/ “Siapa Lagi yang berani?” batin ‘Ngkoh Ato.
Kadang juga dengan bahasa-bahasa yang cukup vulgar. Seperti “Ketika Selingkuh Tinggal Ampas”. Kembara/ Engkau Menang/ Kebersamaan kita adalah onani/ Kembalilah/ Cukup kemabukan berakhir di sini/ dan sebuah hidup terbunuh kemarin.
Bahkan suara-suara protesnya pada Tuhan tak pelak ia lepaskan. Puisinya “Kambing Hitam” salah satunya. Tapi saya lebih cenderung mengkategorikan ini sebagai prosa. Ambil saja bait pertamanya, Tuhan selalu bikin saya marah. Tadi pagi si sulung mandi air comberan. Ia didorong anak tetangga masuk selokan. Saya kesal kepada-Nya. Mengapa si Yudi dibiarkan memukul anakku?
Begitulah puisi. Ia hanya hanya menjadi budak ekspresi bebas sang penyair. “Penyair hanya ingin berkabar...,” ungkap Taufiq Ismail dalam salah satu sajaknya. Dan seni apa pun genre-nya adalah manifestasi emosi atau bahkan emosi yang dilipatgandakan. Seni adalah ekspresi seniman. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Eugeune Veron lebih dari dua abad lalu. Maka sekali lagi, buku antologi puisi “Tuhan Adalah Perkara” setebal 56 halaman ini bukan sebuah dokumentasi sastra belaka. Tapi lebih jauh dari itu merupakan jejak sejarah antara penyair dan syair, seni dan seniman. Semuanya tak akan pernah bisa terpisah.
(Sumber: http://ruangsunyi.multiply.com/reviews, Jan 2, '09 4:47 AM)

0 komentar: